Pengamat: Gatot Memang Menggoda, Tapi PAN Jangan Seperti Hanura

Gatot Nurmantyo dan Zulkifli Hasan/Net

Proses pergantian pucuk pimpinan partai politik seharusnya bukan lagi menjadi persoalan bagi Partai Amanat Nasional (PAN) yang bakal menggelar Kongres tahun 2020 mendatang.

Sebagai partai yang telah berdiri belasan tahun, PAN memiliki mekanisme yang sudah menjadi pola atau pattern dalam memilih sosok calon ketua umum.

Namun tak bisa dinafikkan muncul beberapa nama di luar PAN yang dinilai bakal mengatrol suara partai jika dipinang sebagai ketua umum, mulai dari Sandiaga Uno yang belakangan kembali tenggelam hingga sosok Gatot Nurmantyo.

"Pak Gatot Nurmantyo outsider, apakah punya kualifikasi untuk maju, apakah tidak ada kader PAN yang lebih layak? PAN harus hati-hati," kata pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah, Gun Gun Heryanto kepada Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (18/9).

Baginya, PAN sebagai parpol kawakan harus menimbang baik buruknya dalam menentukan sosok ketua umum. Sebab, alih-alih mengatrol suara partai, pemilihan ketua umum justru bisa saja menghancurkan parpol yang saat ini dipimpin Zulkifli Hasan itu.

Gun Gun pun menyinggung pengalaman yang dirasakan oleh partai pecahan Golkar, Hati Nurani Rakyat (Hanura). Sempat berada di papan tengah, Hanura terdepak lantaran konflik ketua umum.

"PAN jangan sampai jumping. Dulu Hanura mengalami problem internal yang mempengaruhi pasar elektoral karena tidak hati-hati dalam pemilihan ketua umum," tegasnya.

"Apakah PAN akan jumping jika menjadikan Gatot ketua umum? Yang tahu PAN sendiri," tambahnya.

Di sisi lain, ia ia tak membantah sosok di luar parpol memang lebih menggiurkan lantaran PAN tengah mengalami krisis figur. Namun ia kembali menegaskan untuk hati-hati.

"PAN sebenarnya punya figur bagus, tapi masih kurang dari sisi elektabilitas. Itu berbeda dengan Gatot yang sudah punya label populer di khalayak. Internal harus mengukur positif negatifnya mengambil calon eksternal," tutupnya.
EDITOR: DIKI TRIANTO

Kolom Komentar