Semiotika Solid Bergerak PDIP Untuk Indonesia Raya

Sabtu, 10 Agustus 2019, 06:24 WIB

Megawati Soekarnoputri saat pembukaan Kongres V PDIP di Bali/Net

DALAM semiotika, seluruh teks adalah bentuk tanda yang dapat dibaca. Tidak terbatas pada teks tertulis, tetapi juga pertautan antara situasi yang terbingkai. Kongres V PDI Perjuangan di Bali menjadi ajang penting untuk melihat peta politik Indonesia di masa mendatang.

Mengapa? Tentu karena PDI Perjuangan adalah partai pemenang Pemilu Legislatif, dus ditambahi dengan kemenangan kadernya di Pemilihan Presiden 2019-2024. Maka penting untuk melihat langkah apa yang akan dipersiapkan, terkait dengan proyeksi gagas politik PDI Perjuangan.

Pidato Ketua Umum PDI Perjuangan dan sambutan dari Presiden Jokowi menandai babak baru politik domestik, sekaligus kancah pergulatan kekuatan politik pasca pemilu, bahkan untuk kawan koalisi.

Megawati dan Jokowi bermain peran di panggung depan. Kita tidak melihat bagaimana panggung belakang dipersiapkan. Sesuai konsep Dramaturgi Goffman, maka kehidupan tidak ubahnya pertunjukan drama.

Susunan skenario telah dipersiapkan. Para aktor memainkan lakon perannya. Alur dalam ceritanya disusun mendaki. Setting suasananya pun dibuat untuk menambah kekuatan pesan yang hendak disampaikan. Penonton bersiap di depan panggung teater. Sementara persiapan matang sudah selesai di belakang panggung.

Jadi meskipun nampak ada jarak dan berbeda, sesungguhnya apa yang tampak belum tentu demikian sebagaimana adanya. Dalam politik tidak ada yang kebetulan, walaupun terjadi yang kebetulan itu, maka hal tersebut telah direncanakan sebelumnya.

Konsolidasi Banteng

Pidato Megawati pada kongres kali ini jelas, disampaikan dengan semi formal dan sangat terbuka. Pada target politik, maka seluruh kader diminta untuk solid dan bersatu menghadapi momentum Pilkada serentak 2020, dan tentu saja mencetak hattrick di 2024.

Maka tema 'Solid Bergerak untuk Indonesia Raya' dimaknai untuk bersatu dan bekerja bersama bagi kemenangan PDI Perjuangan dengan agenda kerakyatan yang dibawanya. Prinsip geraknya keras kuat dan lentur serta fleksibel layaknya logam titanium.

Secara jujur disampaikan pahit getir menjadi oposisi, serta manisnya buah kemenangan. Termasuk memastikan kemenangan bagi Jokowi sebagai kader PDI Perjuangan, untuk memastikan para "Banteng tidak terus menunduk dan merumput" terutama di posisi kantung suara PDI Perjuangan.

Menariknya, Megawati menempatkan Prabowo sebagai tamu spesial. Disebut dalam sambutannya secara khusus. Termasuk menempatkannya di urutan kursi terdepan dan berdekatan. Lebih dari itu, Megawati bahkan tidak menyebutkan spesifik nama ketua partai lain. Khusus menyapa Prabowo dan Ahok yang kini menjadi kader PDI Perjuangan.

Setelah pertemuan MRT antara Jokowi dan Prabowo, yang mengakhiri friksi psikologis pada periode pemilu, maka perjumpaan Megawati dan Prabowo sesudahnya semakin mencairkan suasana. Bisa jadi, kehadiran Prabowo di Kongres PDI Perjuangan bahkan ditempatkan di barisan terdepan menyiratkan fungsi mediasi Megawati. Bisa jadi menjadi bagian koalisi.

Tersebut pula nama Airlangga Hartarto (Ketum Golkar) dan Suharso Monoarfa (Ketum PPP) tetapi sekedar untuk mengingatkan kegagalan penguasaan parlemen di 2014, dengan penyusunan MD3 yang justru memberikan tampuk kekuasaan kepada kubu oposisi dan bukan PDI Perjuangan sebagai pemenang, hingga merasa dikibulin.

Hal tersebut menguatkan pesan bahwa 2019, PDI Perjuangan kembali mengincar posisi strategis di parlemen. Demikian pula dalam susunan kabinet, bahkan tidak mau jika hanya dijatah empat menteri, harus menjadi yang terbanyak. Logika yang sangat sederhana, karena PDI Perjuangan adalah pengusung dan partai asal Jokowi sekaligus pemenang pemilu.

Selebihnya Megawati berbicara tentang ideologi final Pancasila dan bagaimana bangsa ini mampu menguatkan demokrasi Pancasila dalam keberagaman yang dimilikinya.

PDI Perjuangan setelah Jokowi

Keterpilihan kembali Megawati untuk memimpin PDI Perjuangan sebagai ketua umum bukanlah sebuah kejutan. PDI Perjuangan adalah Megawati dan demikian pula sebaliknya. Identifikasi personal melampaui kebesaran partai Banteng tersebut.

