Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Siap Mundur Jika Kebijakan Impor Beras Salah, Begini Penjelasan Mendag Lutfi

LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK
  • Selasa, 23 Maret 2021, 17:10 WIB
Siap Mundur Jika Kebijakan Impor Beras Salah, Begini Penjelasan Mendag Lutfi
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi/Net
Polemik kebijakan impor beras dengan kuota 1 juta ton masih menjadi topik hangat dan menuai pro kontra.

Terkini, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menegaskan bahwa kebijakan tersebut sudah tepat dan diambil dengan berbagai pertimbangan.

Bahkan, Lutfi menegaskan siap mundur sebagai menteri apabila kebijakan impor beras 1 juta ton di 2021 terbukti salah di kemudian hari. Pernyataan itu menjadi jawaban Lutfi pada pertanyaan anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDIP I Nyoman Parta.

"Saya mesti mengambil keputusan pada keputusan yang tidak populer. Kalau memang saya salah, saya siap berhenti. Tidak ada masalah, saya berhenti tidak ada masalah," tegas Lutfi dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR RI pada Senin (22/3).

Lutfi memaparkan, keputusan untuk melakukan impor 1 juta ton beras guna memenuhi cadangan stok beras Bulog.

Dikatakan dia, keptusan itu diambil berdasarkan keputusan sejak Desember 2020 atau sebelum dirinya menjabat Menteri Perdagangan.

"23 Desember 2020, sudah ada notulen rapat di tingkat kabinet. Jadi, artinya ini di tingkat lebih atas dari ratas menko memutuskan bahwa Bulog untuk 2021 itu mesti mempunyai cadangan atau iron stock (beras)," jelasnya.

Salah satunya, kata Lutfi, cadangan Bulog tahun ini diperoleh dari pengadaan 500 ribu ton beras impor.

"Jadi waktu saya datang, saya hanya menghitung jumlahnya," tuturnya.

Berdasarkan penghitungannya, stok beras cadangan Bulog saat ini hanya tersedia sebanyak 800 ribu ton. Di mana di dalamnya ada 270.000-300.000 ton dari stok tersebut merupakan beras hasil impor tahun 2018 silam.

Namun, sebanyak 300 ribu beras sisa impor tersebut berpotensi mengalami penurunan mutu.

"Artinya, Bulog hari ini bisa cadangannya di bawah 500 ribu ton," katanya.

Sementara itu, kata Lutfi, penyerapan gabah oleh Bulog dirasa masih belum optimal, karena baru setara beras mencapai 85.000 ton mendekati musim panen ini. Padahal, target penyerapan gabah mendekati 500.000 ton per Senin (22/3).

"Jadi, penyerapan tidak jalan dengan baik. Ini menyebabkan stok Bulog pada saat yang paling rendah dalam sejarah," urainya.

Lanjutnya, rendahnya penyerapan gabah sendiri lebih dikarenakan aturan teknis yang mesti dipatuhi Bulog dalam membeli gabah petani. Menyusul dalam Permendag 24/2020, gabah harus dengan kadar air maksimal 25 persen dan seharga Rp 4.200 per kilogram.

"Sedangkan, permasalahannya hari ini curah hujan yang tinggi menyebabkan gabah petani tidak bisa dijual ke Bulog karena basah," katanya.

Oleh karena itu, Lutfi mengatakan, impor menjadi solusi yang bisa diterapkan saat ini untuk menambal cadangan beras yang defisit saat ini. Kendati, kebijakan ini disadari tidak bisa menyenangkan semua pihak.

"Jadi, ini tanggung jawab saya. Sudah tidak usah melebar diskusinya. Saya janji tidak ada impor ketika panen raya. Selesai," tandasnya.

ARTIKEL LAINNYA