Calon Tunggal Itu Memalukan, Bukan Melawan Yang Berotak, Tapi Kotak

Anggota Komisi II DPR dari Fraksi PAN, Guspardi/Net

Anggota Komisi II DPR dari Fraksi PAN, Guspardi Gaus memprediksi pada perhelatan pilkada serentak 9 Desember mendatang besar kemungkinan adanya calon tunggal.

Pasalnya, jika dilihat dari tren pasangan calon tunggal terus meningkat di tiga gelombang pilkada serentak sebelumnya. Fakta tersebut dikhawatirkan akan kembali berlanjut pada Pilkada 2020.

Pihaknya mengurai, pada Pilkada 2015 lalu yang dilaksanakan secara serentak di 296 daerah, sebanyak tiga daerah menggelar pilkada dengan calon tunggal. Kondisi yang sama juga terjadi di pilkada 2017 yang melibatkan 101 daerah sebanyak 9 daerah memiliki calon tunggal.

"Jumlah itu semakin meningkat di Pilkada 2018. Dari 171 daerah penyelenggara pilkada, 16 daerah menggelar pilkada dengan calon tunggal," ujar Guspardi lewat keterangan persnya kepada Kantor Berita Politik RMOL, Senin (6/7).

Menurutnya, tren calon tunggal dalam penyelenggaraan Pilkada 2020 bisa ditekan jika parpol di daerah mampu menyodorkan sosok baru yang memiliki visi dan misi kuat. Selain itu, kandidat dari petahana juga harus berjiwa besar untuk tidak menuruti hasratnya maju sendirian supaya mendapatkan kembali kursi kepemimpinan.

"Jangan melakukan metode-metode yang ingin mengambil seluruh partai sehingga tidak bisa bagi sosok lain untuk tampil sebagai lawan," tegasnya.

Legislator PAN asal Sumbar ini menegaskan kalah dan menang saat ini tidak bisa lagi menjadi esensi utama dalam pilkada.

"Tapi, menghadirkan khazanah demokrasi yang lurus dan bersih agar tercipta pendidikan politik masyarakat yang baik adalah esensi yang sebenarnya. Tujuannya dari semua itu adalah kesejahteraan masyarakat," katanya.

Guspardi meminta agar para calon kandidat memiliki kebijaksanaan dalam bertarung di kontestasi Pilkada 2020, dengan mengedepankan rasa kebersamaan dan bertarung secara lebih sehat.

"Kita malu, masak yang menjadi lawan bukan yang berotak, tapi kotak," tutupnya.

Kolom Komentar


Video

Nadiem Minta Maaf, Berharap Muhammadiyah, NU, dan PGRI Bergabung Program POP

Selasa, 28 Juli 2020
Video

Jokowi: Saya Tidak Tahu Sebabnya Apa, Minggu-minggu Terakhir Ini Masyarakat Khawatir Covid-19

Senin, 03 Agustus 2020

Artikel Lainnya

Antisipasi Jurang Resesi, PKB Desak Jokowi Segera Normalisasi Anggaran Kementan Dan KKP
Politik

Antisipasi Jurang Resesi, PK..

07 Agustus 2020 05:57
Antisipasi Kehilangan Kepercayaan Rakyat, Jokowi Disarankan Segera Tepati Janji Politiknya
Politik

Antisipasi Kehilangan Keperc..

07 Agustus 2020 05:33
Yahya Cholil Staquf Sebut NU Ikut POP Kemendikbud, LP Ma'arif: Kami Tidak Tahu Menahu
Politik

Yahya Cholil Staquf Sebut NU..

07 Agustus 2020 02:18
Bertemu Internal Dengan Fraksi Demokrat, AHY Bahas Situasi Nasional Terkini
Politik

Bertemu Internal Dengan Frak..

07 Agustus 2020 01:09
Jokowi Terbitkan Inpres Pelanggar Protokol Kesehatan, DPR: Sanksi Harus Mendidik Dan Ada Efek Jera
Politik

Jokowi Terbitkan Inpres Pela..

07 Agustus 2020 00:22
KH Yahya Cholil Staquf Sebut NU Tetap Ikut POP Kemendikbud
Politik

KH Yahya Cholil Staquf Sebut..

06 Agustus 2020 23:54
Indef: Minus 5,32 Persen Saat Pandemik Corona Mengkonfirmasi Struktur Ekonomi Era Rezim Jokowi Rapuh
Politik

Indef: Minus 5,32 Persen Saa..

06 Agustus 2020 23:14
Ekonom Prediksi Perekonomian Nasional Akan Membaik Di Kuartal III
Politik

Ekonom Prediksi Perekonomian..

06 Agustus 2020 22:34