Pidato Kenegaraan Jokowi Sebatas Memberi Harapan Tanpa Realisasi Yang Jelas

Presiden Joko Widodo/Net

Ada yang menarik dari pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo dalam sidang tahunan MPR 2020 Jumat kemarin (15/8).

Direktur Eksekutif Indonesia Future Studies (INFUS) Gde Siriana Yusuf menyoroti satu aspek kehidupan yang diangkat Jokowi, yaitu soal pemulihan ekonomi nasional untuk meminimalisir krisis ekonomi akibat pandemik virus corona baru (Covid-19).

"Saya ambil contoh, dengan kondisi krisis dan kelemahan-kelemahan di sektor ekonomi (sekarang) ini, pemerintah menyampaikan pidato kenegaraan dengan tema 'Membangun Kembali Manufaktur Indonesia'," ujar Gde Siriana kepada Kantor Berita Politik RMOL, Senin (17/8).

Tema yang diangkat Jokowi, menurut aktivis Bandung Initiatives akan menjadi haluan dan panduan bagi negara dan rakyat untuk menjalani hari esok yang penuh tantangan.

“Artinya membangun kembali manufaktur juga berarti menjadi prioritas negara untuk memperbaiki fundamental ekonomi nasional. Ia juga memberikan harapan rakyat untuk perubahan yang nyata," katanya.

Beberapa perubahan nyata dari apa yang akan dikerjakan pemerintah dalam membangun manufaktur di Indonesia disebutkan Gde Siriana, di antaranya harapan bagi para tenaga kerja yang saat ini kena PHK atau dirumahkan, harapan bagi para petani untuk diserap hasil produksinya oleh manufaktur pertanian.

"Dan bahkan harapan bagi bank untuk memutar kembali kredit usaha yang produktif, harapan bagi para kontraktor pabrik-pabrik baru, harapan bagi para ahli IT untuk membangun sistem-sistem dan aplikasi bagi pabrik-pabrik baru," sambungnya.

Namun begitu, secara umum Gde Siriana berpendapat pidato Presiden Jokowi terlalu normatif, alias tak jauh berbeda dengan pidato-pidato sebelumnya yang hanya bisa memberikan harapan kepada rakyat, namun tidak tentu jelas realisasinya.

"Apakah memberikan rakyat harapan baru bahwa Indonesia akan keluar dari krisis dan sekaligus mengubahnya menjadi peluang melakukan lompatan besar?" tanyanya.

"Saya kira tidak. Jika memilih diksinya saja sudah ngawur bagaimana dengan isinya? Hancurnya pidato presiden ini sebagai tanda, bahwa ada pemerintah dan rakyat dalam membaca krisis dan harapan," demikian Gde Siriana menutup.

Kolom Komentar


Video

Wanita Terbakar Dalam Mobil di Sukoharjo, Diduga Korban Pembunuhan

Rabu, 21 Oktober 2020
Video

DENDI RAMADHONA DAN PESAWARAN

Rabu, 21 Oktober 2020
Video

Diduga Melanggar, Bawaslu Panggil Calon Bupati Semarang

Kamis, 22 Oktober 2020

Artikel Lainnya

Demo Terus Berlanjut, Haris Rusly: Gerakan Mahasiswa Mengkristal, Konsolidasi Dipusatkan Di Kampus-kampus
Politik

Demo Terus Berlanjut, Haris ..

28 Oktober 2020 12:15
Jika Terpilih Jadi Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan Akan Gratiskan Seragam Sekolah
Politik

Jika Terpilih Jadi Gubernur ..

28 Oktober 2020 11:57
Ragu November Vaksinasi Massal, Saleh Daulay: Barangnya Tidak Ada, Mau Disuntikkan Apa?
Politik

Ragu November Vaksinasi Mass..

28 Oktober 2020 11:41
Kehadiran UU Cipta Kerja Justru Mempermudah Proses Perizinan Usaha
Politik

Kehadiran UU Cipta Kerja Jus..

28 Oktober 2020 10:59
Saleh Daulay: Siapa Penanggung Jawab Vaksin, Erick, Terawan Atau Luhut?
Politik

Saleh Daulay: Siapa Penanggu..

28 Oktober 2020 10:58
Waketum PAN Desak Presiden Macron Cabut Pernyataan Dan Minta Maaf
Politik

Waketum PAN Desak Presiden M..

28 Oktober 2020 10:45
Anies Baswedan: Libur Panjang Memang Menggoda, Tapi Jangan Sia-siakan Upaya Kita Bersama
Politik

Anies Baswedan: Libur Panjan..

28 Oktober 2020 10:19
PP IPHI Ajak Puluhan Juta Alumni Dan Calon Haji Boikot Produk Prancis
Politik

PP IPHI Ajak Puluhan Juta Al..

28 Oktober 2020 09:58