Jokowi Jangan Bicara Revolusi Industri 4.0, Sebelum Indonesia Bisa Produksi Peniti Sendiri

Jokowi diingatkan banyak produk yang beredar di Indonesia berasal dari luar negeri/Net

Revolusi Industri 4.0 dengan digitalisasinya kerap jadi jargon Presiden Joko Widodo dalam setiap kesempatan berpidato. Padahal, hingga saat ini Indonesia masih banyak mengimpor produk "remeh temeh" dari China.

Saat berpidato dalam Rakernas Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) di JCC, Jakarta, Rabu (6/11), Presiden Jokowi mengungkap soal kebijakan impor pacul (cangkul) oleh sejumlah importir dalam negeri. Menurut dia, kebijakan impor cangkul di saat neraca perdagangan nasional yang mengalami defisit tidaklah tepat

"Kangmas Joko Widodo baru sadar setelah lima tahun, kalau cangkul itu ternyata made in import..," ucap Arief Poyuono, melalui keterangan tertulisnya, Kamis malam (7/11).

Lanjut Arief, bukan cuma cangkul yang diimpor. Andai Jokowi mau jalan ke pasar Jatinegara atau Glodok, maka akan tahu bahwa banyak barang-barang yang jadi keseharian masyarakat adalah produk impor.

"Kangmas akan tahu ternyata palu, gelap, tang, peniti, jarum, gunting kuku, korek kuping yang merupakan produk-produk yang tiap hari dipakai masyarakat semuanya ya made in China, Mas," imbuhnya.

"Makanya jangan bicara digitalisasi pendidikan yang digagas Nadiem, atau bicara industri 4.0 atau produksi mobil Esemka Kangmas.. Wong industri kita saja belum mampu memproduksi korek kuping, jarum, peniti, palu, pahat, pacul, sendok garpu, gunting kuku, obeng, dll," sindir Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini.

Menurut Arief, saat ini banyak industri manufakturing yang produknya pasti ada di setiap rumah atau dipakai oleh masyarakat, tapi tidak bisa diproduksi oleh industri manufakturing bangsa Indonesia.

Karena itu, Arief menyarankan untuk kembali menggalakkan industri seperti itu dulu. Setidaknya, kelak Indonesia yang mengekspor peniti, jarum, cangkul, dan lainya. Bukan lagi jadi importir.

Terlebih lagi, industri seperti itu tak butuh teknologi digitalisasi atau masuk katagori industri 4.0 yang butuh robotic. Lagi pula, bahan baku untuk industri ini sangat melimpah di dalam negeri.

"Dengan demikian akan berdampak terbukanya banyak lapangan kerja juga loh Kangmas. Sehingga dengan demikian neraca perdagangan dijamin surplus terus. Dan perekonomian jadi nggak lesu kayak sekarang ini," pungkasnya.  
EDITOR: AGUS DWI

Kolom Komentar


Video

Berstatus Tersangka, Jack Boyd Lapian Jalani Pemeriksaan Perdana Di Bareskrim

Jumat, 03 Juli 2020
Video

Agak Sulit ya Ternyata Bekerja Dengan Baik dan Benar

Minggu, 05 Juli 2020
Video

New Normal New Ideas

Minggu, 05 Juli 2020

Artikel Lainnya

Kembali Kumpulkan Menteri, Jokowi: Work From Home Kok Kayak Cuti
Politik

Kembali Kumpulkan Menteri, J..

10 Juli 2020 00:19
Meski Sudah Dibenarkan DPP, DPC PDIP Tangerang Selatan Masih Bungkam Soal Koalisi Bersama Partai Gerindra
Politik

Meski Sudah Dibenarkan DPP, ..

09 Juli 2020 23:38
IMRI Gelar Aksi Di Depan Istana Negara, Tuntut Kasus Sarang Burung Walet Dilanjutkan
Politik

IMRI Gelar Aksi Di Depan Ist..

09 Juli 2020 23:05
Wakorbid Golkar Sumut: Tidak Memilih Ijeck Berarti Mengingkari Instruksi Airlangga Hartarto
Politik

Wakorbid Golkar Sumut: Tidak..

09 Juli 2020 22:50
Didampingi Prabowo, Presiden Jokowi Tinjau Reklamasi Pulau Pisau
Politik

Didampingi Prabowo, Presiden..

09 Juli 2020 22:37
Kemarahan Jokowi, Dramaturgi Politik Tutupi Kegagalannya Memimpin
Politik

Kemarahan Jokowi, Dramaturgi..

09 Juli 2020 22:25
Jokowi Kembali Keluhkan Kinerja Anak Buahnya, Pengamat: Artinya, Menterinya Enggak Ngapa-ngapain
Politik

Jokowi Kembali Keluhkan Kine..

09 Juli 2020 22:06
Menteri Edhy Ajak Masyarakat Budidaya Udang Dengan Konsep Tambak Milenial
Politik

Menteri Edhy Ajak Masyarakat..

09 Juli 2020 21:57