Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Vaksin Sinovac Tiba Di Indonesia, PPP: Proporsi Vaksin Program Harus Lebih Besar Dari Vaksin Mandiri

LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK
  • Jumat, 11 Desember 2020, 16:46 WIB
Vaksin Sinovac Tiba Di Indonesia, PPP: Proporsi Vaksin Program Harus Lebih Besar Dari Vaksin Mandiri
Anggota Komisi IX DPR RI, Anas Thahir/Ist
Pemerintah telah mendatangkan vaksin Covid-19 dari produsen asal China, Sinovac, sebanyak 1,2 juta dosis.

Vaksin yang sudah diuji klinis tahap tiga beberapa negara itu, saat ini tinggal menunggu persetujuan penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Perihal itu, anggota Komisi IX DPR RI, Anas Thahir mengingatkan, akar BPOM mengedepankan asas kehadti-hatian sebelum menerbitkan EUA pada vaksin Sinovac.

"BPOM harus benar-benar menggunakan asas kehati-hatian dengan memprioritaskan pertimbangan keamanan, keselamatan dan khasiat vaksin," ujar Anas Thahir kepada wartawan, Jumat (11/12).

"Disamping itu, BPOM juga harus bisa bekerja secara independen, transparan dan lepas dari campur tangan siapapun. Meskipun faktanya sebanyak 1,2 juta dosis vaksin sudah tersedia di Indonesia dan dalam beberapa minggu ke depan akan datang lagi sejumlah 1,8 juta dosis Vaksin yang sudah dibayar oleh pemerintah," imbuhnya.

Politisi PPP ini juga meminta pemerintah untuk bisa membuat skema vaksinasi atau skema prioritas pemanfaatan vaksin tersebut pada petugas medis dan masyarakat kurang mampu.

"Sebagai wujud keberpihakan pemerintah terhadap kepentingan masyarakat, saya berharap pemerintah bisa meningkatkan proporsi skema "vaksin program" menjadi lebih besar dari "vaksin mandiri" dari total target vaksinasi nasional," jelasnya.

Terpenting, kata Anas, datangnya vaksin Sinovac jangan mengubur mimpi produksi vaksin dalam negeri, yakni vaksin Merah Putih sebagaimana digagas Presiden Joko Widodo.

"Perlu dilakukan percepatan pengembangan dan produksi vaksin Merah Putih sebagai vaksin andalan nasional yang aman dan ampuh agar Indonesia bisa segera melepas ketergantungan terhadap produksi vaksin asing," pungkasnya.
EDITOR: