Aktivis Mahasiswa Dorong Pemerintah Sinergis Bendung Radikalisme Di Kalangan Milenial

Diskusi virtual Aliansi Cipayung Plus DKI Jakarta bertema 'Lawan Terorisme, Perkokoh Persatuan Nasional'/Repro

Isu radikalisme dan terorisme nyata dan bukan hal yang dibuat-buat oleh pihak mana pun. Pelaku terorisme ini berupaya memecah belah bangsa.

Demikian ditegaskan Kordinator Wilayah 3 Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Andreas Simanjuntak dalam diskusi virtual bertema 'Lawan Terorisme, Perkokoh Persatuan Nasional' yang digelar kelompok aktivis mahasisa dalam Aliansi Cipayung Plus DKI Jakarta, Kamis (8/4).

Andreas menambahkan, kaum muda usia 18 tahun sampai 23 tahun menjadi kelompok yang rentan direkrut sebagai pelaku teror dikarenakan adanya pemahaman ajaran agama yang keliru dan seringkali disalahtafsirkan. Termasuk kurangnya pemahaman ideologi Pancasila.

"Kalau kita berkaca pada sejumlah penelitian, ditemukan kecenderungan bahwa anak muda usia 18 tahun sampai 23 tahun rentan terpapar paham radikalisme yang berujung pada terorisme," kata Andreas.

Dalam diskusi yang sama, Ketua Himpunan Mahasiswa Islam HMI Jakarta Pusat-Utara, Lalu Ahmad Husein memaparkan bahwa fenomena terorisme bukan hanya terjadi di Indonesia, namun juga dunia internasional. Oleh karenanya, ia menekankan perlunya upaya pemerintah untuk lebih masif menekan potensi-potensi terjadinya terorisme.

"Saya kira ke depan pemerintah perlu memperketat peredaran bahan peledak agar tidak disalahgunakan. Dan saya juga mau tegaskan, dalam Islam yang saya yakini, tidak ada satu pun dalil yang membenarkan hal tersebut," ungkapnya.

Ketua Umum PMII Jakarta Pusat, Poni Dwi Setiadi menambahkan, konsep terorisme, intoleransi, dan radikalisme tidak dapat diterima oleh belahan dunia manapun.

Ia juga berharap lembaga terkait bisa berkolaborasi dengan organisasi kepemudaan untuk merumuskan metodologi yang efektif guna membendung penyebaran paham tersebut.

"Kami menantang pemerintah,Polri dan TNI serta pihak terkait untuk bersinergi dan berkolaborasi, merumuskan sebuah metodologi yang tepat dan efektif guna membendung penyebaran paham radikalisme, terorisme, dan intoleransi," ujarnya.

Diskusi virtual tersebut dihadiri sejumlah aktivis mahasiswa. Selain dihadiri GMKI, PMII, dan HMI, turut hadir pula Ketua Umum Bakerda Gmni DKI Jakarta, Edgar Joshua; Ketua Umum PMKRI Jakarta Pusat, Christo Maria Sultan; serta Ketua GPII Jakarta Selatan, Rivaldi.
EDITOR: DIKI TRIANTO

Kolom Komentar


Video

Rekaman CCTV Kecelakaan Di Cileungsi, Mobil Box Parkir Ditabrak Mobil Box

Selasa, 20 April 2021
Video

Tanya Jawab Cak Ulung • Reshuffle Kabinet: Inisial M dan Sowannya Nadiem ke Megawati

Kamis, 22 April 2021

Artikel Lainnya

Bamsoet: Jika Hilangnya KRI Nanggala-402 Karena Usia Uzur, Menhan Harus Lakukan Peremajaan
Politik

Bamsoet: Jika Hilangnya KRI ..

22 April 2021 17:55
Fotonya Jadi Sampul Laporan APBN, Komisi XI: Sri Mulyani Jalankan Misi Siapa?
Politik

Fotonya Jadi Sampul Laporan ..

22 April 2021 17:33
Undang Mendag Dan Mentan, KPK Bahas Kajian Tata Kelola Impor Komoditas
Politik

Undang Mendag Dan Mentan, KP..

22 April 2021 17:31
Tiba Di Kantor Demokrat, Presiden PKS Dan Rombongan Disambut Hangat AHY
Politik

Tiba Di Kantor Demokrat, Pre..

22 April 2021 16:54
Terbesar Di ASEAN, Industri Kaca Batang Jadi Angin Segar Bagi Tenaga Kerja Indonesia
Politik

Terbesar Di ASEAN, Industri ..

22 April 2021 16:46
Mengaku-ngaku Tokoh NU, Sangat Riskan Kalau Witjaksono Diplot Menteri Investasi
Politik

Mengaku-ngaku Tokoh NU, Sang..

22 April 2021 16:36
Prabowo Subianto: Pemerintah Dilema, Dahulukan Pertahanan Negara Atau Pembangunan Kesejahteraan Rakyat
Politik

Prabowo Subianto: Pemerintah..

22 April 2021 16:36
Ketua DPR: Jika KRI Nanggala-402 Bermasalah Karena Usia, Alutsista TNI Harus Dimodernisasi
Politik

Ketua DPR: Jika KRI Nanggala..

22 April 2021 16:14