Sudirman Said: Kita Gak Punya Ruang Untuk Bicara Hal Lain, Karena Jargon Politik Mewarnai Seluruh Diskursus

Sudirman Said/Net

Kondisi Indonesia saat ini mengalami over politisasi yang memenuhi area publik dan mewarnai seluruh diskursus.

Begitu yang disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Palang Merah Indonesia, Sudirman Said saat menjadi narasumber di acara webinar peluncuran buku dan diskusi Reinventing Indonesia "Menata Ulang Bangsa" karya Prof. Ginandjar Kartasasmita dan Dr. Joseph J. Stern pada Rabu (23/9).

Sudirman awalnya membahas soal judul buku "Menata Ulang Bangsa" karya Prof. Ginandjar. Di mana kata Sudirman, bangsa Indonesia sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Sehingga bukan hanya negara yang di tata, melainkan bangsa yang juga harus ditata untuk dibawa ke mana.

"Betapa kita mengalami over politisasi, dan saya sangat setuju kita ini gak punya ruang untuk bicara hal lain, itu juga bagian mesti ditata, apakah kita mau terus menerus begini? Atau kita tengok 5 amandemen, apakah melalui satu desain yang komprehensif? Kan tidak. Jadi banyak sekali UU penting itu diselesaikan dengan transaksi kemudian akhirnya jadilah seperti ini," ujar Sudirman Said.

Selain itu kata Sudirman, pada orde lama, sebagai panglima ialah kritik, sedangkan pada orde baru yang jadi panglima ialah ekonomi. Pada saat ini fokus kepada hukum sebagai panglimanya, namun kenyataannya tidak lah sesuai.

"Begitu publik domain dimasukin private domain bercampur karenanya, maka kekacauan mulai terjadi. Dan kita ingin bahwa ini tidak kita ulang. Kuncinya menurut saya sih, apakah bisa kembali teknokratik yang dasarnya adalah pengetahuan, dasarnya etik, dasarnya adalah visi ke dalam politik kita?" jelasnya.

"Tapi kalau kita biarkan ini jargon politik mewarnai seluruh diskursus, orang akademisi tidak punya tempat dalam pengambil kebijakan. Jadi caranya mengembalikan adalah teknokrasi dalam diskursus politik, dan seimbangkan. Jadi bobot politiknya tuh seperlunya saja," imbuhnya.

Sudirman pun menilai terdapat dua hal over politisasi yang terlalu berlebihan saat ini memenuhi ruang publik.

"Pertama aspek knowladgenya kurang. Kedua, kepentingan kelompoknya berlebihan," pungkasnya.

Kolom Komentar


Video

Wanita Terbakar Dalam Mobil di Sukoharjo, Diduga Korban Pembunuhan

Rabu, 21 Oktober 2020
Video

DENDI RAMADHONA DAN PESAWARAN

Rabu, 21 Oktober 2020
Video

Diduga Melanggar, Bawaslu Panggil Calon Bupati Semarang

Kamis, 22 Oktober 2020

Artikel Lainnya

Menurut Fadli Zon, Draf Omnibus Law Yang Diterima DPR Merupakan Barang Hampir Jadi
Politik

Menurut Fadli Zon, Draf Omni..

22 Oktober 2020 18:53
Ketum Hipmi: UU Cipta Kerja Bawa Indonesia Keluar Dari Jebakan Negara Berpenghasilan Menengah
Politik

Ketum Hipmi: UU Cipta Kerja ..

22 Oktober 2020 18:31
Jika Biden Terpilih, Bagaimana Sikap Amerika Ke China?
Politik

Jika Biden Terpilih, Bagaima..

22 Oktober 2020 18:30
Ahli Epidemiologi: Vaksinasi Harus Tetap Jalan, Jangan Ada Hambatan!
Politik

Ahli Epidemiologi: Vaksinasi..

22 Oktober 2020 18:00
Fadli Zon: Rezim Sekarang Kembali Ke Otoritarianisme, Legislatif Tidak Jalan Sebagai 'Oposisi'
Politik

Fadli Zon: Rezim Sekarang Ke..

22 Oktober 2020 17:46
Sepanjang Tidak Dipaksakan, PWNU Aceh Sepakat Dengan Kemenag Soal Materi Khutbah Jumat
Politik

Sepanjang Tidak Dipaksakan, ..

22 Oktober 2020 17:40
Energy Watch: Hilirisasi Nikel Jadi Langkah Strategis Industri Minerba Indonesia
Politik

Energy Watch: Hilirisasi Nik..

22 Oktober 2020 17:32
Rapat DPRD Di Puncak Dipersoalkan Bupati Bogor, Ini Tanggapan Wagub DKI
Politik

Rapat DPRD Di Puncak Diperso..

22 Oktober 2020 17:22