Gatot Sebut Komunis Bangkit Kembali Pada 2008, Willy Aditya: Tak Perlu Diungkit Lewat Narasi Yang Membodohi Nalar

Anggota Komisi I DPR RI, Willy Aditya/Net

Pernyataan mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo yang menyebut komunis telah muncul sejak 2008 silam, menuai kritik dari sejumlah kalangan. Pasalnya, Gatot dinilai hanya cuap-cuap semata tanpa bisa membuktikan secara nyata.

Dikatakan anggota Komisi I DPR RI, Willy Aditya, status PKI dan komunis masih menjadi paham terlarang di Indonesia. Sama seperti beberapa paham lain yang bertentangan dengan Pancasila yang telah ditetapkan oleh produk keputusan negara terkait pelarangannya.

“Jadi hal semacam itu tidak perlu lagi diungkit lewat narasi yang irasional dan membodohi nalar publik. Sudahilah praktik semacam itu,” ucap Willy kepada Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (25/9).

Politikus Partai Nasdem ini meminta Gatot untuk lebih membangun nilai dan pendidikan politik yang mampu mencerdaskan bangsa. Politik yang berorientasi pada kebaikan bersama. Karena hal-hal itulah, kata Willy, politik kemudian ada dalam kehidupan umat manusia.

Willy pun mengajak Gatot untuk berpikir bahwa politik bukanlah sesuatu wadah untuk dapat berkuasa. Politik merupakan ruang bagi seluruh warga Indonesia untuk mengabdi kepada sesuatu yang lebih mulia dibandingkan kepentingan sendiri.

“Politik itu bukan soal kekuasaan semata. Kalau hanya kekuasaan, tanpa politik pun itu bisa diselenggarakan dan diadakan. Politik itu lebih dari soal soal kontestasi kekuasaan,” ujarnya.

“Karena itulah negara ini disebut republik; berasal dr kata res publica (bersifat umum), bukan res privata (bersifat pribadi). Jadi negara ini bukan urusan pribadi dan ditujukan bagi kepentingan pribadi ataupun golongan. Melainkan urusan bersama dan ditujukan bagi kepentingan dan kebaikan bersama pula. Dalam bahasa Bung Karno dulu: semua untuk semua,” tegasnya.

Willy juga meminta Gatot memiliki kesadaran dalam berpolitik. Tidak mengedepankan ambisi untuk merebut kekuasaan. Dengan kesadaran semacam ini, politik menjadi tinggi derajatnya, demikian juga dengan para pelakunya.

"Sebaliknya, kalau politik dimaknai hanya soal kekuasaan saja dan cara yang digunakan adalah cara politik sengkuni, ya jangan heran kalau politik akan selalu dimaknai negatif dan derajatnya tidak jauh seperti solokan: kotor,” demikian Willy Aditya.
EDITOR: AGUS DWI

Kolom Komentar


Video

Wanita Terbakar Dalam Mobil di Sukoharjo, Diduga Korban Pembunuhan

Rabu, 21 Oktober 2020
Video

DENDI RAMADHONA DAN PESAWARAN

Rabu, 21 Oktober 2020
Video

Diduga Melanggar, Bawaslu Panggil Calon Bupati Semarang

Kamis, 22 Oktober 2020

Artikel Lainnya

Akankah Sejarah Terulang Untuk Keempat Kalinya, Kabareskrim Yang Jadi Kapolri?
Politik

Akankah Sejarah Terulang Unt..

25 Oktober 2020 18:31
Alvin Lie: Petugas Bandara Ternyata Hanya Dilengkapi APD Sederhana Tanpa Wajib Swab Test, Mengejutkan!
Politik

Alvin Lie: Petugas Bandara T..

25 Oktober 2020 18:02
Suharso Deklarasi Caketum PPP, Achmad Baidowi: Khofifah, Gus Ipul Dan Sandiaga Juga Didorong Maju
Politik

Suharso Deklarasi Caketum PP..

25 Oktober 2020 17:18
Survei: Mayoritas Masyarakat Puas Penanganan Pandemi Oleh Pemerintah Pusat
Politik

Survei: Mayoritas Masyarakat..

25 Oktober 2020 16:21
Viral, Video Seorang Perempuan Mengaku Guru Diarahkan Pilih Petahana
Politik

Viral, Video Seorang Perempu..

25 Oktober 2020 15:53
LaNyalla: Saya Lihat Langsung, UMKM Sudah Teruji Di Massa Krisis
Politik

LaNyalla: Saya Lihat Langsun..

25 Oktober 2020 15:31
Gus Nur Ditangkap, Novel: Saya Sudah Tidak Kaget Lagi Dengan Rezim Ini
Politik

Gus Nur Ditangkap, Novel: Sa..

25 Oktober 2020 14:36
Survei Membuktikan Demonstrasi Di Era Jokowi Dirasa Semakin Sulit
Politik

Survei Membuktikan Demonstra..

25 Oktober 2020 14:35