Dimensy Mobile
Farah.ID
Dimensy
Farah.ID

Kemenko Marves Tinjau Langsung Kesiapan Infrastruktur Industri Aspal Buton

LAPORAN: RAIZA ANDINI
  • Selasa, 02 Februari 2021, 09:27 WIB
Kemenko Marves Tinjau Langsung Kesiapan Infrastruktur Industri Aspal Buton
Lambang Kemenko Marves/Net
Guna menindaklanjuti rapat koordinasi yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan pada awal Januari 2021, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) Ayodhia G.L. Kalake dan tim melakukan kunjungan kerja ke Pulau Buton, Sulawesi Tenggara.

Kunjungan tersebut bertujuan untuk meninjau kesiapan industri Aspal Buton (Asbuton) juga infrastruktur pendukung, seperti pembangunan akses dan pelabuhan, serta tata kelola izin usaha pertambangan (IUP).

Beberapa titik yang dikunjungi, antara lain lokasi tambang PT Wijaya Karya Bitumen, Pelabuhan Nambo, Pabrik PT Kartika Prima Abadi, dan Pelabuhan Banabungi PT Wika Bitumen.

Ayodhia menjelaskan bahwa tujuan mereka adalah untuk mendapatkan gambaran tentang potensi yang ada di wilayah Buton.

“Kami datang ke sini karena kami juga ingin memastikan tentang kesiapan fasilitas pendukung, baik infrastruktur maupun sarana prasarana agar nantinya distribusi Asbuton bisa berjalan dengan baik," ujarnya kepada wartawan, Selasa (2/2).

Ayodhia juga berpesan untuk melihat kekayaan sumber daya alam ini sebagai sebuah kesempatan yang bisa dikembangkan oleh dalam negeri.

Asbuton merupakan jenis aspal alami yang secara spesifik terdapat di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Aspal ini hanya dapat ditemukan di dua wilayah di dunia, yakni di Indonesia dan di Trinidad, Amerika Selatan.

Asbuton di Indonesia memiliki potensi sebesar 694 juta ton, tetapi perlu dilakukan validasi terhadap data cadangan terbukti dan cadangan tertambang oleh Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM).

Asbuton di Indonesia memiliki potensi yang besar. Sayangnya, saat ini pemenuhan kebutuhan aspal nasional masih didominasi oleh impor karena penggunaan Asbuton masih belum maksimal. Di Indonesia sendiri terdapat 16 perusahaan yang bergerak dalam industri Asbuton.

“Selain sebagai penghasil Asbuton untuk kebutuhan dalam negeri, Indonesia juga berpeluang untuk menjadi negara pengekspor Asbuton Murni yang setara dengan Aspal Minyak pada tahun 2024 dengan rencana pengembangan ekspansi pabrik full extraction,” beber Direktur Operasi PT Wijaya Karya (Wika) Bitumen Sri Mulyono.

Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Ali Mazi pun setuju dengan pendapat Direktur Utama Bitumen. Menurutnya , hal tersebut merupakan bukti nyata kekayaan sumber daya alam di Buton. Aspal ini bisa digunakan untuk kepentingan bangsa dan negara, bahkan untuk kepentingan luar negeri.

Dia  menjelaskan bahwa Indonesia telah membangun jalan dengan Asbuton sejak tahun 1926, tetapi baru kali ini industri Asbuton dibangun menggunakan high technology. Ia pun berharap industri Asbuton ini dapat segera terealisasi karena sudah ada kebijakan pemerintah yang mengatur.

Terdapat tujuh jenis Aspal Buton, yakni B 5/20 Buton Granular Asphalt (BGA), B 50/30 Lawele Granular Asphalt (LGA), pracampur performance grade (PG) 70, pracampur PG 76, pracampur, cold paving hot mix Asbuton (CPHMA), dan Asbuton Murni. Dengan kapasitas terpasang sebanyak 1,995,000 ton per tahun, target produksi di Indonesia pada tahun 2021 baru sepertiganya, yakni sebesar 705,300 ton per tahun.
EDITOR:

ARTIKEL LAINNYA