Dua Eks Anggota Tim Mawar Jadi Pejabat Di Lingkungan Kemhan, Beathor Suryadi: Harapan Apa Lagi Yang Kita Tunggu

Presiden Joko Widodo/Net

RMOL. Pengangkatan dua petinggi TNI Angkatan Darat sebagai pejabat di lingkungan Kementerian Pertahanan menuai protes dari kalangan akar rumput PDI Perjuangan.

Di mata politisi PDIP Bambang Beathor Suryadi, pengangkatan kedua jenderal bintang satu itu. Brigjen Dadang Hendrayudha dan Brigjen Yulius Selvanus memperlihatkan kelemahan Presiden Joko Widodo.

Dalam Surat Keputusan Presiden 166/TPA Tahun 2020 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Dari dan Dalam Jabatan Pimpinan Tinggi Madya di Lingkungan Kementerian Pertahanan yang ditandatangani 23 September lalu,
disebutkan Brigjen Dadang Hendrayudha diangkat menjadi Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan, dan Brigjen Yulius Selvanus sebagai Kepala Badan Instalasi Strategis Pertahanan Kemhan.

Kedua perwira tinggi TNI Angkatan Darat itu adalah bagian dari Tim Mawar, tim khusus di tubuh Kopassus yang melakukan pengamanan terhadap sejumlah aktivis di tahun 1998. Beberapa di antaranya sampai kini masih hilang.  

“Hancur penegakan hukum. Jokowi merangkul begitu banyak pelaku pelanggar hukum ke dalam Istana. Apa Tim Mawar punya daya tawar politik? Catatan apa yang mereka miliki atas kemenangan Jokowi dan  Kiai Amin sehingga Prabowo bisa menjadi Menteri Pertahanan, lalu mereka ikut dalam kekuasaan?” tanya Beathor.

“Tanpa daya tawar. Tidak ada makan siang gratis. Jokowi merombak tatanan demokrasi,” sambungnya lagi.

Menurut Beathor, seharusnya tujuh jenderal yang ikut memecat Prabowo karena peristiwa penculikan itu malu.

Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Jenderal (Purn) Wiranto harusnya mengundurkan diri karena gagal mencegah masuknya anasir-anasir yang dulu pernah menjadi objek hukum TNI. Adalah Wiranto yang ketika itu menjabat sebagai Panglima ABRI yang memberhentikan Prabowo melalui sidang Dewan Kehormatan Perwira.

“Wiranto gagal memberikan nasehat kepada Jokowi. Harapan apa lagi  yang kita tunggu jika Presiden sudah begini?” kata Beathor lagi.

Dia mengatakan, orangtua dan keluarga mahasiswa dan aktivis yang menjadi korban dalam peristiwa 1997-1998 pasti bersedih melihat kenyataan ini.

“Semoga ibu-ibu yang anaknya hilang dan tewas itu tabah dan kuat menghadapi kebijakan Jokowi yang memalukan dan tidak punya rasa kemanusiaan ini,” demikian kata Beathor yang pernah menjadi Ketua Majelis ProDEM.

Kolom Komentar


Video

Wanita Terbakar Dalam Mobil di Sukoharjo, Diduga Korban Pembunuhan

Rabu, 21 Oktober 2020
Video

DENDI RAMADHONA DAN PESAWARAN

Rabu, 21 Oktober 2020
Video

Diduga Melanggar, Bawaslu Panggil Calon Bupati Semarang

Kamis, 22 Oktober 2020

Artikel Lainnya

Menurut Fadli Zon, Draf Omnibus Law Yang Diterima DPR Merupakan Barang Hampir Jadi
Politik

Menurut Fadli Zon, Draf Omni..

22 Oktober 2020 18:53
Ketum Hipmi: UU Cipta Kerja Bawa Indonesia Keluar Dari Jebakan Negara Berpenghasilan Menengah
Politik

Ketum Hipmi: UU Cipta Kerja ..

22 Oktober 2020 18:31
Jika Biden Terpilih, Bagaimana Sikap Amerika Ke China?
Politik

Jika Biden Terpilih, Bagaima..

22 Oktober 2020 18:30
Ahli Epidemiologi: Vaksinasi Harus Tetap Jalan, Jangan Ada Hambatan!
Politik

Ahli Epidemiologi: Vaksinasi..

22 Oktober 2020 18:00
Fadli Zon: Rezim Sekarang Kembali Ke Otoritarianisme, Legislatif Tidak Jalan Sebagai 'Oposisi'
Politik

Fadli Zon: Rezim Sekarang Ke..

22 Oktober 2020 17:46
Sepanjang Tidak Dipaksakan, PWNU Aceh Sepakat Dengan Kemenag Soal Materi Khutbah Jumat
Politik

Sepanjang Tidak Dipaksakan, ..

22 Oktober 2020 17:40
Energy Watch: Hilirisasi Nikel Jadi Langkah Strategis Industri Minerba Indonesia
Politik

Energy Watch: Hilirisasi Nik..

22 Oktober 2020 17:32
Rapat DPRD Di Puncak Dipersoalkan Bupati Bogor, Ini Tanggapan Wagub DKI
Politik

Rapat DPRD Di Puncak Diperso..

22 Oktober 2020 17:22