Farah.ID
Farah.ID

Perhimpunan Survei Persepi Berharap Penelitian Ilmiah Terkait Pandemi Bisa Lebih Banyak Dilakukan

LAPORAN: RAIZA ANDINI
  • Rabu, 14 Juli 2021, 12:06 WIB
Perhimpunan Survei Persepi Berharap Penelitian Ilmiah Terkait Pandemi Bisa Lebih Banyak Dilakukan
Anggota Dewan Etik Persepi, Prof. dr. Asep Saefudin/Net
Perhimpunan Survei Opini Publik (Persepi) mengapresiasi survei yang dilakukan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), dan berharap kalau survei-survei ilmiah sejenis bisa dilakukan di daerah-daerah lain selain Jakarta.

Hal itu disampaikan Anggota Dewan Etik Persepi, Prof. dr. Asep Saefudin, dalam diskusi virtual yang digelar Persepi tentang Metode dan Hasil Penelitian Pravelensi Antibodi Positif SARS CoV-2 di DKI Jakarta yang dilakukan FKM UI.

Dalam diskusi tersebut, Iwan Ariawan, Pandu Riono, dan Muhammad N Farid dari FKM UI memaparkan, metodologi yang digunakan dan hasil survei mereka.

Dalam penelitian ini, FKM-UI bekerja sama dengan Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Lembaga Eijkman, dan CDC Indonesia. Metode survei yang digunakan adalah sampling stratified multistage sampling design, dengan jumlah sampel 4.919 atau 98,4 persen dari target sampel 5.000 penduduk usia 1 tahun atau lebih.

Sampel tersebar di 100 kelurahan di enam wilayah administrasi DKI Jakarta pada 15 sampai 31 Maret 2021. Untuk mendeteksi sampel pernah terdampak atau tidak, tim FKM UI mendeteksi antibodi SARS CoV-2 menggunakan tes tetracore-luminex.

Hasil temuannya mengejutkan di mana disebutkan hampir separuh warga DKI Jakarta pernah terpapar Corona.

Dalam penelitian ini, FKM-UI bekerja sama dengan Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Lembaga Eijkman, dan CDC Indonesia. Metode survei yang digunakan adalah sampling stratified multistage sampling design, dengan jumlah sampel 4.919 atau 98,4 persen dari target sampel 5.000 penduduk usia 1 tahun atau lebih.

Sampel tersebar di 100 kelurahan di enam wilayah administrasi DKI Jakarta pada 15 sampai 31 Maret 2021. Untuk mendeteksi sampel pernah terdampak atau tidak, tim FKM UI mendeteksi antibodi SARS CoV-2 menggunakan tes tetracore-luminex.

"Hasilnya, separuh penduduk Jakarta pernah terinfeksi COVID-19 atau 44,5 persen, dengan jenis kelamin perempuan lebih tinggi," kata Epidemuilog FKM UI, Pandu Riono lewat keterangan persnya, Rabu (14/7).

Jumlah sample yang terpapar, laki-laki sebanyak 41,0 persen dan perempuan 47,9 persen. Infeksi hampir merata di setiap kelompok umur penduduk, terbanyak pada umur 30-40 tahun.

Pandu menjelaskan jumlah infeksi tertinggi terdapat di Jakarta Pusat dengan jumlah 53,7 persen. Sedangkan terendah terdapat di Kepulauan Seribu dengan 39,3 persen.

Berikut hasil survei FKM UI soal penduduk Jakarta yang pernah terinfeksi COVID-19: Jakarta Pusat (53,7 persen); Jakarta Barat (45,4 persen); Jakarta Utara (44,5 persen); Jakarta Selatan (44,4 persen); Jakarta Timur (40,0 persen); dan Kepulauan Seribu (39,3 persen).

Mengenai perbedaan data antara data pemerintah dan hasil survei, menurut Asep Saefudin adalah hal yang wajar dan tidak perlu dipertentangkan, justru harus saling mendukung. Karena data pemerintah diambil dari test yang dilakukan, tidak diacak untuk mewakili populasi.

ARTIKEL LAINNYA