Farah.ID
Farah.ID

Benci Tapi Rindu, Hubungan Unik Gus Dur Dan Megawati Yang Belum Tuntas

LAPORAN: FAISAL ARISTAMA
  • Jumat, 23 Juli 2021, 02:34 WIB
Benci Tapi Rindu, Hubungan Unik Gus Dur Dan Megawati Yang Belum Tuntas
Pendiri Lembaga Survei/Konsultan Politik PollMark Indonesia, Eep Saefulloh Fatah/Repro
Genap 20 tahun Presiden KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dimakzulkan melalui Sidang Istimewa MPR pada 23 Juli 2001 silam.

Hiruk pikuk politik dan beragam kepentingan menambah sulit dan masih menyisakan sejumlah pertanyaan, tentang siapa dalang di balik peristiwa lengsernya presiden yang terlahir dari kalangan Kiai itu.

Menurut Pendiri Lembaga Survei/Konsultan Politik PollMark Indonesia, Eep Saefulloh Fatah, di balik setiap peristiwa politik tidak ada satu faktor determinan. Sehingga, sulit rasanya menunjuk hidung atau pihak tertentu di balik pemakzulan Gus Dur.

“Kalau ada pertanyaan siapa dalangnya? Tidak mungkin kita menunjuk satu orang dan tidak mungkin kita menunjuk satu pihak, “ kata Eep Saefulloh dalam talk show “20 Tahun Pemakzulan Gus Dur: Siapa Sang Dalang?” yang disiarkan secara langsung melalui YouTube Refly Harun Chanel, pada Kamis malam (22/7).

Dia mengatakan, hubungan Gus Dur dan Megawati Soekarnoputri yang kala itu menjabat wakil presiden memiliki keunikan tersendiri yang juga berpern penting dalam drama pemakzulan Gus Dur. Dia menyebutnya dengan istilah “benci tapi rindu”.

Hubungan unik ini belum tuntas hingga Gus Dur di-impeach pada 23 Juli 2001 lalu.

“Harus diakui bahwa ada sesuatu yang tidak selesai di dalam hubungan itu (Gus Dur dan Megawati), semacam benci tapi rindu. Itu terpelihara terus dan menurut saya, ini menjadi faktor yang sangat penting yang harus kita hitung,” sambungnya.

Hubungan tersebut terjadi karena PDI Perjuangan tidak puas atas kekalahan Mega dalam pemilihan presiden di MPR. PDIP yang dalam Pemilu 1999 meraih 30 persen suara merasa Mega seharusnya menjadi presiden. Namun fakta di lapangan memperlihatkan koalisi Poros Tengah menggagalkan keinginan itu.

“Saya yakin Gus Dur menjadi presiden selama 642 hari, urusan itu tidak tuntas dan tetap terpelihara. Perasaan bahwa seharusnya mereka (PDIP) yang menjadi pemenang politik dan Mbak Mega menjadi presiden itu masih terpelihara,” ucapnya.

Eep mengamini pernyataan Jurubicara Gus Dur, Adhie Massardi, yang menyebut ada peran penting Mega di balik pelengseran Gus Dur.

“Tentu peranan Mbak Mega begitu penting. Sulit sekali membantah soal itu, baik secara logis maupun secara faktual,” demikian Eep.

Turut hadir sebagai narasumber dalam diskusi tersebut antara lain mantan Menko Ekui era Gus Dur, Rizal Ramli, Adhie M Massardi, jurnalis senior Teguh Santosa, Ketua Pansus Buloggate DPR kala itu, Bachtiar Chamsyah, politisi senior PBB, MS Kaban, politikus senior PAN, Fuad Bawazier, dan sebagai moderator Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun.  
EDITOR: DIKI TRIANTO

ARTIKEL LAINNYA