Farah.ID
Farah.ID

PPKM Mikro Tak Efektif Tanggulangi Lonjakan Di Yogyakarta, Sultan: Mau Apa Lagi? Ya Lockdown

LAPORAN: AHMAD SATRYO
  • Jumat, 18 Juni 2021, 14:46 WIB
PPKM Mikro Tak Efektif Tanggulangi Lonjakan Di Yogyakarta, Sultan: Mau Apa Lagi? Ya Lockdown
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X/Net
Solusi pegendalian Covid-19 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang selama ini sesuai dengan pemeritah pusat, yaitu Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat di tingkat RT/RW (PPKM Mikro), tidak cukup efektif.

Hal itu disampaikan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, merespon kenaikan kasus positif Covid-19 di wilayahnya yang cukup tinggi, yaitu mencapai 500 orang dalam seharinya.

Untuk itu, ia memandang solusi yang tepat untuk menekan lonjakan kasus adalah penguncian atau lockdown, seperti yang disampaikan sejumlah pakar kesehatan dan elemen masyarakat.

"PPKM ini kan sudah bicara nangani RT/RW (membatasi aktivitas warga paling bawah). Kalau realitasnya masih seperti ini mau apa lagi, ya lockdown," ujar Sultan kepada wartawan di Kantor Gubernur DIY, Kompleks Kepatihan, Kemantren Danurejan, Jumat (18/6).

Pemerintah DIY sendiri, dijelaskan Sultan, sudah menerapkan PPKM Mikro sebagai langkah pencegahan penularan di masyarakat.

Namun faktanya, kebijakan yang dikeluarkannya melalui instruksi gubernur (Ingub No. 15/INSTR/2021), yang isinya memperketat mobilitas masyarakat hingga tingkat kelurahan tak juga berefek.

"Kalau masih tembus arep apa maneh (mau apa lagi)? Ya lockdown," tegasnya.

Salah satu penyebab lonjakan kasus tidak bisa terkendali di DIY, menurut Sultan, adalah kepatuhan masyarakat akan protokol kesehatan dan kesadaran melindungi diri masih rendah.

Maka dari itu, solusi lockdown yang ia usulkan ini juga penting untuk menjaga keterisian tempat tidur (bed occupancy rate) di rumah sakit yang selama sepekan terakhir sudah menyentuh angka 75 persen, lebih tinggi dari pekan lalu yang masih berada di kisaran 35 persen.

Disamping itu, Sultan juga masih melihat potensi penularan dalam proses isolasi mandiri warga di rumah. Karena, bukan tidak mungkin warga yang tinggal dalam rumah akan menulari keluarganya atau tetangganya.

"Karantina di rumah selama tidak punya toilet sendiri satu keluarga pasti kena gitu. Kalau enggak punya toilet sendiri juga ke tetangga yang bisa nular dan sebagainya. Sehingga kita ketati," tutrnya.

"Mereka sekarang mobile (beraktivitas), tidak disiplin. Nek ora ya wis (kalau tidak bisa disiplin) lockdown aja gitu, enggak ada pilihan," tandasnya.
EDITOR: AHMAD SATRYO

ARTIKEL LAINNYA