Kaum Siap Pesta Versus Retorik Tanpa Militansi

Senin, 03 September 2018, 18:52 WIB | Oleh: Arief Gunawan

Jokowi-Ma'ruf/Net

KALAU Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf dilukiskan sebagai kumpulan orang yang bersiap untuk "kembali melanjutkan pesta," maka kubu Prabowo-Sandi, meski figur-figur elitnya belum sepenuhnya terlihat, diilustrasikan sebagai kumpulan orang yang mendukung baru sebatas retorika belaka.

Kubu Jokowi-Maaruf memang siap "pesta meriah" jilid dua setelah "pesta rente" jilid pertama, sedang kaum kubu Prabowo-Sandi dipaksa siap cuci piringnya kalau menang Pilpres 2019.

Meski situasi dan kondisi lapangan sangat memungkinkan kubu Prabowo-Sandi memenangkan pertarungan akibat adanya komplikasi persoalan yang semakin rawan terutama persoalan perekonomian nasional yang kian parah dan tidak berdayanya tim ekonomi di kabinet petahana namun banyak yang menilai cara-cara yang ditempuh oleh kubu Prabowo-Sandi sejauh ini terkesan malah menjauhi kemenangan.

Yang dimaksud kubu Prabowo-Sandi dalam tulisan ini adalah orang-orang di sekitar Prabowo-Sandi plus partai-partai politik koalisi pendukung.

Di zaman pergerakan dulu para pemuda yang berjuang untuk kemerdekaan terbagi dalam tiga golongan; pemuda militan, pemuda radikal, dan pemuda revolusioner. Esensinya ketiga kelompok pemuda ini berjuang dengan totalitas, inisiatif, fokus, dan setia pada garis perjuangan untuk mencapai kemenangan.

Setelah kalah dalam pilpres sebelumnya karakteristik ideal seperti ini yang seharusnya terlihat ternyata belum juga nampak di kubu Prabowo hari ini.

Soal-soal mendasar seperti ini penting untuk bekal berhadapan dengan petahana yang lebih memiliki/menguasai berbagai perangkat dan sumber daya untuk memenangkan pertarungan pilpres.

Kubu Prabowo-Sandi bersama partai koalisinya (PKS, PAN, Demokrat, dan Gerindra) sejauh ini belum terlihat oleh publik sebagai tim problem solver atas berbagai persoalan yang sedang dihadapi bangsa saat ini.

Sementara itu, di internal koalisi mesin politik PKS dan PAN ada kemungkinan juga tidak akan optimal memenangkan Prabowo-Sandi. Mereka akan cenderung fokus pada perolehan kursi legislatif masing-masing. Mengingat pilpres dan pileg dilaksanakan secara bersamaan April 2019. PKS dan PAN juga memiliki catatan sebagai partai yang licin saat critical moment kerap bermanuver terhadap Prabowo.

Ada kemungkinan Partai Demokrat yang bakal all out memenangkan Prabowo-Sandi. Karena selain misi mendongkrak perolehan kursi legislatif, Demokrat juga bawa misi keluarga Cikeas yaitu mendudukkan AHY jadi menteri kalau Prabowo-Sandi menang. Demi untuk modal AHY ikut kontes Pilpres 2024.

Fakta lain adalah Prabowo-Sandi rawan kalah di Pulau Jawa. Terutama di Banten, Jawa Tengah dan Jawa Timur, bukan berarti unggul di Jawa Barat. Tiga provinsi di atas merupakan wilayah dengan basis dukungan terhadap PDI Perjuangan.

Hal lain yang juga sangat penting bagi image tim Prabowo-Sandi, kubu ini jangan menampung gerbong figur-figur yang tidak jelas prestasi dan reputasinya terhadap rakyat. Apalagi figur-figur post power syndrome yang sekadar ingin ikut-ikutan berkuasa jika menang tanpa konsepsi yang benar-benar berpijak pada pembelaan terhadap kepentingan rakyat. Atau sekedar figur-figur ABS (Asal Bapak Senang) tanpa kemampuan operational leadership, tanpa keberanian membela rakyat.

Kritik kubu Prabowo-Sandi terhadap persoalan perekonomian yang semakin terpuruk seperti saat ini harus disertai dengan solusi yang konkret, out of the box, memberikan efek langsung kepada rakyat. Serta harus ada keberanian yang jelas mengubah jalan ekonomi sesat yang selama ini dianut negeri ini yaitu jalan sesat perekonomian neoliberal yang hanya menguntungkan asing dan aseng serta segelintir orang yang hidup makmur dari hasil menghisap tenaga dan keringat rakyat kecil yang merupakan mayoritas penduduk Nusantara. [***]

Penulis adalah wartawan senior
Editor:

Kolom Komentar


loading