Farah.ID
Farah.ID

Haul 100 Tahun HM Soeharto Dihadiri Anies Baswedan, Bambang Soesatyo, dan Din Syamsuddin, Mbak Tutut Ingatkan Filofosi Tri Dharma Mangkunegaran

LAPORAN: YELAS KAPARINO
  • Selasa, 08 Juni 2021, 21:02 WIB
Haul 100 Tahun HM Soeharto Dihadiri Anies Baswedan, Bambang Soesatyo, dan Din Syamsuddin, Mbak Tutut Ingatkan Filofosi Tri Dharma Mangkunegaran
Penyerahan buku profil “Masjid Pak Harto” dari keluarga Soeharto kepada sejumlah tokoh, diantaranya Ketua MPR Bambang Soesatyo, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. KH. Nasaruddin Umar, Prof. Dr. Din Syamsudin, Ir. Akbar Tanjung dan Prof. Dr. Sri Edi Swasono./Ist
Keluarga besar Presiden RI ke-2, H.M. Soeharto menggelar “Peringatan Haul 100 Tahun Haji Muhammad Soeharto.” Acara ini diselenggarakan secara off line dan virtual dengan aplikasi zoom, dari Masjid Agung At-Tin, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Selasa (08/06).

Acara tersebut dihadiri seluruh keluarga besar Soeharto dan sejumlah tamu undangan. Juga 750 orang jamaah Masjid At-Tin, serta pengurus dan jamaah 170 Masjid Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila di seluruh Indonesia.

Putri sulung Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana, dalam sambutannya mewakili putra-putri Soeharto berharap, momentum haul dapat memberi spirit bagi anak bangsa untuk meneruskan perjuangan HM. Soeharto.

"Mudah-mudahan kita yang melanjutkan perjuangan HM. Soeharto senantiasa diberikan kekuatan, taufik dan hidayah-Nya. Sehingga betul-betul dapat melanjutkan apa yang menjadi cita-cita Bapak Pembangunan," harap Tutut yang didampingi adik-adiknya, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Hariyadi dan Hutomo Mandala Putra.
 
Soeharto lahir pada 8 Juni 1921 di Desa Kemusuk, Yogyakarta. Dia dibesarkan di lingkungan Muhammadiyah. Tutut mengatakan, jasa HM. Soeharto dalam membangun citra Islam di Indonesia cukup signifikan.

Salah satu warisannya adalah dibangunnya 999 masjid di seluruh Indonesia, yang pembangunannya dilakukan melalui Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila.
 
“Beliau adalah orang tua bijak yang sangat kami kagumi dan sayangi. Beliau adalah guru dan teladan yang amat kami hormati. Beliau selalu melangkah dengan semangat kerja tak kenal lelah tanpa pamrih, jujur, tekun, tegas, dan bijaksana,” ujar Tutut.

Dikatakan Tutut, ayahnya sering mengingatkan tentang filosofi Tri Dharma Mangkunegaran. Sebuah doktrin Pangeran Sambernyowo, leluhur keluarganya dalam menumbuhkan rasa cinta rakyat kepada bangsa. Doktrin itu dikenal dengan ’Tri Dharma,’ yaitu: ”Melu Handarbeni, Melu Hangrungkebi, Mulat Sariro Hangrosowani.”

Bahwa sebagai rakyat harus tumbuh rasa ikut memiliki (Melu Handarbeni) terhadap bangsa yang besar ini. Untuk itu, kata Tutut, kita harus mengenal secara mendalam terhadap jatidiri bangsa sendiri. Harus memiliki wawasan kebangsaan yang mendalam.

“Jika sudah tumbuh rasa memiliki, maka akan tumbuh tanggung jawab membela dan menjaga bangsa ini serta memajukannya (melu hangrungkebi) untuk kesejahteraan bersama. Dengan kata lain memiliki tanggung jawab kebangsaan,” ujar Tutut lebih lanjut.

Semasa hidupnya, kata Tutut, ayahnya kerap berpesan, agar pandai-pandailah bersyukur. Tutut dan semua keluarganya dididik dalam spirit keagamaan dan tidak semata dibesarkan untuk bisa menikmati gemerlapnya kehidupan.

“Kami ditempa dan diajarkan bagaimana mencintai perjuangan terhadap bangsa untuk mewujudkan cita-cita adil makmur berdasarkan Pancasila,” ungkapnya.

Tutut mengatakan, spirit keagamaan HM. Soeharto, patut menjadi panutan. Salah satu pesannya adalah kewajiban moral manusia mencapai harmoni (keselarasan).

“Seseorang bisa mencapai ‘kawruh bejo’ harus melalui beberapa tahap diantaranya yang terpenting ialah ‘mulat saliro,’ artinya mawas diri, tahu jati diri pribadi,” ungkap Tutut mengutip pesan ayahnya.

Acara “Peringatan Haul 100 Tahun HM. Soeharto” juga ditandai dengan penyerahan buku profil “Masjid Pak Harto” dari keluarga kepada sejumlah tokoh, diantaranya Ketua MPR Bambang Soesatyo, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. KH. Nasaruddin Umar, Prof. Dr. Din Syamsudin, Ir. Akbar Tanjung dan Prof. Dr. Sri Edi Swasono serta pemberian santunan untuk 3.500 anak yatim piatu, yang diberikan secara simbolik kepada 25 perwakilan anak yatim piatu.

ARTIKEL LAINNYA