Farah.ID
Farah.ID

Pilpres Sudah Jenuh Di Udara Tapi Masih Kosong Di Darat

LAPORAN: WAHYU SABDA KUNCAHYO
  • Kamis, 28 Februari 2019, 21:39 WIB
Pilpres Sudah Jenuh Di Udara Tapi Masih Kosong Di Darat
Ilustrasi/Net
Hajatan Pilpres 2019 tinggal menghitung hari. Perang opini dan strategi di segala lini, baik udara maupun darat sudah mulai dilaksanakan.

Ada lini yang sudah terlihat mencapai titik jenuh hanya sekadar riuh tapi orangnya hanya itu-itu saja. Sebaran informasinya juga hanya berputar di orang-orang yang itu-itu juga. Namun ada yang sebaliknya, secara wilayah sangat luas, populasinya sangat banyak, tapi belum disentuh secara optimal, bahkan jauh dari optimal.

CEO Cyrus Network Hasan Nasbi menjelaskan, hasil survei terbaru pihaknya memperlihatkan bahwa hanya sekitar 40 persen pemilih yang terkoneksi dengan informasi di tangan. Baik itu media sosial maupun aplikasi pesan berantai seperti WhatsApp dan Line. Sisanya 60 persen populasi belum bersentuhan dengan sumber-sumber informasi.

Facebook dan WhatsApp menjadi dua media sosialisasi paling powerful sejauh ini. Facebook diakses 32 persen populasi dan WhatsApp dimiliki oleh 33 persen populasi pemilih. Sementara Twitter yang tampaknya selalu paling heboh hanya diakses oleh empat persen populasi saja.

"Kampanye politik di media sosial memang terlihat ramai dan panas, begitu juga di pesan berantai. Tapi populasi orang yang terlibat tidak berkembang dan jenuh. Hanya 40 persen pengguna Facebook yang mengaku aktif menyebar pesan politik di Facebook. Begitu pula WhatsApp, hanya 28 persen dari pengguna WhatsApp yang mengaku aktif menyebar pesan politik di aplikasinya. Sisanya, sudah tidak melakukan dan tidak peduli lagi," beber Hasan dalam jumpa pers di Hotel Akmani, Jakarta, Kamis (28/2).

Menurutnya, setelah kira-kira hampir lima tahun tensi politik yang amat tinggi, ternyata tidak sampai 50 persen pengguna media sosial ataupun aplikasi pesan yang terlibat secara aktif menyebarkan pesan-pesan politik. Begitu juga yang berpartisipasi aktif untuk meluruskan hoax dan fitnah yang bertebaran melalui. Hanya sekian persen yang aktif meluruskan, sisanya cenderung apatis, membiarkan atau tidak peduli sama sekali.

"Ini bukti bahwa keriuhan politik di media sosial dan pesan berantai sudah tidak berkembang lagi. Tidak menambah audience atau menambah suara. Hanya sekadar mempertahankan isu saja," kata Hasan.

Temuan survei juga menunjukkan bahwa saat ini pendukung kedua pasangan capres cenderung menyeleksi siapa yang bisa berteman dan berinteraksi dengan mereka. Sebanyak 77 persen pendukung Jokowi-Maruf menyatakan teman-temannya di media sosial maupun aplikasi pesan adalah sesama pendukung. Begitu juga dengan pendukung Prabowo-Sandi, di mana 74 persen mereka juga merasa lebih banyak bersama-sama dengan yang seaspirasi di media sosial maupun aplikasi perpesanan.

"Terlihat orang yang aktif di media sosial merasa kelompoknya ini yang paling dominan," ujar Hasan.

Selain itu, baru sekitar 12 persen responden yang merasa ada kegiatan tim sukses Jokowi-Maruf di daerah mereka. Sementara baru sekitar 6,5 persen responden yang merasa ada kegiatan Prabowo-Sandi di daerah mereka.

Begitu juga dengan kunjungan relawan door to door, baru sebesar 10 persen responden yang merasa dikunjungi oleh relawan capres Jokowi-Maruf, dan 6 persen yang dikunjungi relawan Prabowo-Sandi.

Menurut Hasan, data itu masih menyisakan begitu banyak ruang kosong yang bisa dioptimalkan. Padahal efektifitas kunjungan dan kegiatan darat tampak sangat tinggi. Di mana, 73 persen orang yang merasa pernah dikunjungi relawan Jokowi-Maruf mengaku akan memilih capres tersebut. Begitu juga 56 persen responden yang pernah dikunjungi relawan capres Prabowo-Sandi mengaku akan memilih pasangan itu.

"Sungguh disayangkan kerja dari tim pemenangan kedua pasang calon justru belum menyentuh ceruk terbesar dari proporsi pemilih yang ada. Pekerjaan rumah terbesar dan terpenting bagi kedua tim sukses ke depannya justru memaksimalkan ceruk perang darat ini," imbuh Hasan. ***
EDITOR:

ARTIKEL LAINNYA