Dimensy.id Mobile
Dimensy.id
Apollo Solar Panel

Banjir Di Jakarta Lebih Menarik Perhatian Media China Daripada Ribut-ribut Natuna

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Senin, 06 Januari 2020, 08:44 WIB
Banjir Di Jakarta Lebih Menarik Perhatian Media China Daripada Ribut-ribut Natuna
Banjir di Jakarta Lebih Banyak Diulas Media China/Net
rmol news logo Berita mengenai serangan Amerika Serikat yang menyebabkan tewasnya Pengawal Revolusi Iran Qassem Soleimani di Baghdad, menjadi head line rubrik internasional media-media di China. Begitu juga dengan peristiwa banjir Jakarta.

Sementara, berita tentang klaim China atas perairan Natuna sama sekali tidak membuat masyarakat China peduli.  

Saat memasukkan nama Indonesia dalam bahasa Mandarin di beberapa mesin pencarian media-media arus utama China, baik yang berbahasa Inggris maupun Mandarin, yang keluar justru berita-berita mengenai banjir di Jakarta.

"Yinni Yajiada hongzai yunan renshu sheng zhi 53 ren 17 wan ren wufa fanjia" (Korban tewas banjir besar Jakarta Indonesia mencapai 53 orang, 170 ribu jiwa lainnya masih belum bisa pulang), demikian pemantauan headline, Minggu (5/1).

Media resmi berbahasa Mandarin yang memiliki nama internasional Global Times itu melengkapi berita tersebut dengan foto seorang pengendara motor yang melaju di atas jalan raya berkubang lumpur bekas banjir di Bekasi.

Ketika memasukkan nama Natuna (termasuk dalam tulisan Hanzi) di mesin pencarian beberapa media resmi, yang keluar justru berita-berita lama antara 2016 hingga 2018. Tidak ada berita terbaru mengenai konflik Natuna yang saat ini sedang gencar.

Pernyataan juru bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang yang menanggapi pernyataan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi juga tidak menjadi bahasan utama media-media China.

Chinamil, laman berita militer China, baik versi Inggris maupun Mandarin, juga tidak menurunkan laporan mengenai aktivitas pengamanan di perairan sekitar Pulau Natuna.

Yang menjadi top story di laman berita milik Komisi Militer Pusat China (CMC) itu adalah perintah Presiden Xi Jinping sekaligus Ketua CMC untuk memobilisasi latihan militer pasukan bersenjata. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA