Ubah Pola Pikir Seperti Korea, Kemendagri Ajak Masyarakat Jadikan Pilkada Alat Untuk Bangkit

Plt. Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri, Bahtiar/RMOL

Kesuksesan Korea Selatan menyelenggarakan Pemilu DPR di tengah pandemik virus corona baru (Covid-19) diharap mampu menjadi satu contoh bagi Indonesia untuk sukses menyelenggarakan Pilkada Serentak 2020 di 270 daerah.

Plt. Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri, Bahtiar mengungkapkan, pihaknya menangkap satu hal penting yang harus dipunyai masyarakat Indonesia, yaitu semangat masyarakat Korea yang menginginkan pergantian kepemimpinan tetap terjadi meski di masa pandemik.

Pasalnya belakangan dia melihat, masyarakat dan sejumlah pihak di dalam negeri merasa khawatir dengan penyelenggaraan pilkada serentak di tengah pandemik virus corona. Sehingga menurutnya perlu dicarikan contoh pembelajaran.

"Kasus Korea, justru warganya yang mendesak pemerintahanya tetap menyelenggarakan pemilu," ujar Bahtiar dalam diskusi daring yang digelar Universitas Mercu Buana bertajuk "Panggung Pencitraan dan Tantangan Demokrasi di Tengah Pandemi Covid-19", Sabtu (20/6).

Dorongan masyarakat Korsel untuk tetap menyelenggarakan pemilu, diterangkan Bahtiar, adalah karena menginginkan perubahan penghidupan ke arah yang lebih baik, khususnya dimasa krisis akibat Covid-19.

"Karena masyarakatnya menginginkan pemimpin yang bisa menangani permasalahan yang mereka hadapai ini. Meraka ingin pemimpin yang kredibel, yang bisa menyelesaikan krisis," ucapnya.

Oleh karena itu, dengan dilanjutkannya pilkada sesuai kesepakatan penyelenggara pemilu, pemerintah dan DPR, Bahtiar mengajak semua pihak untuk belajar dari semangat warga Korsel. Yaitu mengubah pola pikir masyarakat untuk mencari pemimpin yang lebih baik.

"Tugas kita mengubah pola pikir masyarakat untuk bisa mendapatkan pemimpin terbaik. Bukan pemimpin yang biasa-biasa, karena pemimpin dikeadaan normal itu biasa," imbau Bahtiar.  

"Justru kita hendak menjadikan pilkada 2020 ini sebagai alat untuk negara ini bangkit. Agar masyarakat kita mulai percaya diri, bahwa ada masalah kesehatan, tapi secara iimu pengetahun itu bisa diatasi dengan protokol kesehatan yang ketat," tambahnya.

Kolom Komentar


Video

Nadiem Minta Maaf, Berharap Muhammadiyah, NU, dan PGRI Bergabung Program POP

Selasa, 28 Juli 2020
Video

Jokowi: Saya Tidak Tahu Sebabnya Apa, Minggu-minggu Terakhir Ini Masyarakat Khawatir Covid-19

Senin, 03 Agustus 2020

Artikel Lainnya

Antisipasi Jurang Resesi, PKB Desak Jokowi Segera Normalisasi Anggaran Kementan Dan KKP
Politik

Antisipasi Jurang Resesi, PK..

07 Agustus 2020 05:57
Antisipasi Kehilangan Kepercayaan Rakyat, Jokowi Disarankan Segera Tepati Janji Politiknya
Politik

Antisipasi Kehilangan Keperc..

07 Agustus 2020 05:33
Yahya Cholil Staquf Sebut NU Ikut POP Kemendikbud, LP Ma'arif: Kami Tidak Tahu Menahu
Politik

Yahya Cholil Staquf Sebut NU..

07 Agustus 2020 02:18
Bertemu Internal Dengan Fraksi Demokrat, AHY Bahas Situasi Nasional Terkini
Politik

Bertemu Internal Dengan Frak..

07 Agustus 2020 01:09
Jokowi Terbitkan Inpres Pelanggar Protokol Kesehatan, DPR: Sanksi Harus Mendidik Dan Ada Efek Jera
Politik

Jokowi Terbitkan Inpres Pela..

07 Agustus 2020 00:22
KH Yahya Cholil Staquf Sebut NU Tetap Ikut POP Kemendikbud
Politik

KH Yahya Cholil Staquf Sebut..

06 Agustus 2020 23:54
Indef: Minus 5,32 Persen Saat Pandemik Corona Mengkonfirmasi Struktur Ekonomi Era Rezim Jokowi Rapuh
Politik

Indef: Minus 5,32 Persen Saa..

06 Agustus 2020 23:14
Ekonom Prediksi Perekonomian Nasional Akan Membaik Di Kuartal III
Politik

Ekonom Prediksi Perekonomian..

06 Agustus 2020 22:34