Kasus Korupsi Jadi Daya Rusak Terbesar Elektabilitas Partai Golkar

Rabu, 12 September 2018, 14:55 WIB | Laporan: Arif Hidayat

Adjie Alfaraby/RMOL

Kasus korupsi yang dilakukan para kader Partai Golkar sangat mempengaruhi elektabilitas partai di masyarakat. Bahkan, korupsi dinilai sebagai daya rusak besar bagi keterpilihan Golkar di Pilpres 2019.

Begitu kata Peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby saat rilis hasil survei terkait perubahan dukungan partai menjelang tahun 2019 di Kantor LSI Denny JA, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (12/9).

Meski memiliki daya rusak, menurut Adjie Golkar bisa mengantisipasi dengan dua cara, yaitu dengan memaksimalkan mesin-mesin partai dan membuat gebrakan isu baru guna mendobrak citra positifnya di masyarakat.

"Kalau tidak ada itu maka akan sulit bagi Golkar dalam menghadapi Pemilu 2019," ujarnya.

Seperti diketahui, Golkar sedang terusik dengan sejumlah kasus korupsi yang menyeret para kadernya. Kasus-kasus itu antara lain, suap proyek pengadaan korupsi KTP-el, suap pembangunan PLTU Riau-1 dan suap proyek satelit monitor Bakamla.

Pada kasus KTP-el, mantan Ketua Umum Golkar Setya Novanto sudah menjadi terdakwa dan menjalankan putusan 15 tahun penjara di Lapas Sukamiskin Bandung. Sedangkan untuk kasus PLTU Riau-1, ada dua kader Golkar yang telah ditetapkan sebagai tersangkanya, yakni Eni Maulani Saragih dan Idrus Marham. Keduanya juga telah menjadi tahanan KPK. Untuk kasus satelit monitor Bakamla menyeret Ketua DPD DKI Jakarta  Fayakhun Andriadi. [nes]

Editor:

Kolom Komentar