Ekonomi Merosot, Ujang Komarudin: Jokowi Jangan Malah Ajari Rakyat Bersyukur

Senin, 10 Februari 2020, 09:18 WIB
Laporan: Faisal Aristama

Presiden Joko Widodo/Net

Pernyataan presiden Joko Widodo (Jokowi) yang meminta semua pihak jangan kufur nikmat atas pertumbuhan ekonomi yang masih bertahan di ambang 5 persen, terus menuai reaksi beragam dari berbagai kalangan.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komaruddin menilai pemerintah telah keliru mendefinisikan kufur nikmat dengan realitas yang terjadi di Tanah Air.

Pasalnya, masyarakat Indonesia masih banyak yang belum puas dengan capaian angka 5,02 persen di 2019. Apalagi pertumbuhan ekonomi masih belum dirasakan secara merata.

"Yang dibutuhkan rakyat itu sembako murah, banyak kesempatan kerja," kata Ujang Komaruddin saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL sesaat lalu di Jakarta, Senin (10/2).

Lagipula, sambungnya, pemerintah tak usah mengajarkan konsep bersyukur kepada masyarakat. Sebab, masyarakat lebih mengerti apa itu syukur dan apa itu kufur nikmat.

"Rakyat Indonesia sudah biasa bersyukur. Dalam keadaan miskin dan menderitapun sudah biasa sabar dan bersyukur," tutur Pengamat Politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia ini.

Lebih lanjut, konsep bersyukur yang sejatinya itu mesti disadari oleh pemerintah selaku pembuat kebijakan yang didukung dengan kondisi Sumber Daya Alam (SDA) melimpah ruah di Indonesia tetapi tidak dimanfaatkan dengan baik untuk kepentingan rakyat.

Terlebih, korupsi di sektor SDA dan di pemerintahan yang terus menerus menggerogoti kekayaan Indonesia.

"Uang negara banyak dikorupsi," pungkasnya. 

Kolom Komentar


Video

Update Covid-19 Sabtu 28 Maret, Positif 1.155 orang, dan 102 Meninggal

Sabtu, 28 Maret 2020
Video

Darurat Corona, Dr. Tirta: Ini Saatnya Karantina Wilayah Per Provinsi

Sabtu, 28 Maret 2020