Ketua Fraksi PAN DPR RI Luruskan Maksud Ucapan Zulhas Soal Demokrasi Culas Di Indonesia

Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan/Repro

Pernyataan Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan yang menyampaikan sistem demokrasi culas di Indonesia menjadi polemik.

Alasan demokrasi culas, kata Zulhas, karena politik saat ini mengesampingkan kemufakatan dan hanya mengedepankan menang-menangan semata.

"Pilkada 2017, 2018. Pileg dan Pilpres 2019 serta Pilkada Serentak 2020 Desember yang lalu telah menunjukan kepada kita karakter demokrasi yang culas dan hanya berpikir menang-menangan," kata Zulkifli Hasan dalam pidato kebangsaannya melalui virtual, Rabu (24/3).

Politik elektoral, kata Zulhas sudah sangat bergeser yang saat ini hanya berpikir untuk memperebutkan kekuasaan belaka tanpa memikirkan rakyat.

Soal polemik itu, Ketua Fraksi PAN DPR RI Saleh Partaonan Daulay menyampaikan maksud dari pernyataan Zulhas tersebut pada prinsipnya mengingatkan bahwa politik di Indonesia belakangan ini sudah menyimpang dari yang semestinya.

Zulhas, kata Saleh, memulai keresahannya dari adanya fenomena global dan geopolitik di Dunia.

“Di mana dia lihat ada kekuatan besar ini yang sudah mendominasi lintas global yaitu kekuatan AS yang dikatakan sebagai kekuatan yang liberal, satu lagi di sisi lain ada China, yaitu kekuatan sosialis, dan dua kekuataan ini kan sedang berlomba-lomba untuk menancapkan pengaruhanya dan tanduknya tentu salah satunya kepada Indonesia,” ucap Saleh kepada Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (25/3).

Lanjut Saleh, dalam pidato Zulhas semalam, dimaksudkan bahwa demokrasi yang dikembangkan Indonesia ini telah menyimpangd ari asas Pancasila dan dekat dengan sistem demokrasi liberal.

“Sangat liberal kuat-kuatan, menang-menangan. Jadi yang menang itu rasanya ambil alih semua, dan kurang lebih tanpa memikirkan yang lainnya,” terangnya.

Selain itu, kata Saleh, Zulhas juga menyoroti soal munculnya friksi-friksi di tengah masyarakat Indonesia yaitu keterbelahan yang nampak dalam Pilpres 2019.

“Dalam pilpres kemarin itu pembelahannya sangat besar sekali, ada istilah kampret dan cebong. Nah Bang Zul itu sebetulnya merasa itu perlu dilakukan pembenahan dalam wadah NKRI, kita harus mengembalikan lagi kohesivitas sosial kita, dalam satu NKRI. Tapi yang terjadi justru sebelum itu disatukan kembali, para pemainnya itu justru bersatu mengambil dan merebut kekuasaan," bebernya.

"Jadi kelihatan masyarakatnya itu ditinggalkan sebelum disatukan kembali. Nah ini kan fenomena yang tidak lazim,” tandasnya.

Kolom Komentar


Video

Farah ZoomTalk Spesial Ramadhan • Salam sehat, bahagia penuh kegembiraan

Rabu, 05 Mei 2021
Video

Indonesia Bangkit Pembangunan Ekonomi

Kamis, 06 Mei 2021
Video

Tanya Jawab Cak Ulung • Tragedi Nanggala, Lalu Apa?

Kamis, 06 Mei 2021

Artikel Lainnya

Pekerja Dari Luar Kota Wajib Miliki Surat Tugas Saat Masuk Jakarta
Politik

Pekerja Dari Luar Kota Wajib..

07 Mei 2021 18:06
Lieus Sungkharisma: Sidang HRS Bukan Masalah Hukum Tapi Politik, Jokowi Harus Turun Tangan
Politik

Lieus Sungkharisma: Sidang H..

07 Mei 2021 17:47
Fadli Zon: Omnibus Law Gagal Sejahterahkan Buruh
Politik

Fadli Zon: Omnibus Law Gagal..

07 Mei 2021 17:41
Busyro Muqoddas Ungkap Ada Upaya Mutilasi KPK Yang Sempat Kandas Di Era SBY
Politik

Busyro Muqoddas Ungkap Ada U..

07 Mei 2021 17:25
Bantah Isu Taliban Di KPK, Busyro Muqoddas: 8 Dari 75 Pegawai Tak Lolos TWK Beragama Kristiani Dan Buddha
Politik

Bantah Isu Taliban Di KPK, B..

07 Mei 2021 17:16
Bambang Soesatyo: Punya Pasar Besar, Kemenhub Dan IMI Sedang Bahas Legalitas Kendaraan Kustom
Politik

Bambang Soesatyo: Punya Pasa..

07 Mei 2021 17:15
Revisi UU Otsus Papua Terus Dibahas DPR, Gerindra: Semoga Jadi Solusi
Politik

Revisi UU Otsus Papua Terus ..

07 Mei 2021 16:59
Busyro Muqoddas: Nilai Kebangsaan Terus Digerus Mesin Korupsi Menggunakan Imperium Buzzer
Politik

Busyro Muqoddas: Nilai Keban..

07 Mei 2021 16:49