Asean Korea Coopertion Onwards
ASEAN-KOREA Cooperation Upgrade
Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Pilkada Tangsel 2020

Narji Dukung Pangdam Jaya, Strategi Putri Wapres Di Pilkada Tangsel Bisa Berantakan

LAPORAN: AGUS DWI
  • Kamis, 26 November 2020, 15:11 WIB
Narji Dukung Pangdam Jaya, Strategi Putri Wapres Di Pilkada Tangsel Bisa Berantakan
Komedian Narji (kedua kanan) saat memberikan dukungan terhadap Pangdam Jaya Mayjen Dudung Abdurachman/Repro
Langkah komedian terkenal, Narji, dengan memberikan dukungan kepada Pangdam Jaya Mayjen Dudung Abdurachman terkait pencopotan baliho pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab (HRS), ditengarai akan membuat kusut strategi pemenangan di tim Siti Nur Azizah dan Ruhamaben di Pilkada Kota Tangsel.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, Kamis (26/11).

Dedi menilai dukungan Narji terhadap Pangdam Jaya tidak produktif. Karena Narji diketahui merupakan pendukung pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Tangsel, Siti Nur Azizah-Ruhamaben.

Bahkan Narji sendiri tampak menjadi andalan tim pemenangan putri Wakil Presiden RI, Maruf Amin itu. Seperti terlihat dalam tayangan sosialiasi di TV ketika debat Pilkada lalu.

Menurut Dedi, langkah Narji itu sedikit banyak akan mempengaruhi psikologi pendukung Habib Rizieq Syihab (HRS) dan kelompok 212 yang cukup banyak di Tangsel.

"Keterlibatan Narji dalam polemik Pangdam Jaya dengan HRS jelas tidak produktif pada konstelasi Pilkada Tangsel, terlebih Narji dikenal sebagai salah satu pendukung kontestan," kata Dedi Kurnia.

"Tentu disayangkan, karena bagaimanapun pemilih Tangsel juga ada loyalis HRS," ujar Dedi, dikutip Kantor Berita RMOLBanten.

Dengan psikologi itu, ada kemungkinan loyalis HRS yang telah mendukung Azizah-Ruhamaben akan meninggalkan jagoannya dalam perebutan kursi orang nomor satu di Tangsel.

Seharusnya sebagai salah satu pendukung paslon di Pilkada Tangsel, Narji bisa lebih bijak dan pandai membaca situasi.

"Narji seharusnya bijak dan pandai membaca situasi, ia bisa saja memperkeruh strategi kampanye yang ia lakukan di Tangsel, dan imbasnya bisa saja kontestan yang didukung ramai-ramai ditinggalkan loyalis HRS," terangnya.

Lanjut Dedi, apalagi pemilih di Tangsel itu secara primordialisme adalah kelompok struktural semacam dari Betawi.

"Termasuk kelompok Islam yang juga dekat dengan aktivitas HRS. Maka, mau tidak mau mengkhwatirkan dan terlalu berisiko," kata Dedi.

Untuk itu, Dedi memberikan saran kepada seluruh tokoh di Tangsel agar tidak terlibat manuver politik yang tidak ada hubungannya dengan kondisi di Tangsel.

"Saran saya untuk para tokoh-tokoh di Tangsel tidak perlu terlibat dalam manuver politik yang tidak ada relevannya terhadap kondisi di Tangsel," demikian Dedi.
EDITOR: AGUS DWI

ARTIKEL LAINNYA