Eggi Sudjana, Islam dan Buruh

Sabtu, 18 Mei 2019, 18:48 WIB | Oleh: DR. Syahganda Nainggolan

Eggi Sudjana/Net

EGGI Sudjana seperti musuh negara.

Rezim Jokowi sudah menangkapnya. Sudah hampir seminggu ini Eggi di sel sempit bersama tahanan narkoba dan penjahat kriminal.

Eggi kini semakin tua. Banyak orang mungkin sudah kehilangan jejak siapakah Eggi Sudjana.

Di masa masa mudanya Eggi adalah lelaki pemberani. Dia selalu mengatakan pada saya bahwa cita-citanya adalah menjadi presiden di Republik Indonesia.

Hanya dua orang Sunda yang saya dengar ingin jadi Presiden. Yang kedua adalah Jumhur Hidayat.

Cita-cita ini diungkapkan Eggi dan Jumhur karena mereka tidak ingin ada aturan tidak tertulis bahwa hanya orang Jawa yang boleh jadi presiden. Padahal jumlah orang Sunda lebih banyak dari orang Jawa Tengah ataupun Jawa Timur.

Cita-cita harus dibangun dengan kerja keras. Hal ini dilakukan Eggi selama masa mudanya. Di mulai dari masa mahasiswa, di Universitas Jayabaya, Eggi membangun aktifitas kemahasiwaan.

Saat itu masa rezim Suharto yang kejam.  Eggi berhasil menggerakkan perlawanan mahasiswa Jayabaya sehingga di era 1980an mahasiswa Jayabaya mendominasi gerakan aktifis di Jakarta, setidaknya setara dengan universitas nasional.

Pada era 1980an itu Eggi menjadi fenomenal karena dia berhasil mendirikan HMI MPO (Himpunan Mahasiswa Islam-Majelis Penyelamat Organisasi).

HMI MPO didirikan Eggi untuk menyelamatkan azas Islam yang dimiliki HMI. Kala itu Suharto memaksa seluruh organisasi harus berazaskan Pancasila.

Hampir semua organisasi kemasyarkatan menolak. Untuk ideologi Pancasila semua sepakat. Namun azas organisasi seharusnya tidak perlu diseragamkan.

Hanya Eggi Sudjana lah pemuda pemberani yang melawan Suharto soal itu. Keberanian Eggi ini disambut kelompok oposisi Petisi 50, kelompok jenderal dan tokoh-tokoh bangsa anti Suharto.

Kehadiran Eggi Sudjana sepanjang era 1980an sampai 1990an menginspirasi gerakan Islam militan. Di lingkungan kampus, Anies Baswedan yang saat ini Gubernur DKI Jakarta, ketika mahasiswa, misalnya, adalah sosok yang terinspirasi Eggi Sudjana. Anis pernah menjadi ketua HMI MPO.

Di akhir era 1990an, menjelang Suharto jatuh, berbagai tokoh buruh mendatangi Eggi untuk meminta Eggi mengilhami gerakan Islam di lingkungan buruh.  Kebanyakan mereka gelisah karena terminologi gerakan buruh selalu dikaitkan dengan gerakan kiri maupun komunisme. Padahal sejatinya buruh bergerak agar mereka bisa lebih sejahtera.

Eggi kemudian mendirikan Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI) bersama tokoh-tokoh buruh senior dan kalangan aktifis mahasiswa.

Dengan hadirnya PPMI di lingkungan gerakan buruh Eggi telah menterjemahkan spirit dan ajaran Islam dalam gerakan buruh.

Sabda Nabi Muhammad, “Bayarlah upah buruh sebelum keringatnya kering” dijadikan Eggi sebagai rujukan bahwa ajaran Islam tentang menghormati buruh sangat fundamental.

Eggi kemudian mengisi gerakan buruh,  bukan saja menuntut hak-hak terkait upah yang bersifat material, melainkan juga hak-hak buruh untuk beribadah, seperti waktu shalat, keberadaan masjid di lingkungan pabrik, hak berpuasa dan THR, potong Qurban bersama di pabrik, dll.

Tentu saja pemilik pabrik yang kebanyakan non Muslim merasa gerakan buruh versi Eggi Sudjana lebih menakutkan daripada gerakan buruh nasionalis.

Islamisasi dikalangan pabrik dapat menyebabkan persaudaraan buruh sebagai ancaman perusahaan. Hal ini membuat di banyak pabrik PPMI dihalang-halangi.

Namun, namanya Eggi Sudjana tidak pernah menyerah. Serikat Buruh PPMI sempat berkembang pesat di berbagai kota industri,  baik di Jawa, maupun luar Jawa.

Sekarang Eggi semakin menua. Pikiran Eggi yang militan tidak berhenti dengan usianya yang terus menua.

Sesungguhnya yang lebih berbahaya dari diri Eggi adalah soal keberanian. Jika menyangkut kecurangan dan kejaliman,  Eggi selalu bereaksi lebih cepat dari siapapun. Ini Eggi pernah menceritakan pada saya,  khas orang Sumedang.

Seperti dulu juga Ali Sadikin atau sekarang yang lebih muda Jumhur Hidayat. Tapi reaksi terlalu cepat membuat Eggi jadi incaran rezim.

Tentu saja Eggi memang harus menikmati penjara. Karena semua aktifis hebat itu harus pernah dipenjara. Berkali-kali di masa Suharto, Eggi dipanggil intelijen militer. Namun sebagai ahli hukum Eggi bisa berkelit atau berargumentasi, lalu bebas.

Di rezim ini, Eggi menemukan takdirnya: dipenjara. (Alhamdulillah ketika Idrus Marham, Anas Urbaningrum, dll aktifis pro Suharto dulu dipenjara karena korupsi,  Eggi tetap dipenjara karena perjuangan melawan rezim curang.)

Berapa lamakah Eggi harus tinggal di penjara?

Lama tidaknya Eggi dipenjara tergantung kegigihan kita mengatakan tidak pada rezim ini. Kita harus mengatakan bahwa penangkapan-penangkapan lawan politik bukanlah cara beradab dalam demokrasi. Apalagi soal istilah makar sudah banyak dipersoalkan masyarakat sipil (civil society).

Akhir kata, itulah Eggi. Berjuang untuk Islam, Buruh dan Demokrasi. Mudah-mudahan umur panjang biar cita-citanya menjadi Presiden Indonesia tercapai.

Salam.

Penulis adalah Direktur Eksekutif Sabang Merauke Circle

Kolom Komentar