Farah.ID
Farah.ID

Meutya Hafid: Memiliki Peran Penting, Kapasitas Partisipasi Perempuan Di Era Digital Perlu Ditingkatkan

LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK
  • Jumat, 23 April 2021, 23:05 WIB
Meutya Hafid: Memiliki Peran Penting, Kapasitas Partisipasi Perempuan Di Era Digital Perlu Ditingkatkan
Ketua Komisi I DPR RI Meutya Hafid/Net
  Hadirnya revolusi industri 4.0 dapat dimanfaatkan dan dikelola oleh kaum perempuan karena prospeknya menjanjikan bagi posisi perempuan sebagai bagian penting dari peradaban dunia.

Hal itu disampaikan Ketua Komisi I DPR RI Meutya Hafid saat menjadi pembicara kunci dalam acara webinar ngobrol bareng legislator bertajuk "Inspirasi Kartini di Era Digital" yang digelar secara virtual di Jakarta, Jumat (23/4).

Selain Meutya Hafid, para pembicara yang hadir dalam acara itu, Direktur Tata Kelola Aplikasi Informatika, Mariam F. Barata dan Founder One Day To Write, Lala Elmira.

Meutya mengungkapkan, di era digital, kaum perempuan membutuhkan tidak hanya pembekalan untuk menambah kemampuan manajerial, tapi juga akses pendampingan.

"Motivasi untuk mengembangkan usahanya, serta akses digital seperti pemberian pelatihan bisnis dan pengelolaan keuangan berbasis digital," ujar Meutya.

Ia mengatakan, kebijakan pemberdayaan perempuan di era digital perlu didukung dengan peningkatan kualitas kebijakan dengan memperluas akses pendidikan dan akses penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Di samping itu, kata politisi Partai Golkar ini, pembangunan nasional juga harus memiliki perspektif gender, apalagi hal ini sudah menjadi prasyarat dalam penetapan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

"Perlu peningkatan kapasitas dan kualitas kesetaraan gender dalam era digital entrepreneurship bagi perempuan," katanya.

Meski begitu, dia juga menilai ada tantangan bagi kaum perempuan di era digital. Seperti kurangnya akses perempuan terhadap informasi.

"Masih berkembangnya stereotype dan labeling bahwa urusan domestik merupakan tanggung jawab perempuan," katanya.

"Kemampuan perempuan sering diremehkan dibanding laki-laki, hal ini mengakibatkan sulitnya perempuan untuk menempati posisi strategis," imbuhnya.

Lanjutnya, DPR sendiri berkomitmen mendorong mitra kerja dalam hal ini pemerintah di bidang komunikasi dan informatika untuk melakukan sosialisasi tentang pentingnya keterlibatan perempuan dalam pembangunan.

Sementara itu, Direktur Tata Kelola Aplikasi Informarika, Mariam F. Barata mengatakan tidak dapat dipungkiri hampir di setiap kehidupan di era digital membutuhkan data pribadi.

"Pemanfaatan data pribadi memerlukan tata kelola yang baik dan akuntabel dalam pemrosesannya," ujar Mariam.

Mariam juga mengungkapkan ada beberapa tantangan perlindungan data pribadi terhadap perempuan. Diantaranya publikasi data pribadi yang berlebihan di media sosial, kurangnya kesadaran pengamanan seperti autentifikasi dan update pasword berkala serta ketakutan untuk melaporkan kegiatan penyalahgunaan data pribadi.

Pada bagian lain, Mariam mengingatkan angka kasus kekerasan berbasis gender siber di ruang siber yang dilaporkan langsung ke Komnas Perempuan yaitu dari 241 kasus pada tahun 2019 naik menjadi 940 kasus di tahun 2020.

"Meningkatnya angka kasus kekerasan berbasis gender di ruang online gender sepatutnya menjadi perhatian serius semua pihak," pungkasnya.

ARTIKEL LAINNYA