Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Sekjen PDIP: Daripada Impor, Banyak Sumber Pangan Dari Alam Sekitar

LAPORAN: FAISAL ARISTAMA
  • Jumat, 07 Januari 2022, 21:54 WIB
Sekjen PDIP: Daripada Impor, Banyak Sumber Pangan Dari Alam Sekitar
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto/RMOL
Bangsa Indonesia sebagai negara kaya sumber daya alam tidak harus terpaku pada beras sebagai konsumsi utama. Tetapi, masih ada talas, pisang, sukun, sagu, dan lain-lain yang bisa diolah sebagai sumber nutrisi.

Begitu dikatakan Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto dalam acara Festival Kuliner Pendamping Beras di halaman depan Gedung Sekolah Partai, di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Jumat (7/1).

Acara ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan HUT ke-49 PDIP yang puncaknya pada 10 Januari 2022 nanti.

Dikatakan Hasto, acara tersebut sengaja digelar untuk menyadarkan betapa kayanya Indonesia dan bangsa ini bisa hidup tanpa perlu bergantung pada impor.

"Yang didorong adalah semangat untuk berdiri di atas kaki sendiri di bidang pangan, untuk kita lebih percaya kepada sumber pangan yang bisa didapatkan dari lingkungan sekitar kita, daripada pangan impor," ujar Hasto.

Kata Hasto, PDIP juga mendorong supaya masyarakat sadar ada bahan pendamping beras yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Sehingga, masyarakat bisa memanfaatkannya untuk dikomersialkan. Apalagi di tengah pandemi, hal ini menjadi potensi bagi masyarakat dari sisi nilai ekonominya.

"Dengan makan pendamping beras ini kita punya banyak alternatif memenuhi kebutuhan karbohidrat. Ada porang, sagu, talas, ada umbi-umbian, jagung, pisang, bahkan lebih dari 10 makanan pendamping beras itu. Dan semua ini bisa ditanam di dalam negeri," terangnya.

Lebih jauh, Hasto juga mengatakan, pihaknya akan mendorong Pemerintah melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memperbanyak riset-riset pangan untuk memperkuat kedaulatan pangan.

Sebab bagi PDIP, kedaulatan pangan berbeda dengan ketahanan pangan. PDIP lebih memilih kedaulatan pangan, yang berarti Indonesia harus bisa memproduksi sendiri bahan pangan, tak melulu impor.

"Dan itu harus didukung oleh riset yang banyak dan kuat," demikian Hasto.