Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

20 TAHUN PEMAKZULAN GUS DUR

Ariady Achmad: Gus Dur Tidak Ingin Berkuasa, Ia Berjuang Untuk Perbaikan Kehidupan Bangsa

LAPORAN: YELAS KAPARINO
  • Jumat, 23 Juli 2021, 22:17 WIB
Ariady Achmad: Gus Dur Tidak Ingin Berkuasa, Ia Berjuang Untuk Perbaikan Kehidupan Bangsa
Mantan anggota Fraksi Golkar Ariady Achmad (kiri) dan mantan Presiden Abdurrahman Wahid/RMOL
Salah satu kelebihan Abdurrahman Wahid ketika berkuasa pada kurun 1999-2001 adalah komitmennya dalam memperjuangkan perbaikan kehidupan demokrasi dan ekonomi di Indonesia.

Dalam menjaga komitmen itu, Gus Dur menolak tawaran politik akomodasi baik yang disampaikan kawan maupun lawan politiknya.

Usia kekuasaan Gus Dur tidak lama. Karena enggan mengakomodasi kepentingan-kepentingan “sejengkal” yang ditawarkan kepadanya, Gus Dur harus menerima takdir dilengserkan dari kekuasaan oleh pihak-pihak yang awalnya justru mendukung dirinya.

Pada tanggal 23 Juli 2001, Sidang Istimewa MPR RI menjatuhkan Gus Dur dan memberikan kekuasaan kepada Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri.

Menurut salah seorang sahabat dekat Gus Dur pada masa-masa itu, Ariady Achmad, dirinya menyaksikan dari dekat kegigihan Gus Dur menolak tawaran-tawaran akomodasi dari berbagai pihak tersebut.

“Pada intinya mereka ingin memperjuangkan kepentingan mereka yang hanya sejengkal, untuk sekadar menikmati kekuasaan. Sementara bagi Gus Dur yang paling penting bukan kekuasaan, tetapi bekerja untuk memperbaiki kehidupan rakyat,” ujar Ariady Achmad dalam perbincangan dengan redaksi Kantor Berita Politik RMOL, Jumat petang (23/7).

Ariady Achmad merasa perlu menyampaikan kesaksian untuk mengenang 20 tahun peristiwa penggulingan Gus Dur. Menurutnya, peristiwa ini penting untuk dikenang, agar generasi kini dan mendatang dapat memetik pelajaran berharga dan berguna bagi perjalanan kehidupan bangsa.

Dia menyebutkan sejumlah nama politisi yang sempat mendekati dirinya untuk membantu merayu Gus Dur. Tetapi ia menolak tegas, karena tahu Gus Dur tidak akan menerima kompromi untuk kepentingan sejengkal.

“Sekarang kalau mereka ketemu saya tidak bisa banyak bicara. Mereka boleh berkata apapun sekarang ini soal Gus Dur, tapi saya tahu keinginan mereka yang sesungguhnya, juga kemarahan mereka ketika keinginan itu tidak dipenuhi Gus Dur,” ujarnya lagi.

Posisi Ariady Achmad ketika itu cukup menarik. Dia adalah Anggota Fraksi Golkar, salah satu kelompok politik yang merongrong Gus Dur ketika itu. Tetapi di sisi lain, hubungannya dengan Gus Dur sangat erat. Karena mengambil posisi yang berseberangan, sikap wakil rakyat dari Lampung ini kerap dipertanyaan oleh kawan-kawan satu fraksi dan satu partainya.

Ariady Achmad tidak peduli dengan teguran-teguran itu. Sedari awal dia meyakini bahwa kekisruhan politik yang terjadi saat itu adalah blunder yang sengaja diciptakan untuk mendepak Gus Dur keluar dari lapangan pertandingan. Plus pada masa itu, sebagai bagian dari buah reformasi, pimpinan pusat partai politik belum memiliki hak untuk me-recall atau mengganti anggota DPR RI yang dianggap mbalelo dari sikap resmi partai.

“Saya berdiri dan menentang keputusan Sidang Istimewa MPR RI memakzulkan Gus Dur,” ujarnya mengenang peristiwa pemakzulan Gus Dur.

Bukan baru kali itu Ariady Achmad mengambil sikap yang terbilang berani.

Di bulan Mei 1998, sebelum Ketua Umum Partai Golkar yang juga Ketua DPR RI, Harmoko, meminta secara resmi agar Presiden Soeharto mengundurkan diri, Ariady Achmad termasuk satu dari 17 anggota Fraksi Golkar yang menandatangani sebuah dokumen yang meminta Soeharto lengser.

Penyusupan Di Kedua Kubu


Ariady Achmad mengatakan, dirinya sependapat dengan Jurubicara Gus Dur, Adhie Massardi, yang menganalogikan Amien Rais dengan tokoh Kebo Ijo dalam kisah kudeta Ken Arok.

Kebo Ijo dituduh sebagai pembunuh penguasa Tumapel, Tunggul Ametung, karena sebelumnya ia memamerkan keris buatan Mpu Gandring ke khalayak ramai.

Padahal keris itu diberikan Mpu Gandring kepada Ken Arok yang ingin menyingkirkan Tunggul Ametung. Setelah berhasil menikamkan keris bertuah itu, Ken Arok berhasil merebut kekuasaan di Tumapel, sementara Kebo Ijo menjadi pesakitan.

Analogi ini disampaikan Adhie Massardi ketika berbicara dalam talk show “20 Tahun Pemakzulan Gus Dur, Siapa Sang Dalang?” yang dipandu ahli hukum tata negara Refly Harun, Kamis malam (22/7).

Di mata Ariady Achmad, terjadi penyusupan yang sistematis baik di kubu lawan politik Gus Dur maupun di kubu pendukung Gus Dur. Kelompok penyusup inilah yang merancang kejatuhan Gus Dur dengan mengacaukan Poros Tengah dan menunggangi PDIP yang ingin berkuasa.

“Mereka menyusup dalam rapat-rapat yang digelar di kediaman tokoh PDIP Arifin Panigoro di Jalan Jenggala, juga menyusup ke ke Istana Negara. Ini pelajaran penting bagi kita semua,” demikian Ariady Achmad.

ARTIKEL LAINNYA