Tuntut Penyelesaian Kasus Rasisme Terhadap Pigai, Mahasiswa Papua Di Banten: Apakah Kami Pernah Buat Salah?

Mahasiswa Papua di Banten menggelar aksi damai terkait rasisme yang menimpa Natalius Pigai/RMOLBanten

Reaksi dari warga Papua atas insiden rasisme yang dialami mantan Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai, terus bermunculan di berbagai daerah.

Seperti yang dilakukan mahasiswa asal Papua di Banten yang mendesak kasus rasisme terhadap Natalius Pigai segera diselesaikan.

Pigai yang merupakan warga asli Papua disudutkan Ambrocius Nababan dengan cara menyandingkan foto Natalius Pigai dengan Gorila.

Salah satu mahasiswa asal Papua di Banten, Frans Yohanes Miokbun mengatakan, pemerintah Indonesia harus bertindak tegas mengatasi masalah rasisme agar tidak ada permusuhan di antara sesama masyarakat Indonesia.

"Kami orang Papua bagian dari Warga Negara Indonesia, kami juga manusia, kami bukan hewan peliharaan," kata mahasiswa Untirta Banten itu kepada Kantor Berita RMOLBanten, Selasa (26/1).

"Kalau pemerintah tidak tegas lebih baik pemerintah Indonesia melepaskan kita, untuk menentukan nasib sendiri, melepaskan kita untuk merdeka," tegasnya.

Menurut Frans, permasalahan rasisme sering dilontarkan kepada masyarakat Papua, bahkan sengaja diproduksi oleh kelompok tertentu untuk memarginalkan Papua.

"Kami yang rasnya kulit putih dan rambut lurus rasisme hinaan sebutan hewan. Bagi kami orang Papua sudah menjadi tradisi atau budaya bagi mereka," ungkap Frans.

Frans pun mempertanyakan kelompok yang terus menerus menghina orang Papua. Padahal, orang Papua tidak pernah membenci perbedaan kulit, maupun adat dan budaya. Orang Papua selama ini hidup aman tentram tanpa menyudutkan kelompok di luar Papua.

"Kenapa mereka melontarkan rasisme? Kita disamakan dengan hewan, monyet, gorila, dan masih banyak lagi, apakah kami pernah buat salah kepada mereka? Kami selama ini hidup rukun dan damai, kami tidak pernah membenci saudara-saudara kami yang beda ras, kenapa mereka benci kami?" tanya Frans.

"Saya meminta dengan homat kepada pemerintah harus bersikap tegas untuk mengambil kebijakan dalam mengatasi kelompok rasisme," tutup Frans.
EDITOR: AGUS DWI

Kolom Komentar


Video

Obrolan Bareng Bang Ruslan • Polling 24 Tokoh Harapan, bersama Arief Poyuono dan Jerry Massie

Selasa, 23 Februari 2021
Video

Kunjungan Presiden Jokowi di NTT Undang Kerumunan Massa

Selasa, 23 Februari 2021
Video

Jendela Usaha • Peluang Budidaya Ubi Jalar

Rabu, 24 Februari 2021

Artikel Lainnya

Gaduh Kudeta Demokrat, Arief Poyuono Siap Jadi Penengah Antara SBY Dan Moeldoko
Politik

Gaduh Kudeta Demokrat, Arief..

25 Februari 2021 19:45
Indeks Persepsi Korupsi Anjlok, ICW: Kebijakan Antikorupsi Pemerintahan Jokowi Mundur
Politik

Indeks Persepsi Korupsi Anjl..

25 Februari 2021 19:29
Paket Sarapan Gratis Pospera Akan Berlangsung Hingga Bulan Mei
Politik

Paket Sarapan Gratis Pospera..

25 Februari 2021 19:22
Susah Dijinakkan, Jadi Alasan Isu KLB Hanya Menyasar Demokrat
Politik

Susah Dijinakkan, Jadi Alasa..

25 Februari 2021 18:54
Enam Organisasi Sayap Demokrat Deklarasikan Menolak KLB
Politik

Enam Organisasi Sayap Demokr..

25 Februari 2021 18:31
Sepakat Pasal Karet UU ITE Dihapus, Ketua PWI: Terus Terang, Banyak Merepotkan Wartawan
Politik

Sepakat Pasal Karet UU ITE D..

25 Februari 2021 17:33
Satyo Purwanto: Demokrat Diserang Isu KLB Karena Solid Dan Oposisi Pemerintah
Politik

Satyo Purwanto: Demokrat Dis..

25 Februari 2021 17:02
Kecewa Kebijakan Miras Jokowi, Ketua Muhammadiyah: Bangsa Ini Seperti Kehilangan Arah
Politik

Kecewa Kebijakan Miras Jokow..

25 Februari 2021 16:12