Ruslan Buton Diserang Isu Lama, Saiful Anam: Kok Sensitif Banget Untuk Urusan Jokowi?

Saiful Anam menduga ada hal-hal lain di balik penangkapan Ruslan Buton/Net

Penangkapan Kapten (Purn) Ruslan Buton dianggap sebagai imbas dari ketakutan pemerintah karena ketidakmampuan dalam penanganan Covid-19 dan stabilitas ekonomi.

Hal itu disampaikan pakar politik dan hukum Universitas Nasional Jakarta, Saiful Anam, yang juga menilai tidak ada perbuatan tindak pidana ujaran kebencian yang dilakukan Ruslan Buton atas surat terbuka yang disampaikannya.

"Saya mendengarkan dengan baik surat terbuka yang disampaikan. Saya bertanya-tanya, di mana pidana ujaran kebenciannya? Saya tidak melihat pasal ujaran kebencian maupun pencemaran nama baik di media elektronik dalam hal kasus ini," ucap Saiful Anam kepada Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (5/6).

Karena, kata Saiful, seluruh warga negara Indonesia berhak menyatakan pendapat yang dilindungi oleh UUD 1945.

Atas kasus yang menimpa Ruslan, Saiful pun memperhatikan bahwa mantan anggota TNI itu justru mendapat serangan oleh pihak-pihak tertentu di media sosial dengan cara mengungkit masa lalu Ruslan setelah banyak dukungan terhadap dirinya.

"Mengenai isu masa lalu tidak perlu diungkit-ungkit, ini kan bicara pidana saat ini, untuk apa flashback ke belakang? Tidak perlu dilakukan dan buang-buang waktu. Justru dengan tidak lagi menjabat sebagai TNI ia bebas memberikan masukan. Saat masih bertugas kan ia tidak bebas melakukan kritik dan memberi masukan," terang Saiful.

Saiful pun mengaku heran atas adanya upaya-upaya untuk membungkam para pengkritik pemerintah.

"Kok pemerintah sensitif banget untuk urusan Jokowi? Jangan paranoid, saya kira. Di luar akal sehat kita, apabila masukan dan kritikannya dianggap tindak pidana. Menyarankan mundur saya kira biasa saja," jelas Saiful.

Atas penangkapan terhadap Ruslan, Saiful pun mengaku curiga hal tersebut merupakan efek domino ketidakmampuan pemerintah dalam mengatasi berbagai persoalan di tengah pandemik Covid-19.

"Saya curiga ini bagian dari efek domino ketidakmampuan penanganan corona dan ketidakstabilan ekonomi, sehingga berimbas kepada ketakutan yang berlebihan akan adanya pemberhentian presiden," pungkas Saiful.
EDITOR: AGUS DWI

Kolom Komentar


Video

FRONT PAGE | CATATAN KAMI, Dr Ahmad Yani

Jumat, 07 Agustus 2020
Video

RMOL World View | Di Balik Ledakan Lebanon Bersama Duta Besar RI untuk Lebanon, Hajriyanto Y Thohari

Jumat, 07 Agustus 2020

Artikel Lainnya

Pejabat Tinggi Pemprov Ramai-ramai Mundur, Ada Apa?
Politik

Pejabat Tinggi Pemprov Ramai..

11 Agustus 2020 06:04
Pendiri PAN Pertanyakan Jasa Fahri Hamzah Dan Fadli Zon Untuk Negara
Politik

Pendiri PAN Pertanyakan Jasa..

11 Agustus 2020 05:22
Senator Jakarta: Kepala Daerah Jangan Paksakan Diri Terapkan Sekolah Tatap Muka
Politik

Senator Jakarta: Kepala Daer..

11 Agustus 2020 03:58
MPR  Dorong Pemerintah Segera Lakukan Terobosan Meredam Peningkatan Kasus Covid-19
Politik

MPR Dorong Pemerintah Seger..

11 Agustus 2020 03:20
Pengamat: Calon Tunggal Vs Kotak Kosong Terjadi Karena Hilangnya Idealisme Partai
Politik

Pengamat: Calon Tunggal Vs K..

11 Agustus 2020 02:56
AHY-Anies Untuk Pilpres 2024, Benny Harman: Ini Bentuk Kepedulian Rakyat Terhadap Masa Depan Bangsa
Politik

AHY-Anies Untuk Pilpres 2024..

11 Agustus 2020 02:33
Keberhasilan Jokowi Juga Tidak Lepas Dari Pemerintahan SBY
Politik

Keberhasilan Jokowi Juga Tid..

11 Agustus 2020 01:36
Mendagri, Mensos Dan Menkeu Terbitkan SKB Untuk Percepatan Pemutakhiran DTKS
Politik

Mendagri, Mensos Dan Menkeu ..

11 Agustus 2020 01:02