Asean Korea Coopertion Onwards
ASEAN-KOREA Cooperation Upgrade
Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Kementerian ESDM Pastikan PLTU USC Adopsi Roadmap Penurunan Emisi

LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO
  • Senin, 11 Januari 2021, 03:52 WIB
Kementerian ESDM Pastikan PLTU USC Adopsi Roadmap Penurunan Emisi
Ilustrasi
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali menegaskan pentingnya pemasangan teknologi Ultra Super Critical (USC) pada PLTU berkapasitas besar.

Direktur Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Wanhar menyebutkan, penerapan teknologi USC telah masuk dalam peta jalan penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor energi.

PLTU USC yang kini sedang dibangun antara lain, PLTU Jawa 9 dan 10, PLTU Batang Jawa Tengah, dan PLTU Jawa 4 (Tanjung Jati B), kesemuanya berstandar negara-negara maju dalam OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development).

“Bukan sebagai standar, tapi semacam roadmap penggunaan PLTU di Indonesia,” ujar Wanhar dalam keterangannya, Minggu (10/1).

Sebelumnya, Wanhar pernah menjelaskan bahwa teknologi USC termasuk Clean Coal Technology (CCT), yang dapat menurunkan emisi GRK karena memiliki efisiensi sebesar 40 persen.

USC juga menghasilkan intensitas emisi GRK lebih rendah dari PLTU lainnya, seperti PLTU Subcritical dan PLTU Supercritical.

“Arti dari efisiensi 40 persen itu adalah kemampuan dari PLTU USC untuk mengkonversi sebanyak 40 persen dari setiap energi yang terkandung di dalam batu bara yang digunakan oleh PLTU USC menjadi energi listrik (kWh),” jelasnya.

Pada PLTU USC juga sudah dilengkapi dengan peralatan pengendalian pencemaran udara. Sehingga emisi yang dihasilkan dapat memenuhi Baku Mutu Emisi.

“Beberapa negara telah menerapkan teknologi ini salah satunya adalah Jepang,” kata Wanhar lagi.

Berdasarkan data New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO), penggunaan teknologi USC pada PLTU mampu menghasilkan efisiensi sebesar 40 persen dan intensitas emisi CO2 sebesar ± 820 gram per kWh.

Selain, itu konsumsi bahan bakar batubara semakin kecil, sekitar 320-340 gram per kWh saja.

Diuraikan Wanhar, pembangunan PLTU sistem Jawa, Madura, dan Bali (Jamali) harus menggunakan noiler teknologi USC. Namun, tidak untuk PLTU di luar Sistem Jamali, mengingat kapasitasnya masih kelas 50-300 MW.

Bagi PLTU yang belum memasang teknologi USC, masih boleh menggunakan teknologi satu tingkat di bawah USC, yaitu super critical.

“Atau PLTU Mulut Tambang untuk daerah yang memiliki tambang Batubara rendah kalori,” sambungnya.

PLTU Mulut Tambang merupakan pembangkit listrik tenaga batubara dengan skema Mine-to-Mouth, dengan lokasi pembangkit yang terletak paralel terhadap lokasi tambang batu bara.

Pembangkit listrik ini dapat dilengkapi unit pengering atau dryer untuk meningkatkan nilai kalori dan mengurangi kandungan air.

Khusus di Indonesia, Wanhar menyebutkan bahwa PLTU USC yang sudah beroperasi adalah PLTU Cilacap Expansi 2 dan PLTU Jawa 7 yang menggunakan standar Tiongkok.

Lanjutnya, Kementerian ESDM mencatat, terdapat sembilan lokasi PLTU batubara yang akan menggunakan teknologi USC, dengan total kapasitas sebesar 10.130 MW.

“Dengan dibangunnya PLTU USC dengan kapasitas total 10.130 MW tersebut, berpotensi mampu menurunkan emisi GRK sebesar 8,9 juta ton CO2,” urai Wanhar.

Pengamat Energi sekaligus Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan menyambut baik pemakaian teknologi USC. Dia bahkan berharap teknologi USC dapat segera diterapkan di semua PLTU yang ada di Indonesia.

Menurut Mamit, teknologi USC akan sangat baik apabila diterapkan dalam jangka panjang. Karena telah terbukti efisiensinya dalam mengurangi dampak lingkungan, utamanya polusi udara.

"Mudah-mudahan ini bisa diterapkan di semua PLTU ya. Karena ini terkait dengan komitmen kita, di mana pemerintah memang berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, terutama yang dihasilkan oleh PLTU," kata dia.

Dari sisi pembangkit teknologi, dijelaskan Mamit, penerapan USC cukup menguntungkan. Selain bahan baku mudah dicari, boiler pada teknologi yang dimiliki USC juga dapat menghasilkan uap lebih panas.

"Jadi secara teknis ini sangat membantu. Karena penggunaan batubara bisa sedikit, tetapi output yang dihasilkan jauh lebih besar dibandingkan tidak menggunakan teknologi ini," pungkasnya.