Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Tim Bulutangkis Indonesia Batal Ikuti Kejuaraan Dunia, Hensat: Komisi Antidoping Harus Tanggung Jawab!

LAPORAN: RAIZA ANDINI
  • Rabu, 08 Desember 2021, 17:05 WIB
Tim Bulutangkis Indonesia Batal Ikuti Kejuaraan Dunia, Hensat: Komisi Antidoping Harus Tanggung Jawab!
Hendri Satrio/Net
Indonesia dipastikan batal mengirimkan atlet bulutangkisnya ke ajang BWF World Championship 2021 atau Kejuaraan Dunia 2021 yang berlangsung pertengahan bulan ini. Hal ini menyebabkan kekecewaan dari banyak penggemar badminton di tanah air.

Kekecewaan juga dirasakan pengamat politik Hendri Satrio. Ia kecewa PBSI batal mengirimkan atlet ke Kejuaraan Dunia di Spanyol lantaran khawatir varian corona baru Omicron bakal menjangkiti para atlet yang dikirim ke ajang tersebut.

Menurut Hensat, pihak yang paling bertanggung jawab atas gagalnya Indonesia tampil di Kejuaraan Dunia 2021 adalah Komisi Antidoping Indonesia.

"Yang harusnya bertanggung jawab kan Komisi Antidoping Indonesia itu lho. Maksud saya, ini berlarut-larut banget dan akhirnya membuat polemik ke mana-mana. Yang tentang bonus buat Piala Thomas lah, tim Indonesia mundur dari Piala Dunia Bulutangkis di Spanyol lah. Ya okelah alasannya takut sama Omicron, covid yang baru itu, tapi menurut saya pasti ada penurunan motivasi lah,” tegas Hensat kepada Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (8/12).

Ditambahkan Hensat, atlet yang bertanding di Kejuaraan Dunia itu lebih membanggakan dibandingkan dengan berkibarnya bendera PBSI.

"Yang pertama mereka bertarung untuk Indonesia itu lebih membanggakan dibandingkan dengan bendera PBSI,” ucapnya.

Selain itu, Hensat juga kecewa dengan pihak-pihak yang menyerang Jonathan Christie setelah mengkritik bonus yang diterima atlet.

"Kemudian polemik masalah bonus dan buzzer yang menghajar Jojo itu kan enggak banget. Itu norak betul. Baru terjadi di pemerintahan ini,” tegasnya lagi.

"Harusnya sih segera bertindak ya, ini kan cuma menunjuk doang gitu kan terus udah enggak ada update apa-apa. Orang disuruh prestasi, berjuang segala macem, tapi penghargaaan yang paling minim saja tidak diberikan, kan aneh itu,” tutupnya.
EDITOR: AGUS DWI

ARTIKEL LAINNYA