Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

MUKTAMAR NU

Mengenal Sembilan AHWA Hasil Muktamar ke-34 NU

LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN
  • Kamis, 23 Desember 2021, 22:50 WIB
Mengenal Sembilan AHWA Hasil Muktamar ke-34 NU
Anggota AHWA keputusan Muktamar ke 34 Nahdlatul Ulama/RMOL
Para muktamirin telah memilih sembilan kiai untuk menempati sembilan kursi Ahlu Halli Wal Aqdi (AHWA) selama gelaran Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU).

Bertempat di Gedung Serba Guna (GSG) Universitas Lampung pada Kamis malam (23/12), sembilan AHWA yang ditetapkan adalah KH Dimyati Rois, KH Ahmad Mustofa Bisri, KH Maruf Amin, KH Anwar Mansur, KH Tuan Guru Turmudzi, KH Miftachul Akhyar, KH Nurul Huda, KH Ali Akbar Marbun, dan KH Zainal Abidin.

Muktamirin sendiri terdiri dari perwakilan Pengurus Wilayah NU (PWNU), Pengurus Cabang NU (PCNU), dan Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU).

Berikut ini profil singkat Kiai Khos yang dipilih Muktamirin sebagai AHWA:

1. KH Dimyati Rois (503 suara)

Memperoleh 503 suara Muktamirin, Abah Dim kerap ia disapa, merupakan pengasuh Pondok Pesantren APIK Kaliwungu di Kendal, Jawa Tengah.

Ia lahir di Tegal Glagah Bulakamba, Brebes, Jawa Tengah pada 5 Juni 1945. Abah Dim adalah putra kelima dari sepuluh bersaudara yang lahir dari pasangan KH Rois dan Nyai Djusmiah.

Setelah selesai pendidikan formal, ia melanjutkan pendidikannya dengan belajar di Pondok Pesantren APIK yang diasuh oleh KH Ahmad Ru’yat pada 1956.

Meski tidak lama Mbah Dim juga pernah nyantri ke Mbah Mahrus Aly di Ponpes Lirboyo, Kediri. Mbah yang juga Ketua Dewan Syuro PKB itu juga pernah nyantri ke Mbah Imam, Pondok Pesantren Sarang, Rembang, jawa Tengah selama 5 tahun.

2. KH Ahmad Mustofa Bisri (494 suara)

Gus Mus merupakan sapaan dari kiai yang mengantongi 494 suara ini. Ia lahir di Rembang, 10 Agustus 1944 dari Nyai Marafah Cholil dan KH Bisri Mustofa, sang pengarang Kitab Tafsir Al Ibriz li Ma’rifah.

Kakek Gus Mus merupakan KH Zaenal Mustofa, seorang saudagar ternama yang dikenal sangat menyayangi ulama. Ia adalah alumnus dan penerima beasiswa dari Universitas Al Azhar Cairo (Mesir, 1964-1970) untuk studi islam dan bahasa arab ini, sebelumnya ia menempuh pendidikan di SR 6 tahun (Rembang, 1950-1956), Pesantren Lirboyo (Kediri, 1956-1958), Pesantren Krapyak (Yogyakarta, 1958-1962), Pesantren Taman Pelajar Islam (Rembang, 1962-1964).

Pada tahun 1955, Gus Mus bersama keluarganya mendirikan Taman Pelajar Islam (Roudlotut Tholibin). Pondok pesantren tersebut kini diasuh oleh Gus Mus.

3.KH Maruf Amin (458 suara)

Dengan 458 suara, Wakil Presiden Maruf Amin masuk dalam jajaran AHWA. Ia lahir di Kresek, Tangerang pada 11 Maret 1943. Ia merupakan Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara, Serang, Banten. Ayahnya, Mohamad Amin.

Sebelum masuk pesantren, Ma'ruf Amin sempat menempuh pendidikan dasarnya di sekolah rakyat di Kecamatan Kresek. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di pesantren berpengaruh yang didirikan oleh pendiri NU, Hasyim Asy'ari Ponpes Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur.

Ma'ruf Amin kemudian meraih gelar sarjana di bidang Filsafat Islam dari Universitas Ibnu Khaldun di Bogor, Jawa Barat. Sebelum menjabat sebagai wakil presiden RI, Ma'ruf Amin memiliki pengalaman legislatif sejak 1971 hingga 1999. Ia juga tercatat pernah menjabat Rais Aam PBNU dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI).

4.KH Anwar Manshur (408 suara)

Mbah War, kerap ia disapa, mendapatkan 408 suara dari Muktamirin. Ia lahir di lingkungan Pondok Pesantren Lirboyo. Ia adalah putra dari pasangan KH Manshur Jombang dengan Nyai Salamah.

Riwayat pendidikan KH Anwar Manshur dimulai dengan menimba ilmu di Pondok Pesantren Pacul Gowang Jombang. Lalu ia menimba ilmu di Pondok Pesantren Tebuireng sampai tingkat tsanawiyah dan untuk selanjutnya meneruskan pendidikannya ke Pesantren Lirboyo, Kediri.

Saat ini Mbah War juga menjabat sebagai Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur.

5. Tuan Guru Turmudzi Badaruddin (403 suara)

Tuan Guru Bagu atau Tuan Guru Haji (TGH) Turmudzi Badaruddin lahir pada Rabu, 1 April 1936 di Bagu. Ulama berusia 85 tahun itu merupakan putra dari pasangan Tuan Guru Haji Raden Badaruddin dengan Hj. Aminah binti Haji Ridwan.

Tuan Guru Turmudzi berguru pada seorang tuan guru legendaris di Pulau Lombok, yakni Tuan Guru Shaleh Hambali Bengkel, pendiri Ponpes Darul Qur’an. Di sana, Turmuzi Badaruddin muda menimba ilmu selama 14 tahun sejak 1944-1958. Saat ini ia menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Qomarul Huda Bagu, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

6. KH Miftachul Akhyar (395 suara)

KH Miftachul Akhyar merupakan putra kesembilan dari tiga belas bersaudara yang lahir pada tahun 1953. Ayahnya adalah KH Abdul Ghoni, seorang pengasuh Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah.

Pria yangs saat ini menjabat Ketua Umum MUI ini pernah nyantri di Ponpes Tambak Beras, Jimbang, Ponpes Sidogiri, Pasuruan, Ponpes Al Anwra, Sarang, rembang dan pernah mengikuti Majelis ta'lim Sayyid Muhammad bin Alawi di Malang, saat mengajar di Indonesia.

KH Miftachul Akhyar adalah pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya, ibukota Jawa Timur dengan penduduk yang mayoritas Nahdliyin.

7. KH Nurul Huda Jazuli (385 suara)

KH Nurul Huda Jazuli merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri. KH Ahmad Djazuli Utsman dan Nyai Hj Rodliyah Djazuli. Ia kerapkali berpesan bahwa Nahdlatul Ulama merupakan pesantren besar sehingga tidak ada alasan bagi para santri untuk tidak menjaga dan mengurus NU.

8. KH Ali Akbar Marbun (309 suara)

KH Ali Akbar Marbun lahir di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Ia adalah anak ke-7 dari 8 bersaudara dari Buyung Marbun dan Hj. Chadijah br. Nainggolan.

9. KH Zainal Abidin (272 suara)

KH Zainal Abidin merupakan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah. Ia juga menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu. KH Zainal Abidin menjadi guru besar (profesor) dan Rektor pertama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu.
EDITOR:

ARTIKEL LAINNYA