Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Pelonggaran PPKM Kontras Dengan Positivity Rate Yang Masih Tinggi, PEPS: Bermain Data Berarti Sepelekan Nyawa Manusia!

LAPORAN: AHMAD SATRYO
  • Selasa, 27 Juli 2021, 18:56 WIB
Pelonggaran PPKM Kontras Dengan Positivity Rate Yang Masih Tinggi, PEPS: Bermain Data Berarti Sepelekan Nyawa Manusia!
Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan/Net
Keputusan melonggarakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat dengan mengubah nomenklaturnya menjadi PPKM Level 1 hingga Level 4, kontras dengan tingkat keterpaparan virus (positivity rate).

Per Selasa ini, positivity rate orang secara harian masih berada di angka 45,40 persen untuk pemeriksaan dengan metode RT-PCR dan Tes Cepat Molkuler (TCM), serta 9,35 persen dari pemeriksaan Rapid Test Antigen.

Sementara positivity rate spesimen harian untuk pemeriksaan dengan metode RT-PCR dan Tes Cepat Molkuler (TCM) sebesar 41,49 persen, sedangkan dari pemeriksaan Rapid Test Antigen mencapai 19,99 persen.

Catatan yang dibagikan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 ini juga mencatat jumlah orang yang diperksa hari ini sebanyak 180.202 orang, dan jumlah spesimen sebanyak 270.434 sampel.

Dari pemeriksaan itu, didapatkan hasil yang menunjukkan peningkatan kasus positif hari ini sebanyak 45.203 orang, dan kasus sembuh sebanyak 47.128 orang.

Dalam jumpa pers pengumuman perpanjangan PPKM Level 4 pada Minggu (25/7), Presiden Joko Widodo menyatakan pelonggaran dimulai Senin kemarin (26/7) hingga 25 Juli mendatang di sejumlah sektor kegiatan masyarakat.

Menurut Kepala Negara, keputusan tersebut diambil pemerintah dengan mengacu pada data kasus Covid-19 yang ia sebut sudah mengalami tren penurunan pada kasus positif, ketersedian tempat tidur, dan  positivity rate di beberapa Provinsi di Pulau Jawa.

Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan, tidak sependapat dengan Jokowi dan juga keputusan pemerintah melonggarkan PPKM.

Pasalnya, ia juga merangkum data perkembangan kasus Covid-19 dan juga positivity rate sejak tanggal 1 Juli hingga 26 Juli kemarin.

"Jumlah kasus baru harian Covid-19 sangat mudah 'dipengaruhi' atau direkayasa. Oleh karena itu, metode perhitungan harus konsisten, agar bisa diperoleh informasi dan data yang berguna, data yang obyektif dan bertanggung jawab, agar pandemi Covid-19 bisa dikendalikan sebaik-baiknya," ucap Anthony dalam keterangan tertulis yang diposting di laman peps.co.id, Selasa (27/7).

Sebagai contoh, Anthony mengambil data jumlah pemeriksaan pada tanggal 15 Juli yang hasilnya mencatat rekor pertambahan kasus positif Covid-19 yang mencapai 56.757 orang dalam sehari.

Sebagai perbandingan, Anthony mengambil data jumlah pemeriksaan pada tanggal 20 Juli saat hari terakhir PPKM Darurat berakhir. Di mana, saat itu jumlah orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 bertambah sebanyak 38.325 orang.

"Dapat dilihat bahwa jumlah test pada 20 Juli 2021 hanya 114.674 orang. Jauh lebih rendah dari jumlah test 15 Juli 2021 sebanyak 185.321 orang. Sehingga menghasilkan jumlah orang terinfeksi pada 20 Juli 2021 jauh lebih rendah dari 15 Juli 2021," bebernya.

Menurut Anthony, jumlah absolut orang yang dicatat terinfeksi Covid-19 setiap harinya tidak mempunyai arti sama sekali, jika tidak didampingi data lainnya yaitu berupa jumlah orang yang dites.

Dari situ, ia pun sepakat dengan banyak epidemiolog yang menyatakan bahwa angka testing yang menunjukkan tingkat positivity rate Covid-19 di Indonesia merupakan dasar dalam menentukan kebijakan penanganan penyebaran virus di lapangan.

