PDIP Yakin Kompetensi Jadi Parameter Perombakan Di Adhi Karya

Politisi PDIP Hendrawan Supratikno/Net

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir baru saja merombak jajaran direksi dan komisaris PT. Adhi Karya (Persero) Tbk. Nama Fadjroel Rahman didepak dari jabatan komisaris utama melalui keputusan rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST).

Menyikapi adanya perombakan di tubuh PT. Adhi Karya, politisi PDI Perjuangan Hendrawan Supratikno yakin hal itu untuk penyegaran di tubuh BUMN.

“Menteri baru, setelah periode belajar, biasanya terus membuat gebrakan, antara lain melakukan penggantian orang di BUMN (komisaris dan direksi). Istilahnya melakukan penyegaran dan membangun komitmen baru. Dalam perspektif manajemen, itu hal wajar dan biasa,” ujar Hendrawan kepada Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (5/6).

Menurutnya, setiap orang di BUMN berhak mendapatkan jabatan baru dan juga menteri BUMN juga berhak untuk melakukan penyegaran di jajaran direksi dan komisaris. Hal itu dianggap biasa seiring berjalannya waktu.

“Ada orang yang ditempatkan di posisi baru, ada yang digeser, ada yang diberhentikan, dst. Ini juga biasa. Ukuran yang digunakan adalah perbaikan kinerja. Jika kinerjanya tambah kinclong, bagus. Kalau jeblok, berarti gagal,” katanya.

Disinggung mengenai Fadjroel Rahman yang telah mendapatkan jabatan sebagai staf presiden bidang komunikasi, Hendrawan mengatakan bahwa perombakan jajaran direksi dan komisaris dilakukan bukan atas dasar personalia.

“Jangan bicara orang per-orang. Bisa jadi Fadjroel, misalnya, akan diberi posisi lebih baik. Kompetensi dan integritas harus jadi parameter utama, bukan pada afiliasi pada siapa yang mengangkat, atau sebutan "orangnya si anu, orangnya si itu",” katanya.

“Nanti kita masuk dalam spekulasi dan intrik politik dalam manajemen kantor,” demikian anggota Komisi XI DPR itu.

Kolom Komentar