Isu Mudik Ramai Diperbincangkan, Indef: Sudah Jadi Lelucon Lanjutan Dari Kebijakan Pemerintah

Terminal Kampung Rambutan/Net

Ketidaktegasan larangan mudik dan meningkatnya pengangguran akibat pandemik Covid-19 paling dominan diperbincangkan di media sosial.

Hal itu diketahui berdasarkan riset big data bertajuk “Kebijakan Covid-19” yang digelar Indef-Datalyst Center pada 27 Maret hingga 9 April.

Di mana, mayoritas warganet membicarakan masalah dan isu tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mencapai tidak kurang dari 171 ribu perbincangan. Analisis sentimen terhadap isu ini sekitar 79 persen negatif dan hanya 21 persen yang positif.

Dari delapan isu yang diperbincangkan, pengangguran akibat Covid-19 dan ketidaktegasan larangan mudik yang paling dominan diperbincangkan warganet.

Sebanyak 64.146 perbincangan soal pengangguran akibat Covid-19. Mayoritas warganet memberikan reson negatif, yakni sebanyak 84 persen dan hanya 16 persen yang memberikan respon positif.

"Aturan boleh atau tidak mudik merupakan percakapan yang cukup besar jumlahnya 44.879 percakapan. Percakapan tentang mudik ini mendapat sentimen negatif 54 persen, sisanya 46 persen mendapat sentimen positif," ucap peneliti senior Indef, Didik J. Rachbini, Minggu (17/5).

Isu mudik mendapat perhatian yang sangat besar karena sangat erat dengan penyebaran virus Covid-19.

Apalagi, pejabat pemerintah kerap kali mengeluarkan statemen atau kebijakan yang berubah-ubah.

"Itu berarti publik warganet memperhatikan sambil khawatir tentang kebijakan pemerintah yang dianggap tidak tegas," kata Didik.

Isu mudik ini kata dia, akan terus menjadi perbincangan karena pemerintah dianggap masih bingung.

"Mudik sudah dilarang, tetapi presiden membuat pernyataan pulang kampung boleh. Ini diperkirakan menjadi lelucon lanjutan dari kebijakan pemerintah yang mendapat tanggapan sentimen negatif secara keseluruhan," terangnya.

Secara total survei ini melibatkan hampir setengah juta percakapan atau 476.000 percakapan dengan jumlah akun/orang mencapai 397,2 ribu orang. Buzzer yang melakukan percakapan berulang-ulang dihilangkan untuk meningkatkan obyektivitas dari riset big data ini.

Setelah data terkumpul dengan kata kunci, maka peneliti Indef-Datalyst Center, melakukan berbagai penyaringan. Salah satunya analisis sentimen menggunakan metode Aspect-based Sentiment Analysis.

Analisis ini berguna mengetahui tendensi (sentiment) dari suatu pembicaraan terhadap masing-masing objek yang dianalisis (aspect-based).

Kolom Komentar


Video

Nadiem Minta Maaf, Berharap Muhammadiyah, NU, dan PGRI Bergabung Program POP

Selasa, 28 Juli 2020
Video

Jokowi: Saya Tidak Tahu Sebabnya Apa, Minggu-minggu Terakhir Ini Masyarakat Khawatir Covid-19

Senin, 03 Agustus 2020

Artikel Lainnya

Antisipasi Jurang Resesi, PKB Desak Jokowi Segera Normalisasi Anggaran Kementan Dan KKP
Politik

Antisipasi Jurang Resesi, PK..

07 Agustus 2020 05:57
Antisipasi Kehilangan Kepercayaan Rakyat, Jokowi Disarankan Segera Tepati Janji Politiknya
Politik

Antisipasi Kehilangan Keperc..

07 Agustus 2020 05:33
Yahya Cholil Staquf Sebut NU Ikut POP Kemendikbud, LP Ma'arif: Kami Tidak Tahu Menahu
Politik

Yahya Cholil Staquf Sebut NU..

07 Agustus 2020 02:18
Bertemu Internal Dengan Fraksi Demokrat, AHY Bahas Situasi Nasional Terkini
Politik

Bertemu Internal Dengan Frak..

07 Agustus 2020 01:09
Jokowi Terbitkan Inpres Pelanggar Protokol Kesehatan, DPR: Sanksi Harus Mendidik Dan Ada Efek Jera
Politik

Jokowi Terbitkan Inpres Pela..

07 Agustus 2020 00:22
KH Yahya Cholil Staquf Sebut NU Tetap Ikut POP Kemendikbud
Politik

KH Yahya Cholil Staquf Sebut..

06 Agustus 2020 23:54
Indef: Minus 5,32 Persen Saat Pandemik Corona Mengkonfirmasi Struktur Ekonomi Era Rezim Jokowi Rapuh
Politik

Indef: Minus 5,32 Persen Saa..

06 Agustus 2020 23:14
Ekonom Prediksi Perekonomian Nasional Akan Membaik Di Kuartal III
Politik

Ekonom Prediksi Perekonomian..

06 Agustus 2020 22:34