Tetapi ketika melihat dari tingkat penularan di tanggal 15 Juli dan 20 Juli, Anthony memandang positivity rate di Indonesia masih tinggi, yaitu 33,4 persen (20 Juli) banding 30,6 persen (15 Juli).

"Artinya, tingkat penularan Covid-19 masih sangat tinggi. Masyarakat rentan tertular. Karena itu, tidak boleh ada kerumunan. Artinya, PPKM Darurat yang berakhir pada 20 Juli seharusnya diperketat. Begitu juga menjelang akhir PPKM pada 25 Juli 2021, positivity rate masih sangat tinggi 31,2 persen," paparnya.

Dari situ, Anthony membuat simulasi perhitungan tingkat positivty rate dan jumlah kasus positif harian yang didapat dari jumlah orang yang di tes menggunakan metode RT-PCR dan Rapid Test Antigen.

Anthony juga menyebutkan, komposisi jumlah test RT-PCR sangat menentukan tingkat positivity rate dibanding rapid test antigen. Itulah sebabnya mengapa Wakil Presiden Maruf Amin menginstruksikan agar pemeriksaan Covid-19 dengan metode RT-PCR harus lebih diperbanyak atau digiatkan ketimbang antigen, guna mengetahui kondisi sebenarnya penularan virus di lingkungan masyarakat.

"Kalau jumlah test ditentukan sebanyak 200.000 orang, terdiri dari test PCR 120.000 orang (60 persen) dan test antigen 80.000 orang (40 persen), maka jumlah orang terinfeksi menjadi 68.000 orang, Yaitu, 60.000 orang dari test PCR (120.000 x 50 persen) dan 8.000 orang dari test antigen (80.000 orang x 10 persen). Artinya, positivity rate secara total menjadi 34 persen (68.000 orang dari 200.000 orang)," jelas Anthony.

"Tetapi, kalau komposisi jumlah test PCR dan jumlah test antigen dibalik masing-masing menjadi 40 persen untuk PCR dan dan 60 persen untuk antigen, maka jumlah orang terinfeksi dari test PCR menjadi 40.000 (= 40 persen jumlah test x 200.000 orang x 50 persen positivity rate). Sedangkan jumlah orang terinfeksi dari test antigen menjadi 12.000. Sehingga total terinfeksi menjadi 52.000, atau hanya 26 persen," sambungnya.

Penurunan angka positivity rate bukan hanya bisa terjadi karena hal tersebut. Anthony juga menerangkan bahwa dikuranginya jumlah orang yang diperiksa juga dapat menurunkan tingkat keterpaparan virus Covid-19.

"Kalau jumlah test dikurangi menjadi 100.000 orang, maka jumlah orang terinfeksi akan berkurang menjadi setengahnya juga. Yaitu, kalau komposisi PCR dan antigen 60 persen vs 40 persen maka jumlah orang terinfeksi menjadi 34.000. Turun drastis dari 68.000. Sedangkan kalau komposisi test PCR versus antigen menjadi 40 persen vs 60 persen, maka jumlah orang terinfeksi menjadi 26.000," jelasnya.

Dari contoh di atas Anthony menilai betapa mudahnya “memengaruhi” jumlah orang yang terinfeksi Covid-19 secara harian. Yaitu melalui jumlah test dan komposisi test PCR vs antigen.

"Informasi ini bisa menyesatkan. Karena komposisi test antara PCR dan antigen tidak konsisten. Maka, sangat berbahaya kalau penurunan kasus terinfeksi harian diperoleh melalui perubahan test perubahan jumlah test dan perubahan komposisi test. Karena perubahan ini dapat menyembunyikan bahaya sesungguhnya," imbuhnya.

Maka dari itu, Anthony menyatakan bahwa positivity rate dari test PCR harus menjadi pegangan utama dalam menentukan apakah kondisi pandemi membaik atau memburuk. Bukan justru dari jumlah orang terinfeksi, dan bukan dari total positivity rate.

"Bermain dengan data pandemi, berarti bermain dengan nyawa manusia. Karena kesalahan informasi bisa berakibat fatal. Kebijakan yang diambil bisa salah fatal. Yaitu relaksasi lockdown sebelum waktunya. Yang akhirnya bisa membuat kasus terinfeksi melonjak dan tidak terkendali," demikian Anthony.
EDITOR: AHMAD SATRYO

ARTIKEL LAINNYA