Hasil Sidak Said Didu, Kebun Angin Jokowi Malu Berputar

Said Didu/Net

Mantan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Said Didu melakukan sidak ke Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) berkapasitas 75 Megawatt (MW) yang berada di Kecamatan Watangpulu, Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan beberapa waktu lalu.

Sebagaimana video yang diunggah di akun Twitter pribadi, Rabu (27/11), Said Didu tampak berada persis di sebuah bukit yang berlatar kincir-kincir angin raksasa.

Dengan mengenakan kaos bertulis “Manusia Merdeka”, mantan Stafsus Menteri ESDM itu mengajak untuk mengamati perputaran baling-baling kincir di proyek yang disebut dengan "kebun angin" tersebut. Hasilnya, kincir seperti kompak malu berputar.

“Karena memang tidak ada angin. Angin di sini angin-anginan,” kata Said Didu yang paham dengan daerah di dekat kampung halamannya itu.

Sembari menoleh ke belakang menghitung kincir, Said Didu lantas menunjuk-nunjuk kincir dan memastikan tidak sampai 10 persen yang berputar.

“Ada di sana satu (berputar), dari 12 cuma satu yang berputar,” terangnya sambil menunjuk ke arah kincir paling jauh dan memastikan jumlah kincir yang dilihat hanya 12.

Kesimpulan dari pengamatan ini, katanya, adalah rasa prihatin pada PLN yang harus menanggung beban dari pembangunan.

“Mereka harus membeli ini, (padahal) listriknya tidak ada,” tutup Said Didu.

Kebun angin raksasa pertama di Indonesia ini diresmikan Jokowi pada Juli 2018 lalu. Disebutkan bahwa PLTB Sidrap I merupakan pembangkit bertenaga angin skala komersial pertama dan merupakan yang terbesar di Indonesia.

Pembangunannya diklaim sebagai wujud komitmen pemerintah mewujudkan bauran energi primer Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada tahun 2025.
 
Total ada sebanyak 30 kincir angin yang masing-masing menggerakkan turbin berkapasitas 2,5 MW. PLTB Sidrap I sendiri diharapkan dapat mengaliri lebih dari 70.000 pelanggan listrik dengan daya 900 Volt Ampere (VA).

Sebagian biaya proyek yang dibangun di atas tahan seluas 100 hektare ini, berasal dari pinjaman Overseas Private Investment Corporation (OPIC), yakni lembaga keuangan pembangunan pemerintah Amerika Serikat sebesar 120 juta dolar AS dengan jangka waktu pinjaman selama 16,5 tahun.

Kolom Komentar


Video

FRONT PAGE | CATATAN KAMI, Dr Ahmad Yani

Jumat, 07 Agustus 2020
Video

RMOL World View | Di Balik Ledakan Lebanon Bersama Duta Besar RI untuk Lebanon, Hajriyanto Y Thohari

Jumat, 07 Agustus 2020

Artikel Lainnya

Pejabat Tinggi Pemprov Ramai-ramai Mundur, Ada Apa?
Politik

Pejabat Tinggi Pemprov Ramai..

11 Agustus 2020 06:04
Pendiri PAN Pertanyakan Jasa Fahri Hamzah Dan Fadli Zon Untuk Negara
Politik

Pendiri PAN Pertanyakan Jasa..

11 Agustus 2020 05:22
Senator Jakarta: Kepala Daerah Jangan Paksakan Diri Terapkan Sekolah Tatap Muka
Politik

Senator Jakarta: Kepala Daer..

11 Agustus 2020 03:58
MPR  Dorong Pemerintah Segera Lakukan Terobosan Meredam Peningkatan Kasus Covid-19
Politik

MPR Dorong Pemerintah Seger..

11 Agustus 2020 03:20
Pengamat: Calon Tunggal Vs Kotak Kosong Terjadi Karena Hilangnya Idealisme Partai
Politik

Pengamat: Calon Tunggal Vs K..

11 Agustus 2020 02:56
AHY-Anies Untuk Pilpres 2024, Benny Harman: Ini Bentuk Kepedulian Rakyat Terhadap Masa Depan Bangsa
Politik

AHY-Anies Untuk Pilpres 2024..

11 Agustus 2020 02:33
Keberhasilan Jokowi Juga Tidak Lepas Dari Pemerintahan SBY
Politik

Keberhasilan Jokowi Juga Tid..

11 Agustus 2020 01:36
Mendagri, Mensos Dan Menkeu Terbitkan SKB Untuk Percepatan Pemutakhiran DTKS
Politik

Mendagri, Mensos Dan Menkeu ..

11 Agustus 2020 01:02