Survei LSI: Pengaruh Seruan Rizieq Shihab Mulai Berkurang

Rizieq Shihab/Net

Ketokohan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab mengalami penurunan drastis jika dibandingkan dua tahun yang lalu.

Hal tersebut tercermin dari hasil survei terbaru yang dirilis Lingkaran Survei Indonesia (LSI).

Peneliti LSI, Ikrama Masloman menjelaskan, ketokohan dari Habib Rizieq mengalami penurunan pada tingkat kesukaan dan pengaruh seruannya didengar publik.

"Habib Rizieq adalah ulama yang ketokohannya mulai menurun jika dibandingkan dengan survei yang sama oleh LSI dua tahun lalu," katanya dalam konferensi pers di Kantor LSI Denny JA, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (14/11).

Dari segi popularitas, Rizieq Shihab yang kini berada di Mekkah mengalami peningkatan. Pada Desember tahun 2016 lalu, tingkat pengenalan masyarakat terhadapnya hanya 48,7 persen. Sementara saat ini, sebanyak 53,4 persen responden telah mengenal Rizieq Shihab.

"Popularitas Habib Rizieq cenderung naik," tandasnya.

Meski popularitasnya naik, namun Habib Rizieq mengalami penurunan pada tingkat akseptabilitas dan kemampuan mempengaruhi pemilih.

Sebab, pada survei LSI Denny JA pada Desember 2016 lalu, pemilih yang menyatakan suka dengan Habib Rizieq sebesar 67,3 persen. Tapi saat ini, mereka yang menyatakan suka terhadap Habib Rizieq menurun menjadi 52,9 persen.

"Tingkat pengaruhnya juga mulai menurun. Pada Desember 2016, mereka yang menyatakan mendengar imbaun Habib Rizieq sebesar 31,4 persen. Saat ini, Oktober 2018, mereka yang menyatakan mendengar himbaun Habib Rizieq terkoreksi separuhnya yaitu hanya sebesar 17 persen," ungkapnya.

Menurunnya tingkat akseptabilitas dan kemampuan mempengaruhi pemilih menurut dia karena Habib Rizieq banyak dihadapkan dengan masalah hukum.

"Karena pada Desember 2016 Habib Rizieq masih berada di Indonesia dan punya masalah hukum," pungkasnya.

Survei dengan tema "Ulama dan Efek Elektoralnya" ini dilakukan pada 10 sampai 19 Oktober lalu. Survei melibatkan 1.200 responden, yang dipilih dengan metode multistage random sampling.

Wawancara dilakukan dengan cara tatap muka dengan menggunakan kuisioner. Margin of error survei kurang lebih 2,8 persen. [ian]

Kolom Komentar