Berpotensi Mengebiri Demokrasi, Politik Dinasti Tegas Ditolak Milenial Banyuwangi

Milenial Banyuwangi menolak adanya politik dinasti/RMOLJatim

Kalangan milenial tampaknya kini kian kritis dan peduli terhadap politik nasional. Termasuk menyuarakan penolakan terhadap politik dinasti yang mulai terlihat menjelang pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2020.

Seperti yang diungkapkan kalangan milenial Banyuwangi yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Banyuwangi (Garab). Mereka menyuarakan gerakan menolak politik dinasti dalam Pilkada Kabupaten Banyuwangi tahun ini.

Seperti diketahui, Partai Nasdem dan PDI Perjuangan telah mengeluarkan rekomendasi untuk Ipuk Fiestandani untuk diusung sebagai Calon Bupati Banyuwangi. Ipuk Fiestandani tak lain adalah istri Bupati Banyuwangi saat ini, Abdullah Azwar Anas.

Dikatakan koordinator Garap, Bondan Madani, politik dinasti adalah penyubur kebodohan intelektual dan politik Banyuwangi.

Apalagi, menurut Bondan, politik dinasti selalu erat kaitannya dengan politik uang. Siapa yang banyak memiliki uang, maka dialah yang berkuasa.

“Politik dinasti akan mengebiri demokrasi dan bahkan bisa membunuh. Setidaknya atas dasar itulah kami para milenial bertemu, selain juga ide gagasannya sama,” ujar Bondan dilansir Kantor Berita RMOLJatim, Minggu (12/7).  

Dalam rapat perdana ini, pihaknya sepakat untuk membentuk koordinator di tingkat kecamatan untuk mendukung gerakan menolak politik dinasti. Sehingga pemberian edukasi ke masyarakat soal bahaya politik dinasti ini bisa lebih maksimal.

“Kita mulai besok akan keliling ke kampus, ke ponpes, ormas, karangtaruna, dan komunitas. Kita akan bentuk koordinator tingkat kecamatan. Kebetulan semua yang tergabung ini berstatus pemuda,” ujar mantan aktivis HMI ini.

Sementara itu, Koordinator Partisipasi Publik Perempuan Garap, Puji AS mengatakan, pihaknya akan selalu bersikap netral dan tidak mendukung kandidat Cabup manapun.

“Kami semua bukan kader partai politik manapun. Kita sebagai milenial hanya ingin bagaimana Banyuwangi akan lebih maju, demokrasi berkembang. Karena politik dinasti biasanya dimulai dengan menguasai partai politik. Akibatnya penjaringan bakal calon kepala daerah tidak maksimal di internal partai. Akhirnya tidak akan ada kesempatan milenial tampil,” ujar Puji yang juga pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Biologi ini.
EDITOR: AGUS DWI

Kolom Komentar


Video

FRONT PAGE | AHY Semakin Aduhai

Kamis, 13 Agustus 2020
Video

TANYA JAWAB CAK ULUNG | Seputar Aksi Menyelamatkan Indonesia

Jumat, 14 Agustus 2020

Artikel Lainnya

Ekonomi Indonesia Minus 5,32 Persen, Erick Thohir: Negara Lain Lebih Parah, Kita Enggak Usah Debat
Politik

Ekonomi Indonesia Minus 5,32..

15 Agustus 2020 12:03
Pidato Jokowi Soal Penanggulangan Covid-19 Harus Direalisasikan, Jangan Cuma Retorika
Politik

Pidato Jokowi Soal Penanggul..

15 Agustus 2020 11:56
HUT RI Momentum Yang Tepat Reshuffle, Pengamat: Cari Menteri Yang Bisa Bekerja Kayak Jagoan
Politik

HUT RI Momentum Yang Tepat R..

15 Agustus 2020 10:17
RR: Potensi Ekonomi Jateng Tinggi, Tapi Gubernurnya Sibuk Main Tik Tok
Politik

RR: Potensi Ekonomi Jateng T..

15 Agustus 2020 09:50
Pidato Sidang Tahunan, Jokowi Disayangkan Tidak Singgung Pendidikan Di Era Corona
Politik

Pidato Sidang Tahunan, Jokow..

15 Agustus 2020 09:27
Sukses Di Gojek Tapi Tidak Di Kemendikbud, Pengamat: Nadiem Makarim Harus Direshuffle!
Politik

Sukses Di Gojek Tapi Tidak D..

15 Agustus 2020 08:59
Cuma Bikin Kisruh, Mas Menteri Nadiem Makarim Sudah Saatnya Dicopot
Politik

Cuma Bikin Kisruh, Mas Mente..

15 Agustus 2020 08:18
Jokowi Ingin Bajak Momentum Krisis Untuk Lompatan Besar, Syarief Hasan: Semua Bisa Terjadi, Tergantung Kabinet
Politik

Jokowi Ingin Bajak Momentum ..

15 Agustus 2020 04:26