Suami-Istri Terjaring OTT KPK, Gde Siriana: Bukti KKN Makin Berkarat

7 pelaku hasil OTT KPK. termasuk suami istri yang merupakan Bupati dan Ketua DPRD Kutai Timur/RMOL

Operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Kamis (2/7) lalu berhasil mengungkap persekongkolan antara suami-istri yang menjabat di pemerintahan Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Suami-istri yang diduga melakukan tindak pidana korupsi terkait proyek infrastruktur di Kutai Timur adalah Bupati Kutai Timur Ismunandar dan Ketua DPRD Kutai Timur Encek Unguria.

Kasus ini mendapat komentar dari Direktur Indonesia Future Studies (INFUS) Gde Siriana Yusuf, yang disampaikan melalui akun Twitternya, @SirianaGde, Sabtu (4/7).

"Kita tak pernah sungguh-sungguh reformasi. Fakta suami bupati dan istri Ketua DPRD yang keduanya ditangkap OTT KPK RI bukti bahwa KKN (Korupsi, kolusi dan nepotisme) justru makin berkarat," cuit Gde Siriana.

Masih dalam unggahan yang sama, Gde Siriana mengatakan, kasus suami istri ini membuktikan bahwa jabatan tertinggi eksekutif dan legislatif di daerah yang sama menggambarkan struktur demokrasi pasca reformasi semakin miris.

Pasalnya ia melihat dari kasus Bupati dan Ketua DPRD Kutai Timur ini, bahwa para politisi di daerah selalu mempunyai celah untuk melanggengkan oligarkinya sendiri secara leluasa. Sebab katanya, tidak ada aturan yang melarang suami-istri menjadi pejabat tinggi di daerah yang sama.

"Para politisi selalu berdalih tidak adanya aturan yang melarang. Maka sekeluarga masuk dalam pemerintahan dan parlemen bersama-sama. Ini juga bentuk dinasti untuk berkuasa turun temurun. Ujung-ujungnya korupsi dan abuse of power terjadi tanpa kontrol dari legislatif," ucapnya.

Lebih lanjut, Board Member of Bandung Innitiaves Network ini menjelaskan, politik itu berbeda dengan hukum positif. Sebab sepengetahuannya, politik itu berbasis gentlemen, goodwill, trust, etika dan moral.

"Meski tidak ada aturan melarang, maka moral dan etika yang bekerja untuk mengontrol syahwat kekuasaan diri sendiri, agar tidak terjadi abuse of power dan conflict of interest," paparnya.

Namun Gde Siriana tidak yakin melihat sistem politik dan pemerintahan saat ini  mampu menumbuhkan moral dan etika dari setiap pejabatnya. Karena sistem politik dan kontestasi yang sekarang ini sudah disetir oleh uang.

"Yang terjadi adalah hanya pengusaha kaya, kepala daerah yang punya kuasa beserta keluarganya yang ikut dalam kontestasi politik. Jika tidak, pasti dibelakangnya ada pemodal pengusaha kaya," imbuhnya.  

"Nikmat berkuasa itu memabukkan. Hanya orang yang benar-benar ikhlas mengabdi untuk orang banyak yang merasakan berkuasa itu berat dan penuh ujian," demikian Gde Siriana.

Kolom Komentar


Video

FRONT PAGE | CATATAN KAMI, Dr Ahmad Yani

Jumat, 07 Agustus 2020
Video

RMOL World View | Di Balik Ledakan Lebanon Bersama Duta Besar RI untuk Lebanon, Hajriyanto Y Thohari

Jumat, 07 Agustus 2020

Artikel Lainnya

Direktur KPN: Poster Anies-AHY Hanya Pansos, Karena Popularitas Itu Penting
Politik

Direktur KPN: Poster Anies-A..

11 Agustus 2020 12:50
Istana Larang Pajang Foto Jokowi, Iwan Sumule: Ini Klenik Atau 17 Agustus Terakhir Jadi Presiden?
Politik

Istana Larang Pajang Foto Jo..

11 Agustus 2020 12:47
Prabowo Disebut Bakal Gantikan Maruf Amin, PPP: Isu Murahan!
Politik

Prabowo Disebut Bakal Gantik..

11 Agustus 2020 12:27
Prabowo Diisukan Bakal Geser KH Ma’ruf Amin, Gerindra: Isu Mau Pecah NU Dan Jokowi
Politik

Prabowo Diisukan Bakal Geser..

11 Agustus 2020 12:25
Pernah Ditolak Jokowi, Natalius Pigai Ragu Fadli Zon Mau Menerima Penghargaan Bintang Jasa
Politik

Pernah Ditolak Jokowi, Natal..

11 Agustus 2020 11:59
Menggeser Maruf Amin Tidak Semudah Mencopot Menteri
Politik

Menggeser Maruf Amin Tidak S..

11 Agustus 2020 11:56
Bakal Deklarasikan Dukungan Kepada Akhyar Nasution, Forum Eksponen 98 PDIP Ajak Kader Tetap Gembira
Politik

Bakal Deklarasikan Dukungan ..

11 Agustus 2020 11:45
Jubir Jokowi: Pegawai KPK Jadi ASN Bukan Melemahkan, Tapi Memperkuat Institusi
Politik

Jubir Jokowi: Pegawai KPK Ja..

11 Agustus 2020 11:22