Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Pandemi Tak Kunjung Terkendali, Akademisi Dan Pegiat Kemanusiaan Ajak Masyarakat Saling Bantu

LAPORAN: AGUS DWI
  • Kamis, 15 Juli 2021, 09:45 WIB
Pandemi Tak Kunjung Terkendali, Akademisi Dan Pegiat Kemanusiaan Ajak Masyarakat Saling Bantu
Tokoh Kemanusiaan, Sudirman Said/Net
Akademisi dari sejumlah Perguruan Tinggi dari dalam dan luar negeri bersama para tokoh pegiat kemanusiaan satu suara mengajak masyarakat untuk bantu sesama. Hal ini disampaikan saat diskusi daring tentang ajakan Solidaritas Kemanusiaan, Rabu (14/7).

Tokoh Kemanusiaan, Sudirman Said, pada forum itu mengatakan, sebuah tindakan kemanusiaan bersama dapat menjadi solusi ampuh dalam menyelesaikan pandemi Covid-19 saat ini.

"Sebenarnya masyarakat mau berkorban bersama-sama saling sharing the pain, yang diperlukan saat ini adalah keterbukaan dan kesediaan pemerintah untuk menjelaskan keadaan sebenarnya," kata Sudirman.

Lebih lanjut, Sekjen Palang Merah Indonesia ini mengungkapkan, ada kecenderungan ketaatan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah makin menurun. Bukan karena tidak mau taat. Tetapi karena cemas, karena ketakutan, dan karena tekanan kebutuhan hidup.

"Yang kita takutkan ketika keadaan begitu buruk, pemerintah menghadapi defisit kepercayaan. Sehingga tindakan-tindakan yang sifatnya terobosan tidak lagi diterima sebagai tindakan yang efektif. Oleh sebab itu mari kita bantu pemerintah, kita bantu negeri ini, bersama-sama," ajak Sudirman Said.

Sementara itu, Peneliti ISEAS Singapura dan Universitas Manchester Inggris, Yanuar Nugroho, yang hadir pada diskusi ini mengharapkan pemerintah perlu mengkaji lebih dalam dan jangan buru-buru mengakhiri PPKM Darurat.

"Saya mengharapkan pemerintah untuk tidak terburu-buru mengakhiri PPKM Darurat apalagi bila hanya dengan asumsi kasus segera turun," ujar Yanuar.

Yanuar menambahkan, pemerintah perlu mempercepat penyelesaian aturan untuk membantu sektor informal. Kemudian mempertajam strategi vaksinasi dengan dua fokus, juga mengamankan suplai dan meningkatkan kecepatan vaksin. Termasuk juga mempermudah akses masyarakat pada vaksinasi, dan memastikan vaksin di daerah 3T.

"Pemerintah juga perlu memiliki program perlindungan sosial harus adaptif, dan adanya tata kelola data. Dan yang terpenting adalah strategi komunikasi kebijakan. Adanya pesan tunggal agar kepercayaan terhadap pemerintah meningkat," tambah Yanuar.

Hal yang sama disampaikan akademisi dari Hilversum, Belanda, Eddy Wiria. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk saling bantu sesama dalam menghadapi pandemi Covid-19.

"Apa yang dilakukan di Belanda, adalah adanya kerja sama dan solidaritas dari pemerintah, instansi, dan masyarakat. Kita perlu bekerja sama demi kepentingan bersama," jelas Eddy.

"Di Belanda saat ini kapasitas tes dipesatkan, saat ada gejala batuk pilek langsung tes di tempat-tempat tes di seluruh Belanda. Vaksin di percepat dan gratis," lanjut Eddy, menggambarkan kondisi di Belanda saat ini.

Eddy juga mengatakan, aturan cuci tangan dan social distancing serta vaksinasi membuat banyak penurunan kasus Covid-19, data-data tersebut semua ditunjukan kepada masyarakat.

"Standar protokol kesehatan selalu diikuti dan semua mengikuti dengan hati-hati sesuai dengan protokol pemerintah," tuturnya.

Diskusi Solidaritas Kemanusiaan ini juga dihadiri oleh akademisi Universitas Gadjah Mada, Profesor Muhamad Baiquni; Rektor Universitas Syah Kuala, Profesor Samsul Rizal; akademisi Universitas Sam Ratulangi, Profesor Winda Mercedes Mingkid.

Kemudian Profesor Hera Oktadiana di Australia; Kandidat Doktor Universitas Taiwan, Andi Azhar; akademisi Universitas Paramadina, Hendri Satrio; pegiat Sosial Kemanusiaan Dadang Juliantara, Raharja Waluya Jati, Untoro Hariadi, Agung Hendarto; dan akademisi Universitas Negeri Yogyakarta, Dwi Harsono sebagai Moderator.
EDITOR:

ARTIKEL LAINNYA