Peneliti Anggap Prabowo Tidak Paham Soal Freeport

Senin, 01 April 2019, 06:51 WIB | Laporan: Azairus Adlu

Prabowo Subianto/Net

Peneliti Alpha Research Database, Ferdy Hasiman menilai capres 02, Prabowo Subianto tidak faham soal economic interest 81.21 persen Freeport. Hal itu ia sampaikan mengomentari pernyataan Prabowo dalam sesi debat keempat, pada Sabtu (30/3).

Kata Ferdy, Prabowo tidak cermat soal Freeport. Beberapa hari setelah divestasi saham Freeport Indonesia, induk usahanya, Freeport McmoRRan melaporkan kepada pemegang saham di bursa New York Stock Exchange (NSE).

Kata dia, dalam laporan itu, Freeport McmoRRan melaporkan, dari proses final kesepakatan dengan pemerintah Indonesia, FCX mendapat 81.28 persen Economic Interest dari proses itu.  

"Perhitungan Economic Interest ini tentu adalah perhitungan ekonomi korporasi yang sangat kompleks dan detail. Ketika penulis mengkonfirmasi ini kepada Freeport Indonesia (14/1), Riza Pratama, Juru Bicara Freeport mengatakan, itu adalah perhitungan Freeport McmoRRan, Freeport Indonesia tak mengeluarkan perhitungan itu," ujar Ferdy dalam keterangan persnya, Senin (1/4).

Dia melanjutkan, Freeport McmoRRan hanya melaporkan itu untuk meyakinkan investor strategicnya bahwa perusahaan itu masih menerima keuntungan secara korporasi dari pertambangan Grasberg.

Ferdy, mengatakan, itu bukan perhitungan terkait, dividen atau penerimaan negara. Perhitungan Economic Interest adalah perhitungan tersendiri dari Freeport McmoRRan. Tidak terkait keuntungan yang diterima.  

"Ini tentu perlu menjadi catatan. Perhitungan Economic Interest itu hanya masuk dalam perhitungan Freeport McmoRRan untuk dilaporkan kepada pemegang saham. Perhitungan itu tidak masuk dalam IUPK yang dibuat pemerintah," kata dia.

Pihak Freeport McmoRRan juga, lanjut dia, meminta pemerintah Indonesia untuk menghormati Kontrak Karya Freeport dan Rio Tinto yang berlaku sampai tahun 2021. Dengan itu, usai berlakunya Economic Interest yang mencapai angka 81.28 persen itu hanya tiga tahun saja.

"Sudah dikatakan dalam bagian terdahulu bahwa Rio Tinto mengontrol 40 persen PI atau menguasai 40 persen produksi tembaga dan emas Grasberg, sementara Freeport hanya menguasai 60 persen produksi sampai 2022," kata dia.

Yang perlu dicatat adalah tambang open-pit hanyalah 7 persen dari total cadangan Freeport. Cadangan terbesar sebesar 93 persen tambang Grasberg ada di tambang underground, mencakup wilayah Kucing Liar, Grasbreg Open-pit, DOZ Block Cave, Big Gosan, Grasberg Blok Cave dan DMLZ Block Cave.

"Sampai tahun 2017, cadangan terbukti dan terkira di Grasberg sebesar 38,8 miliar pound tembaga, 33,9 juta ons emas, dan 153,1 juta ons perak," kata dia.

Dengan begitu, sudah sangat tepat, bila pemerintah dan Inalum membeli saham Freeport saat ini.

"Mumpung produksinya masih turun, karena harga saham ikut turun. Inalum tidak menggunakan perhitungan aset dalam membeli saham Freeport. Jika memakai perhitungan aset, tentu sangat mahal," kata dia.

Inalum, kata dia, tentu memakai mekanisme discounted cash flow berdasarkan nilai buku saat ini dan apa yang diharapkan di masa depan. Produksi Freeport di Grasberg yang mengalami penurunan tahun 2019-2021 tentu akan menurunkan harga saham.
Editor: Azairus Adlu

Kolom Komentar


loading