Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Heboh Sumbangan Akidi Tio, Lieus Sungkharisma Ingatkan Soal Superiman

LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO
  • Selasa, 03 Agustus 2021, 07:25 WIB
Heboh Sumbangan Akidi Tio, Lieus Sungkharisma Ingatkan Soal Superiman
Koordinator Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (Komrak) Lieus Sungkharisma/Net
Kemunculan  berbagai opini yang menjadikan sumbangan Rp 2 triliun keluarga Akidi Tio itu sebagai bahan untuk menjelek-jelekkan pihak lain, tentu saja tidak sehat bagi kehidupan berbangsa. Semua itu adalah akibat pemerintah tidak tanggap dan abai terhadap aspirasi rakyat.

Begitu kata Koordinator Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (Komtak) Lieus Sungkharisma saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL mengenai sumbangan ahli waris Akidi Tio yang menuai pro dan kontra.

“Kalau saja pemerintah cepat tanggap dan peduli dengan aspirasi rakyat yang ingin ikut serta membantu kesulitan keuangan negara, kejadian seperti yang sekarang dialami keluarga Akidi Tio pasti tidak terjadi,” katanya.

Lieus menyebutkan, niat tulus keluarga Akidi Tio yang ingin membantu kesulitan negara dalam mengatasi pandemic Covid-19, seharusnya kita dukung.

“Tapi karena pemerintah tidak tanggap, niat baik itu justru menjadi bola liar. Niat warga masyarakat untuk membantu negara akhirnya disalahpahami. Besok-besok orang jadi takut untuk memberi sumbangan karena khawatir diolok-olok atau bahkan dibully,” katanya lagi.

Sebenarnya, kata Lieus, ada cara yang lebih elegan untuk mengumpulkan dana masyarakat bagi keperluan membantu keuangan negara. Dan itu sudah pernah dia cetuskan 18 tahun lalu.

Lieus, bersama sejumlah rekannya, pada 19 Agustus 2003 mencetuskan sebuah gagasan yang disebutnya Gerakan Nasional “Superiman” atau Solidaritas Umat Peduli Modal Nasional.

Tapi karena pemerintah abai dengan aspirasi itu, gerakan nasional yang sempat dilaunching di Istana Wakil Presiden Hamzah Haz itu akhirnya kandas dan tak jelas rimbanya sampai sekarang.

Padahal, kata Lieus, waktu itu dia bersama dua rekannya, Yusuf Siregar dan Bambang Sungkono, masing-masing sudah memberikan sumbangan sebesar Rp 100 juta untuk rekening Superiman.

“Belum lagi sumbangan dari sejumlah pengusaha lain seperti Tong Djoe yang waktu itu hadir di Istana Wapres saat launching bersama Direktur Utama BRI, Rudjito,” katanya lagi.

Menurut Lieus lagi, kalau saja Gerakan Nasional Superiman itu berjalan mulus, pemerintah tak perlu berutang ke luar negeri. Bayangkan saja, bila ada 10 juta orang pengusaha dan masing-masing menyumbang Rp 10 juta saja, dana yang sudah terkumpul sudah mencapai Rp 100 triliun.

“Ini tentu saja sangat besar bagi pemerintah untuk menjalankan pembangunan,” katanya.

Namun yang terjadi tak sesuai harapannya. Gerakan Nasional Superiman yang digagasnya itu kandas di tengah jalan karena terlalu banyak isu politik yang kemudian menyertainya. Karena itulah Lieus, seiring mencuatnya kontroversi atas sumbangan Akidi Tio itu, menyatakan niatnya untuk melakukan audiensi ke Wakil Presiden Ma’ruf Amin terkait Gerakan Nasional Superiman yang pernah digagasnya dulu.

“Kita ingin meminta kejelasan tentang kelanjutan gerakan nasional itu dan nasib rekening Superiman Nomor 17081945 yang sempat dibuka di Bank Rakyat Indonesia (BRI) guna menampung sumbangan masyarakat,” ujar Lieus.

Ditegaskan Lieus, pihaknya tidak mempersoalkan nasib sejumlah dana yang ada sudah disetorkan ke rekening itu, tapi lebih pada mendorong pemerintah untuk lebih tanggap dan peduli dengan aspirasi masyarakat yang ingin membantu negara.

“Saya ingin mendorong pemerintah untuk membuat Perpu terkait sumbangan masyarakat ini sehingga ada payung hukum bagi warga negara yang ingin memberi sumbangannya pada negara. Kalau Perpu itu ada, maka rumors dan isu seperti yang kini dialami keluarga Akidi Tio pasti tidak akan ada,” katanya.

ARTIKEL LAINNYA