Saat Mega Gaet Hasyim, NU Tidak Terlalu Ekstrim Ditarik-tarik Seperti Sekarang

Rabu, 27 Februari 2019, 16:58 WIB | Laporan: Ahmad Kiflan Wakik

Pengamat politik, Adi Prayitno/RMOL

. Posisi Nahdlatul Ulama pada Pemilihan Presiden 2019 sangat terasa ditarik-tarik ke pusaran politik praktis.

Yaitu, bermula saat Presiden petahana Joko Widodo menggaet Rais Aam PBNU, Maruf Amin sebagai calon wakil presiden.

"NU selama ini banyak menjaga jarak dengan kekuasaan," ujar pengamat politik, Adi Prayitno kepada Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (27/2).

Adi memberikan perbandingan saat Pilpres 2004 silam. Saat itu, tokoh NU Hasyim Muzadi didaulat maju menjadi pendamping Megawati Soekarnoputri.

"Waktu Pak Hasyim Muzadi waktu dia menjadi wakilnya Mbak Mega, NU kan tidak sejauh ini tarikan politiknya, tidak terlampau ekstrim juga," ungkapnya.

Tetapi, saat Jokowi menarik Maruf sebagai cawapres, seolah-olah dia juga menjadikan NU sebagai pengeruk suara.

Lebih ekstrimnya lagi, menjelang Pilpres kali ini, sudah banyak bermunculan narasi bahwa memenangkan Jokowi-Maruf adalah memenangkan NU.

"Asosiasi Kiai Maruf sebagai representasi kepentingan politik NU ini sangat kuat," tukas Adi. ***

Kolom Komentar