Pers Mulai Dipertanyakan, Ade Armando: Dominasi Pemodal Hingga Petualang Politik Penyebabnya

Ade Armando/Net

Peranan pers atau media massa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara masuk ke pilar keempat demokrasi. Namun, kini gaungnya mulai dipertanyakan oleh publik.

Topik ini menjadi bahan diskusi yang dibahas dalam webinar Gerakan Alumni Universitas Indonesia (GAUI) bertajuk "Masihkah Pers Menjadi Pilar ke-4 Demokrasi", Rabu (8/7).

Salah satu nara sumber yang dihadirkan adalah Direktur Komunikasi Saiful Mudjani Research and Consulting (SMRC) Ade Armando, yang mejabarkan sejumlah sebab dari menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pers di Indonesia sekarang ini.

Ia menyebutkan, ada 4 sebab yang membuat pers mulai tidak dipercaya publik untuk bisa menjalankan peranannya sebagai watch dog, alias pengawas atau pengawal dari demokrasi yang dijalani pemerintah (pilar pertama), parlemen (pilar kedua), dan lembaga kehakiman (pilar ketiga).

Diurutan pertama sebab media mulai diragukan publik adalah kerana adanya dominasi dari pemilik modal.

Bahkan fatalnya, para pemilik modal tidak punya kepedulian pada kebebasan pers akata Ade. Tapi malah menjadikan pers sebagai sebuah komoditi yang menguntungkan.

"Ternyata kebebasan ini memberi ruang bagi adanya dominasi ke para pemilik modal besar. Ya kita sebut saja secara eksplisit. Kita melihat ada kerajaan seperti MNC Grup, kerajaan Kompas, Bakrie (TV One News), kerjaannya Metro, dan seterusnya," ungkap Ade Armando.

Kemudian, untuk sebab kedua yang disebutkan Ade Armando adalah kualitas pekerja media yang tidak profesional. Hal ini terpaut pula dengan kualitas kebebasan pers di Indonesia yang selama 20 tahun belakangan menurun.  

"Media ini bisa saja diisi oleh para wartawan atau jurnalis yang sebetulnya tidak profesional, tidak qualified menjadi wartawan sesungguhnya," sebut Ade.

Selain itu, sebab ketiga yang juga membuat masyarakat kurang percaya dengan pers ialah tekhnologi. Karena dalam perkembangannya, menurut Ade, pers mulai ditinggalkan dengan akses luas masyarakat terhadap media massa seperti website dan atau kanal youtube.

"Dan chanel-chanel semacam ini kembali lagi adalah yang sebetulnya enggak profesional sama sekali. Mereka menarik saja, dapat duit dari adsense dari youtube. Tapi sebetulnya apa yang dia sebarkan sama sekali tidak memenuhi jurnalistik yang profesional," ucapnya.

Adapun yang terakhir ialah peran pers yang sebenarnya tergerus dengan kehadiran para politikus yang dengan sengaja membuat media dengan merekrut dan membayar wartawan dengan murah, dengan tujuan untuk kepentingan pribadinya.

"Kebebasan pers ini ternyata juga dimanfaatkan para petualang politik. Karena sekarang mudah sekali mengembangkan media, mudah sekali untuk merekrut wartawan-wartawan dengan baiaya atau honor murah, yang penting bisa mereplikasi kebohongan, hate speech, disinformasi dan seterusnya," tuturnya.

"Jadi kemapat hal ini membuat menurunnya kepercayaan orang kepada media massa," demikian Ade Armando.

Kolom Komentar


Video

Nadiem Minta Maaf, Berharap Muhammadiyah, NU, dan PGRI Bergabung Program POP

Selasa, 28 Juli 2020
Video

Jokowi: Saya Tidak Tahu Sebabnya Apa, Minggu-minggu Terakhir Ini Masyarakat Khawatir Covid-19

Senin, 03 Agustus 2020

Artikel Lainnya

Antisipasi Jurang Resesi, PKB Desak Jokowi Segera Normalisasi Anggaran Kementan Dan KKP
Politik

Antisipasi Jurang Resesi, PK..

07 Agustus 2020 05:57
Antisipasi Kehilangan Kepercayaan Rakyat, Jokowi Disarankan Segera Tepati Janji Politiknya
Politik

Antisipasi Kehilangan Keperc..

07 Agustus 2020 05:33
Yahya Cholil Staquf Sebut NU Ikut POP Kemendikbud, LP Ma'arif: Kami Tidak Tahu Menahu
Politik

Yahya Cholil Staquf Sebut NU..

07 Agustus 2020 02:18
Bertemu Internal Dengan Fraksi Demokrat, AHY Bahas Situasi Nasional Terkini
Politik

Bertemu Internal Dengan Frak..

07 Agustus 2020 01:09
Jokowi Terbitkan Inpres Pelanggar Protokol Kesehatan, DPR: Sanksi Harus Mendidik Dan Ada Efek Jera
Politik

Jokowi Terbitkan Inpres Pela..

07 Agustus 2020 00:22
KH Yahya Cholil Staquf Sebut NU Tetap Ikut POP Kemendikbud
Politik

KH Yahya Cholil Staquf Sebut..

06 Agustus 2020 23:54
Indef: Minus 5,32 Persen Saat Pandemik Corona Mengkonfirmasi Struktur Ekonomi Era Rezim Jokowi Rapuh
Politik

Indef: Minus 5,32 Persen Saa..

06 Agustus 2020 23:14
Ekonom Prediksi Perekonomian Nasional Akan Membaik Di Kuartal III
Politik

Ekonom Prediksi Perekonomian..

06 Agustus 2020 22:34