Kiprah Perjuangan Hilmi Aminuddin Dan Peninggalan Politiknya

Pendiri PKS Hilmi Aminudin tutup usia/Net

Tepat di akhir bulan Juni ini, kabar duka kembali menyelimuti dunia perpolitikkan tanah air.

Pasalnya, sosok yang satu ini bukan sekadar aktor politik biasa yang hinggap pergi di banyak partai politik.

Tapi ia adalah pendiri Partai Keadilan Sejahterah (PKS) Hilmi Aminuddin, yang menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Santosa Central, Bandung, Jawa Barat pada pukul 14.24 WIB.

Sebagai sosok yang bisa dikenal oleh banyak kalangan politisi di Indonesia seperti sekarang ini, Hilmi Aminuddin tidak memulai dengan cara yang mudah.

Sebab, karier politiknya tidak sama seperti kebanyakan politisi yang mencari kendaraan politik untuk ditunggangi. Tetapi sosok Hilmi Aminuddin menciptakan tunggangannya sendiri untuk bisa eksis.

Kejadian itu terjadi pada tahun 1998, di saat Hilmi bersama beberapa rekannya mendirikan Partai Keadilan (PK). Padahal jika ditelisik dari latar belakangnya, tidak ada sama sekali sejarah politik yang melekat dipunggung atau pundaknya.

Itu bisa dilihat dari latar belakang keluarga Hilmi yang merupakan keluarga pendakwah. Ayahnya adalah Danu Muhammad Hasan, satu dari tiga tokoh penting Darul Islam (Tentara Islam Indonesia) pimpinan Kartosoewirjo.

Jadi semenjak dini, Hilmi memang telah didik secara Islami oleh keluarganya. Bahkan diumur 6 tahun ia telah mendaftar di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

Tidak lama setelah lulus dari pendidikan di Jombang, Hilmi berkelana ke sejumlah pesantren di Jawa. Hingga tahun 1973, Hilmi memutuskan untuk berangkat ke Arab Saudi dan belajar di Fakultas Syariah Universitas Islam di Madinah.

Kurang lebih enam tahun menimba ilmu di negeri orang, Hilmi kerap berkumpul dengan Yusuf Supendi yang juga merupakan tokoh perintis PKS, karena saat itu bertepatan dengan Yusuf yang sedang berkuliah di Universitas Imam Muhammad Ibnu Saud, Riyadh.

Barulah sekitar tahun 1978 Hilmi lulus kuliah dan pulang ke Indonesia. Sesampainya di Indonesia, Hilmi belum menampakkan kecenderungannya terhadap dunia politik. Justru ia menggeluti bidang ilmu pengetahuan yang ia timba dengan berdakwah.

Tapi karena Hilmi tidak memiliki Pondok Pesantren seperti kebanyakan ulama di Indonesia saat itu, Hilmi pun berdakwah dari masjid ke masjid, atau dari satu kelompok pengajian ke kelompok pengajian lainnya.

Setelah melalui kegiatan dakwah itulah Hilmi memulai karier politiknya di partai yang ia bangun, yaitu PK. Tak menunggu waktu lama, pada tahun 2002 PK pun bertransformasi menjadi Partai Keadilan Sejahterah (PKS) yang sekarang dikenal dan bahkan diperhitungkan di dalam dinamika politik RI.

Menariknya, pada pemilu 2004 Hilmi Aminuddin mulai dikenal sebagai ‘the new comers’ dalam kehidupan politik nasional, dan mulai menggeliat sejak usai pemilu 2004.

Sebelumnya tidak pernah kedengaran secara terbuka dalam kehidupan politik nasional. Bahkan, ketika awal partai berdiri, Hilmi menolak untuk memimpin partai, karena partainya baru lahir.

PKS yang berdiri karena gerakan dakwah Hilmi dkk,  pada tahun 1999 memang masih belum menampakkan pengaruhnya secara politik, karena baru didirikan dan hanya menadapatkan 7 kursi di parlemen, atau 1.5 persen. Tapi sejak usai pemilu tahun 2004, PKS mulai menonjol peranannya. Terutama sejak pemilihan presiden 2004.

Hilmi yang kala itu telah didaulat sebagai Ketua Majelis Syuro PKS sudah terlibat dalam ‘power games’ (permainan kekuasaan), dan dengan suara partai yang berhasil diperoleh 45 kursi atau setara dengan 7,5 persen suara.

Dari situlah Hilmi merasa punya daya tawar dengan kekuatan politik lainnya. Tak segan-segan, ia mulai melakukan banyak lobi politik, dan bertemu dengan tokoh-tokoh politik nasional, termasuk dengan Presiden SBY.

Tak hanya itu, almarhum Hilmi juga sempat dipanggil beberapa kali oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), untuk diperiksa terkait kasus impor daging sapi, yang dilakukan oleh mantan Presiden PKS Lutfi Hasan Ishaaq.

Namun, kini sang legenda PKS telah gugur. Banyak kalangan kini hanya bisa menguntaikan doa untuk pendakwah politik yang berjasa ini.

Kolom Komentar


Video

Negara yang Ditakuti Yahudi di Timur Tengah Cuman Dua, Iran dan Turki

Rabu, 16 September 2020
Video

Orang Yahudi Bikin Terowongan untuk Beribadah di Bawah Masjid Al-Aqsa

Rabu, 16 September 2020

Artikel Lainnya

Sembari Menunggu Vaksin Jadi, Kemampuan Preventif Harus Digencarkan
Politik

Sembari Menunggu Vaksin Jadi..

18 September 2020 12:45
Fadli Zon: Pak Mahfud, Apa Tidak Lebih Tepat Kita Sandang Cukongkrasi?
Politik

Fadli Zon: Pak Mahfud, Apa T..

18 September 2020 12:28
Gagal Lolos Pilkada Bandarlampung, Ike Edwin Ajak Pendukungnya Pilih Rycko-Jos
Politik

Gagal Lolos Pilkada Bandarla..

18 September 2020 11:48
Kemenko Polhukam Turut Undang Bawaslu Bahas Materi Perppu Pilkada Kedua
Politik

Kemenko Polhukam Turut Undan..

18 September 2020 11:42
Diduga Pidana, Komisi III Minta Bareskrim Ungkap Aktor Intelektual Kebakaran Gedung Kejagung
Politik

Diduga Pidana, Komisi III Mi..

18 September 2020 11:30
Adhie Massardi Lebih Sepakat Kalau Ahok Jadi Menlu, Biar Yang Dimaki-maki Orang Asing Semua
Politik

Adhie Massardi Lebih Sepakat..

18 September 2020 11:27
Kena Prank Ahok Soal Pembubaran Kementerian BUMN, Begini Ungkapan Kekecewaan Relawan Jokowi
Politik

Kena Prank Ahok Soal Pembuba..

18 September 2020 11:19
Azis Syamsuddin: Sengaja Atau Lalai, Usut Tuntas Kebakaran Gedung Kejagung
Politik

Azis Syamsuddin: Sengaja Ata..

18 September 2020 11:17