Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Syahganda: Revolusi Putih Prabowo Hadirkan Kesejahteraan Peternak Pedesaan

LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Jumat, 06 Juni 2014, 15:57 WIB
Syahganda: Revolusi Putih Prabowo Hadirkan Kesejahteraan Peternak Pedesaan
Syahganda Nainggolan/net
Revolusi Putih yang digagas Capres Prabowo Subianto tidak hanya penting untuk meningkatkan asupan gizi dan protein anak-anak Indonesia. Lebih jauh, revolusi putih memberikan dampak pengganda (multiplier effect) berupa insentif ekonomi ataupun menghadirkan kesejahteraan bagi para peternak di pedesaan.

"Secara nyata, revolusi putih akan meningkatkan permintaan susu segar, sehingga mendorong peningkatan produksi susu sekaligus mendongkrak pendapatan peternak dan kemudian dapat mewujudkan tingkat kesejahteraan di sekitarnya," ujar Syahganda Nainggolan, Ketua Dewan Direktur Lembaga Kajian Publik Sabang-Merauke Circle (SMC) di Jakarta, Jumat (6/6/2014.

Dikatakan, Revolusi Putih adalah gerakan masif program Prabowo untuk mendobrak rendahnya konsumsi susu segar masyarakat Indonesia. Disebut Revolusi Putih, hal itu merujuk pada warna susu segar yang berwarna putih.

Sedangkan inti dari gerakan ini adalah menyediakan susu segar untuk dikonsumsi langsung oleh anak-anak dari keluarga miskin di daerah miskin dan tertinggal secara massal, konsisten, dan berkelanjutan, dengan dukungan dari semua pihak.

Menurut Syahganda, Revolusi Putih tentu saja dipicu oleh keprihatinan Prabowo terhadap rendahnya konsumsi susu pada masyarakat Indonesia. Dibandingkan negara-negara di Asia Tenggara serta Asia umumnya, tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia masih sangat rendah dan bahkan terendah.

Ia melanjutnya, mengutip data Tetra Park (2007), tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia hanya mencapai 7,7 liter per kapita per tahun. Lebih rendah dari Vietnam dan Filipina, yang tingkat konsumsi susunya mencapai masing-masing 8,5 dan 11 liter per kapita per tahun. Untuk Thailand dan Malaysia lebih hebat. Saat ini, kedua negara tersebut sudah berhasil mencapai tingkat konsumsi susu sekitar 25 liter per kapita per tahun.

"Tetapi, tingkat konsumsi susu tertinggi di Asia dipegang India, yang mencapai 45 liter per kapita per tahun atau sekitar 125 ml susu per hari atau setara segelas susu setiap hari," kata kandidat doktor ilmu kesejahteraan sosial Universitas Indonesia ini.

Pada sisi lain, menilik besarnya manfaat susu dalam menentukan kesehatan dan kecerdasan anak, juga untuk menentukan pertumbuhan otak sejak anak-anak dalam kandungan, gerakan revolusi putih jelas patut didukung agar bisa terwujud.

Diungkapkan, terkait konsumsi susu di Indonesia, saat ini juga terdapat fakta dominannya susu olahan yang kualitas dan kadar proteinnya jauh lebih rendah dibanding susu segar. Hampir 70 persen konsumsi susu Indonesia didominasi oleh jenis susu formula dan susu kental manis.

"Hanya sekitar 13-15 persen saja konsumsi susu masyarakat Indonesia dalam bentuk susu segar," tegasnya.

Sudah begitu, harga susu olahan, susu formula, dan susu kental manis lebih mahal dibandingkan susu segar. "Padahal, konsumsi susu dalam bentuk susu segar jauh lebih bergizi, lebih sehat, dan lebih terjangkau," tambahnya.

Syahganda menyebutkan, di tingkat implementasi, Prabowo seperti tertuang dalam visi misinya telah menjelaskan Revolusi Putih dapat didisain dalam berbagai model atau alternatif. Mulai dari bantuan sosial, gerakan sosial, program kepedulian sosial dan pengembangan hidup masyarakat, hingga gerakan masyarakat independen.

"Yang pasti, jika Revolusi Putih terlaksana, dampaknya akan sangat masif dan besar bagi perekonomian nasional secara keseluruhan," aku Syahganda, yang juga Anggota Dewan Pengarah Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB) Pusat itu. [rus]
EDITOR:

ARTIKEL LAINNYA