Farah.ID
Farah.ID

Jazilul Fawaid: Perjuangan Pemuda Saat Ini Semestinya Lebih Hebat Dibandingkan Pemuda Dahulu

LAPORAN: RAIZA ANDINI
  • Rabu, 09 Juni 2021, 11:40 WIB
Jazilul Fawaid: Perjuangan Pemuda Saat Ini Semestinya Lebih Hebat Dibandingkan Pemuda Dahulu
Wakil Ketua MPR, Jazilul Fawaid/RMOL
Kehadiran generasi muda termasuk para santri dalam perjalanan sejarah bangsa tidak bisa dipandang sebelah mata.

Hal tersebut diingatkan kembali oleh Wakil Ketua MPR RI, Jazilul Fawaid, yang menilai kiprah pemuda menjadi salah satu faktor utama penentu tercapainya kemerdekaan Indonesia.

Di antaranya peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, yang digagas dan dilaksanakan oleh pemuda dari berbagai daerah, berhasil meletakkan dasar persatuan dan kebhinnekaan bangsa. Contoh lainnya, dua tokoh proklamator yakni Bung Karno dan Bung Hatta dan beberapa pahlawan nasional memulai perjuangannya di usia muda.

“Dengan situasi serta kondisi yang serba sederhana dan terbatas, mereka mampu membawa bangsa ini menjadi negara berdaulat lalu mewariskannya kepada generasi sekarang untuk dinikmati,” kata Gus Jazil lewat keterangannya, Rabu (9/6).

Semestinya, lanjut Jazilul, pemuda-pemuda masa kini lebih bersemangat dan lebih hebat lagi untuk berjuang mengisi kemerdekaan dibanding para pahlawan bangsa dahulu. Apalagi, mereka didukung kecanggihan teknologi digital seperti telepon pintar, internet, dan sebagainya.

“Tapi, harus diakui semakin modern zamannya, semakin besar dan kompleks tantangan yang harus dihadapi para pemuda. Untuk menjawab itu, Indonesia membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul yang hanya bisa didapat melalui sistem dan lembaga pendidikan berkualitas,” terangnya.

Anggota Komisi III DPR RI ini berpendapat, untuk mencetak para santri atau anak didik menjadi manusia Indonesia unggul, mereka harus dibekali dengan empat ilmu. Pertama adalah ilmu etika.

“Etika sangat penting, jangan sampai anak mendapatkan ilmu pengetahuan yang bagus tapi minim etika. Ilmu agama adalah salah satu bagian dari ilmu etika yang mengajarkan kepada anak bagaimana cara bergaul dengan Allah SWT Tuhan, semesta alam, dan bagaimana cara bergaul dengan sesama,” tegasnya.

Kedua, ilmu matematika atau menghitung. Ketiga, ilmu bahasa. Keempat, Ilmu logika atau filsafat.

“Ilmu ini mesti diajarkan. Sebab, jika anak didik di masa depan menjadi pemimpin atau menduduki posisi strategis lainnya, ia akan mampu membuat berbagai keputusan yang bijak, sebab sudah terbiasa diajari berpikir baik saat menempuh pendidikan,” tutupnya.
EDITOR: AGUS DWI

ARTIKEL LAINNYA