Tentu yang akan menarik adalah gerak PDI Perjuangan pada beberapa momentum politik yang akan menjelang, terutama saat penyusunan kabinet dan pembentukan kelembagaan di parlemen. Sambutan Jokowi yang menyatakan tentang rasa terima kasih pada dukungan partainya tersebut seolah menjadi sambutan positif.

Disamping soal pentingnya pembangunan sumber daya manusia dalam menghadapi tantangan perkembangan dunia, Jokowi juga berbicara tentang kabinet, meski seolah tidak merespon soal jumlah, tetapi Jokowi memastikan bila PDI Perjuangan akan mendapatkan jumlah yang terbanyak.

Persoalan ini kini menyandera Jokowi, tuntutan soal zaken kabinet dengan komposisi tenaga profesional berhadapan pada permintaan kavling jatah kursi menteri. PDI Perjuangan memang menjadi yang paling akhir bersuara, sementara rekan sekondan koalisi lain sudah mulai membicarakan hal tersebut jauh-jauh hari.

Maka koalisi tanpa syarat saat mendukung, menjadi penuh dengan syarat ketika kemenangan diraih. Terlebih momentum ini menjadi krusial bagi PDI Perjuangan memastikan dominasi di legislatif serta eksekutif. Terutama bila ditempatkan pada keinginan mencetak hattrick kemenangan dan melanjutkan suksesi pasca Jokowi di periode kedua kekuasaanya.

Relasi Jokowi, Megawati dan PDI Perjuangan merupakan hubungan yang akseleratif. Saling mendukung. Kontribusi PDI Perjuangan sebagai institusi dan Megawati dalam kerangka figur, mendukung keberhasilan Jokowi menapaki jenjang kepemimpinan. Demikian pula sebaliknya, keberhasilan kepemimpinan Jokowi berkontribusi bagi pencapaian PDI Perjuangan.

Problemnya, belum ada figur kandidat setara Jokowi. Kita patut melihat siapa yang tengah dipersiapkan menjadi Banteng dari PDI Perjuangan. Hal itu akan bisa terlihat dalam susunan struktur internal organisasi partai, kabinet atau bahkan di parlemen.

Maka ungkapan bersayap Megawati untuk bertempur kembali di 2024 kepada Prabowo, sekaligus ajakan untuk bersama dengan PDI perjuangan pada momen pemilu berikutnya, bisa jadi sebuah langkah mengukur ombak.

Kepiawaian Megawati untuk memainkan peran kali ini akan menentukan masa depan PDI Perjuangan setelah era Jokowi berakhir.

Yudhi Hertanto
Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid.

Kolom Komentar


Video

Gempa Mamuju, Ustad Das\'ad Latif Nyaris Jadi Korban

Jumat, 15 Januari 2021
Video

Sebelum Mbak You, Arief Poyuono Sudah Ramalkan Kalabendu

Jumat, 15 Januari 2021
Video

BINCANG SEHAT • Memandang Pandemi Dari Kacamata Relawan

Jumat, 15 Januari 2021

Artikel Lainnya

Jika Dilantik, Listyo Sigit Prabowo Akan Tembus Rekor Kapolri Termuda
Politik

Jika Dilantik, Listyo Sigit ..

16 Januari 2021 05:24
Syahrial Nasution: Istana Simbol Keadilan, Bukan Tempat Perlindungan Raffi Ahmad Atas Kecerobohannya
Politik

Syahrial Nasution: Istana Si..

16 Januari 2021 05:10
PKS Ingin Polri Di Bawah Kepemimpinan Listyo Sigit Bisa Saingi KPK
Politik

PKS Ingin Polri Di Bawah Kep..

16 Januari 2021 04:32
Listyo Sigit Calon Kapolri, Pesan Jokowi Gunakan Orang Dekat Untuk Amankan Kekuasaan Makin Kuat
Politik

Listyo Sigit Calon Kapolri, ..

16 Januari 2021 04:06
Hormati Kesimpulan Komnas HAM, Gus Jazil: Polisi Harus Usut Kematian 6 Laskar FPI
Politik

Hormati Kesimpulan Komnas HA..

16 Januari 2021 03:48
Sesuai UU, DPR Bisa Tolak Listyo Sigit Jadi Kapolri Kalau Tidak Setuju
Politik

Sesuai UU, DPR Bisa Tolak Li..

16 Januari 2021 03:40
Habib Ali Assegaf Wafat, AHY: Kita Kehilangan Ulama Yang Nasihatnya Sejukkan Umat
Politik

Habib Ali Assegaf Wafat, AHY..

16 Januari 2021 03:27
Tidak Ingin Polisi Terima Uang Haram, Mardani: Kapolri Jangan Takut Naikkan Anggaran
Politik

Tidak Ingin Polisi Terima Ua..

16 Januari 2021 02:25