Jokowi Bicara Presiden RI Nonmuslim, Anton Tabah: Pemimpin Itu Harus Peka Rasa Dan Hati

Anton Tabah/Net

Siapapun bisa menjadi Presiden Republik Indonesia, termasuk sosok dari kalangan nonmuslim. Hal itu disampaikan Presiden Joko Widodo dalam sebuah wawancara eksklusif bersama dengan BBC Indonesia beberap waktu lalu.

Sontak, pernyataan Presiden Joko Widodo ini menuai kritik keras dari Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Anton Tabah Digdoyo.

"Orang cerdas apalagi pemimpin itu harus peka rasa, peka hati. Orang bodoh kebalikannya, tak peka rasa tak peka hati, bahkan mati rasa. Maka falsafah Jawa ada ajaran ngono yo ngono ning ojo ngono," kata Anton Tabah kepada redaksi, Selasa (10/3).

Menurutnya, pernyataan Presiden Jokowi tak elok lantaran selain mayoritas masyarakat muslim, saat ini Indonesia juga sedang dihadapkan dengan beragam masalah. Publik tanah air juga saat ini sedang mengalami fenomena distrust atau ketidakpercayaan kepada pemerintah.

Ia pun mengkritisi tim komunikasi di balik sosok mantan Gubernur DKI Jakarta itu yang dianggap kurang cakap dalam melihat situasi dan kondisi terkini.

Hal lain yang tak kalah dikritisi adalah keputusan Presiden Jokowi yang kembali 'menghidupkan' nama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang masuk dalam kandidat Kepala Otoritas Ibukota Negara (IKN). Padahal, masyarakat belum lupa dengan kasus penistaan agama yang menimpa Ahok dan berujung ke jeruji besi.

"Dalam perspektif komunikasi politik maupun sosial, Jokowi seperti menentang arus, memantik kemarahan sosial. Seperti tak ada orang saja, bekas penista agama dijadikan pemimpin," tegasnya.

Jokowi juga harus memegang teguh falsafah Jawa, yakni angon angin (mencari waktu yang terbaik). Menurutnya,NKRI adalah negara muslim terbesar di dunia, di mana bangsa lain akan menghormati mayoritas.

"Perkataan (Jokowi) tidak tepat, sangat kontraproduktif karena kerakyatan kebangsaan dan kenegaraan tak cuma dibangun dengan hukum hitam putih, tapi juga filosofis sosiologis apa yang hidup di tengah-tengah masyarakat harus dipertimbangkan bukan asal-asalan lalu semau gue," tandasnya.
EDITOR: DIKI TRIANTO

Kolom Komentar


Video

FRONT PAGE | CATATAN KAMI, Dr Ahmad Yani

Jumat, 07 Agustus 2020
Video

RMOL World View | Di Balik Ledakan Lebanon Bersama Duta Besar RI untuk Lebanon, Hajriyanto Y Thohari

Jumat, 07 Agustus 2020

Artikel Lainnya

Direktur KPN: Poster Anies-AHY Hanya Pansos, Karena Popularitas Itu Penting
Politik

Direktur KPN: Poster Anies-A..

11 Agustus 2020 12:50
Istana Larang Pajang Foto Jokowi, Iwan Sumule: Ini Klenik Atau 17 Agustus Terakhir Jadi Presiden?
Politik

Istana Larang Pajang Foto Jo..

11 Agustus 2020 12:47
Prabowo Disebut Bakal Gantikan Maruf Amin, PPP: Isu Murahan!
Politik

Prabowo Disebut Bakal Gantik..

11 Agustus 2020 12:27
Prabowo Diisukan Bakal Geser KH Ma’ruf Amin, Gerindra: Isu Mau Pecah NU Dan Jokowi
Politik

Prabowo Diisukan Bakal Geser..

11 Agustus 2020 12:25
Pernah Ditolak Jokowi, Natalius Pigai Ragu Fadli Zon Mau Menerima Penghargaan Bintang Jasa
Politik

Pernah Ditolak Jokowi, Natal..

11 Agustus 2020 11:59
Menggeser Maruf Amin Tidak Semudah Mencopot Menteri
Politik

Menggeser Maruf Amin Tidak S..

11 Agustus 2020 11:56
Bakal Deklarasikan Dukungan Kepada Akhyar Nasution, Forum Eksponen 98 PDIP Ajak Kader Tetap Gembira
Politik

Bakal Deklarasikan Dukungan ..

11 Agustus 2020 11:45
Jubir Jokowi: Pegawai KPK Jadi ASN Bukan Melemahkan, Tapi Memperkuat Institusi
Politik

Jubir Jokowi: Pegawai KPK Ja..

11 Agustus 2020 11:22