Asean Korea Coopertion Onwards
ASEAN-KOREA Cooperation Upgrade
Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Cacat Hukum, Koalisi Save BPK minta Nyoman Adhi Tak Disahkan jadi Anggota

LAPORAN: RAIZA ANDINI
  • Senin, 20 September 2021, 21:20 WIB
Cacat Hukum, Koalisi Save BPK minta Nyoman Adhi Tak Disahkan jadi Anggota
Mantan Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Manado, Nyoman Adhi Suryadnyana saat mengikuti uji kepatutan dan kelayakan di DPR RI/Net
Keterpilihan Nyoman Adhi Suryadnyana oleh Komisi XI DPR sebagai Anggota BPK mendapat sorotan tajam dari masyarakat. Hal tersebut lantaran proses pemilihannya tidak sesuai dengan ketentuan undang-undang atau cacat hukum.

Atas proses seleksi yang bermasalah itu, berbagai kelompok masyarakat sipil mendatangi Gedung DPR/MPR untuk mengajukan keberatan kepada Pimpinan DPR. Mereka mendesak agar Pimpinan DPR tidak mengesahkan Nyoman Adhi Suryadnyana karena tidak memenuhi persyaratan formil berdasarkan UU BPK.

Karena Nyoman diduga kuat melanggar syarat sebagai calon anggota BPK sebagaimana tertuang dalam pasal 13 huruf J UU 15/2006 tentang BPK RI.

Keberatan tersebut diajukan oleh Koalisi Save BPK, Koalisi Mahasiswa Indonesia (KAMI), Pusat Kajian Keuangan Negara, Jaringan Informasi Rakyat, serta Gerakan Pemuda Pembaharu Bangsa. Mereka menuntut Sidang Paripurna DPR untuk tidak mengesahkan keterpilihan Nyoman Adhi Suryadnyana sebagai Anggota BPK terpilih.

“Ini merupakan bentuk konsistensi perjuangan selama ini yang menginginkan pemilihan pejabat tinggi negara sekelas Anggota BPK RI dilaksanakan dengan bermartabat sesuai dengan undang-undang. Sekian lama kami mengingatkan Komisi XI DPR tetapi tidak digubris,” jelas Tim Koalisi Save BPK, Prasetyo kepada wartawan, Senin (20/9).

Sebelumnya, Ketua PB PMII Bidang Polhukam Daud Gerung menyoroti bahwa hasil seleksi Anggota BPK yang dilakukan Komisi XI DPR merupakan produk cacat hukum. “Publik sudah semakin aware terhadap issue kecurangan ini. Bagaimana bisa Komisi XI DPR memilih calon yang cacat formal? Ini preseden paling buruk sepanjang pemilihan Anggota BPK,” tekannya.

Atas perbuatan “mengakali” UU BPK tersebut, Daud Gerung menyerukan mosi tidak percaya kepada Komisi XI DPR atas hasil seleksi Anggota BPK RI. “Pimpinan DPR harus jeli melihat persoalan pelanggaran konstitusi ini. Karena itu kami minta Paripurna DPR jangan menetapkan Anggota BPK terpilih karena jika ditetapkan semua pimpinan DPR sama saja mengamini pelanggaran ketentuan,” sambung Daud.

Senada dengan itu, Koordinator Koalisi Mahasiswa Indonesia Abraham menekankan bahwa pelanggaran konstitusi dalam pemilihan Anggota BPK kali ini merupakan persoalan serius yang harus dikawal sampai tuntas. “Kami sedang melakukan konsolidasi mahasiswa untuk terus mengawal persoalan ini. Kami juga mencium aroma tidak sedap, yaitu adanya indikasi seperti kasus Miranda Goeltom (Miranda Gate), dalam pemilihan Anggota BPK ini,” tandas Abraham.

Di sisi lain, mereka mengkritisi bahwa jika Nyoman Adhi Suryadnyana benar-benar ditetapkan menjadi Anggota BPK, maka “benturan kepentingan” yang menjadi esensi UU BPK bakal benar-benar terjadi. “Pak Nyoman ini masih anak buah bu Sri Mulyani, apa mungkin dia berani secara independen melakukan audit? Justru kami menduga akan “disetir” oleh Kementerian Keuangan. Ini berbahaya buat BPK selaku lembaga tinggi yang bebas dan mandiri,” tutup Abraham.


EDITOR: IDHAM ANHARI

ARTIKEL LAINNYA